
"Nenek tau siapa itu Nathan?" tanya Roky kepada nek Saidah.
"Nenek juga tidak tau karna nenek tidak hadir di acara pernikahan nya dulu" jawab nek Saidah akan pertanyaan cucu nya itu. Roky terdiam dan menatap nenek nya yang sedang memasak itu, Dia mendudukkan tubuh nya di atas kursi yang ada di dapur itu dan mencoba berpikir tentang ekspresi Ara tadi.
"Ah kenapa aku jadi memikirkan nya, Terserah dia saja" guman Roky yang malas memikirkan kehidupan Ara.
"Nak turunlah, Ayo kita makan" teriak nek Saidah dari bawah.
"Iya nek" jawab Ara dari atas dan meninggalkan kamar nya dan turun dari atas menuju ke bawah dan lebih tepat nya langsung ke dapur. Sesampai di bawah Ara mendudukkan tubuh nya di hadapan Roky, Roky menatap wanita itu seperti orang tidak memiliki masalah hidup, Ara hanya tersenyum menatap Roky begitupun dengan nek Saidah.
"Makan lah" ucap nek Saidah mempersilahkan Ara untuk makan, Ara mengangguk mengiyakan nya dengan senyum yang melebar dan setelah itu dia langsung membalikkan piring nya, Ara melihat makanan apa saja yang di buat oleh nek Saidah dan makanan itu tidak menarik di mata nya. Roky dan nek Saidah sudah mulai menyantap makanan sedangkan Ara masih belum memasukkan satu makanan pun ke dalam piring nya itu.
"Kenapa belum makan nak? ini nenek memasakkan makanan kesukaan mu" ucap nek Saidah kepada Ara dan itu membuat Roky menoleh ke arah nya.
"Tidak ada makanan lain nek?" tanya Ara sedikit ragu kepada nek Saidah, nek Saidah menatap bingung ke arah Ara tapi dia mengerti akan Ara yang sedang hamil makanya banyak pilih pilih makanan meskipun dia memang tidak pernah makan memilih.
"Kau ingin makan apa memang nya nak?" tanya nek Saidah kepada Ara.
"Makanan pedas" jawab Ara dengan melebarkan senyuman nya.
"Hah? kau kan tidak bisa makan pedas nak" ucap nek Saidah yang tau betul jika Ara tidak menyukai pedas dan tidak bisa makan pedas. Ara menundukkan kepala nya karna merasa tidak enak akan nek Saidah dan Roky bisa melihat wajah kecewa wanita itu.
"Kau ingin makan apa?" tanya Roky kepada Ara, Ara mengangkat kepala nya dan melihat ke arah Roky.
"Kenapa hanya diam?" tanya Roky lagi kepada Ara karna dia tidak mendapatkan jawaban dari Ara.
"Aku ingin makan pedas" jawab Ara sedikit ragu akan pertanyaan Roky.
"Ayolah ikut aku" ajak Roky kepada Ara, Ara menatap lekat ke arah Roky karna dia tidak yakin ingin mengikuti Roky karna bau parfum Roky.
"Aku akan mengganti pakaian ku" ucap Roky dan langsung berlalu masuk ke dalam kamar mya dan mengganti pakaian nya.
"Ayo" ajak Roky kepada Ara, Ara tersenyum melihat Roky yang ingin mengikuti perkataan nya dan beranjak berdiri dari duduk nya.
"Kami keluar sebentar mencari makan nek" pamit Roky dan bersalaman kepada nek Saidah.
"Ara keluar dulu nek" pamit Ara dan bersalaman dengan nek Saidah, nek Saidah mengangguk mengiyakan nya dan mereka berdua pun keluar dari rumah itu, Roky berjalan menuju motor yang terparkir di depan rumah itu dan Ara bisa melihat nya.
"Kita jalan kaki saja mencari makan" ucap Ara kepada Roky, Roky menoleh ke arah nya dengan dahi yang mengerut.
"Memang nya kau kuat berjalan kaki?" tanya Roky dengan menatap lekat Ara.
"Hem" jawab Ara mengangguk mengiakan nya dengan senyum yang melebar.
"Yasudah jika kau kuat, Ayo" ajak Roky yang juga lebih suka berjalan kaki apa lagi di perkampungan nya itu sangat damai dan sejuk saat berjalan kaki sekaligus untuk menikmati pemandangan hijau di sana.
"Kau kenapa meninggalkan rumah mu? dan ke sini?" tanya Roky di sela sela jalan kaki nya dan juga Ara.
"Tidak kenapa kenapa" jawab Ara dengan senyum yang melebar menatap Roky.
"Wanita ini susah sekali untuk bercerita" guman Roky yang sangat penasaran kenapa Ara bisa ke kampung nya dan meninggalkan rumah. Beberapa menit mereka menempuh jalan akhirnya mereka sampai di warung makanan yang tidak jauh dari rumah nek Saidah.
"Bu makanan pedas satu" ucap Roky dan mendudukkan tubuh nya di atas kursi yang ada di sana, Penjual itu mengiyakan nya dan langsung membuat pesanan untuk Ara.
__ADS_1
"Duduklah" ucap Roky mempersilahkan Ara untuk duduk, Ara mengiyakan nya dan mendudukkan tubuh nya di samping Roky, Ara melihat lihat makanan yang terpajang di dalam tempat nya dan di lindungi oleh kaca bening.
"Ini seperti nya enak, Makanan apa ini?" tanya Ara saat melihat kentang goreng yang di lumuri banyak nya sambal.
"Itu kentang goreng, Kau mau?" tanya Roky kepada Ara, Ara menoleh ke arah nya dan dengan segera mengangguk mengiyakan nya.
"Kentang nya juga di bungkus satu buk" ucap Roky lagi, Penjual tadi kembali mengiyakan nya dan menyiapkan kentang goreng yang di lumuri oleh sambal itu.
"Ini" ucap penjual tadi dengan menyodorkan dua kotak yang sudah di balut oleh kresek bening kepada Roky,Roky menerima nya dan membayar pas uang makanan itu.
"Ayo" ajak Roky kepada Ara, Ara mengiyakan nya dan beranjak berdiri dan mengikuti Roky.
"Berapa harga makanan ini?" tanya Ara dengan menatap lekat Roky yang sedang berada di samping nya.
"Cuma dua puluh ribu" jawab Roky datar akan pertanyaan Ara. Ara mengambil uang nya yang ada di dalam saku celana nya lebih semalam.
"Ini" ucap Ara menyodorkan selembar uang seratus ribu kepada Roky.
Roky menoleh ke arah uang yang di sodorkan Ara kepada nya. "Untuk apa?" tanya Roky kepada Ara dengan menatap lekat Ara.
"Memabayar makanan itu" jawab Ara dengan menunjuk ke arah makanan yang di bawakan oleh Roky.
"Tidak usah, Aku tidak semiskin itu" ucap Roky dan memundurkan tangan Ara yang menyodorkan uang kepada nya itu.
"Baiklah" jawab Ara yang memang tidak pernah memaksa orang, Beberapa menit mereka berjalan akhirnya mereka sampai di rumah, Ara dan Roky masuk ke dalam rumah dan kembali menuju ke dapur dan mendudukkan tubuh mereka di sana.
"Sudah selesai membeli makanan nya?" tanya nek Saidah kepada Ara dan juga Roky. Ara mengangguk mengiyakan nya dengan senyum yang melebar sedangkan Roky tidak.
"Nenek tidak ikut makan?" tanya Ara karna melihat nek Saidah sedang mengangkat barang seperti mangkuk mangkuk besar.
"Nenek sudah tadi makan saat kalian keluar, Makanlah dengan kenyang nenek akan ke depan bersiap siap jualan" ucap nek Saidah kepada Ara. Ara mengangguk mengerti dan melahap makanan yang ai beli tadi dan dia tidak makan makanan pilihan Roky melainkan dia memakan makanan yang ia pilih sendiri.
"Mau?" tanya Ara kepada Roky.
"Makanlah sendiri" jawab Roky dan kembali melahap makanan nya.
Di rumah Nathan.
Nathan kembali menghempas tubuh nya ke atas ranjang yang ada di dalam kamar nya itu dengan pakaian lengkap, Nathan mengambil ponsel nya yang ada di samping tempat tidur nya itu dan langsung menghubungi telpon rumah. "Bawakan makanan ke atas untukku" perintah Nathan kepada orang yang mengangkat itu.
"Baik tuan" jawab salah satu pelayan rumah yang mengangkat telpon itu. Nathan melemparkan ponsel nya ke samping diri nya tepat di sebelah tempat tidur nya.
"Sayang kau di mana? apa kau sudah makan pagi dan siang tadi?" tanya Nathan dengan menatap lekat poto sang istri yang ada di sebelah nya itu.
Tok...tok...tok
Ketuk bi Imah dari luar. "Masuk" perintah Nathan kepada bi Imah, Bi Imah masuk ke dalam kamar Nathan itu.
"Letakkan di atas meja di sana" perintah Nathan lagi kepada bi Imah. bi Imah mengiyakan nya dan meletakkan makanan itu ke atas meja di dekat televisi di dalam kamar itu dan setelah itu beranjak keluar dari kamar Nathan. Nathan berjalan saat mendengar suara pintu sudah kembali tertutup dan dia menuju ke arah televisi.
Nathan mendudukkan tubuh nya di salah satu kursi sofa yang ada di sana dan mengambil makanan karna dia kelaparan karna sedari kemarin belum makan. "Apa istriku makan enak sama seperti ku?" ucap Nathan saat ingin melahap makanan nya dan kembali teringat akan sang istri.
Nathan langsung berdiri dan mengambil ponsel nya yang ada di atas ranjang dan setelah itu kembali lagi ke depan televisi. Nathan langsung membuka ponsel nya dan mengirimkan pesan kepada sang istri.
__ADS_1
"*Sayang apa kau sudah makan?"
"Jika belum makan lah dengan banyak jangan biarkan perut mu menjadi tambah rata"
"Jika kau memang marah kepadaku marahlah tapi kau jangan sampai tidak makan karna aku"
"Pulanglah ke rumah, Aku menunggumu pulang ke sini"
"Aku akan membuktikan kepadamu jika itu bukan anak ku, dan aku juga mengikuti perkataan mu untuk bertanggung jawab meskipun aku belum tau itu anak siapa tapi aku akan menjaga nya nanti jika pun dia bukan anakku"
"Tapi aku tidak bisa menikahi Delina karna kau tidak akan tergantikan oleh siapapun, Kau mengerti!"
"Kembalilah sayang"
"Aku makan terlebih dahulu, Ingat kau tidak boleh tidak makan"
"You send a photo*"
Isi pesan yang di kirimkan oleh Nathan kepada istri tercinta nya itu dan dia juga mengirim makanan yang ia makan malam ini kepada sang istri meskipun belum masuk ke istri nya itu, Nathan langsung melahap makanan nya dengan lahap akibat sangat kelaparan karna belum makan dari kemarin.
Nathan sudah selesai makan dan dia langsung menyalakan televisi yang ada di dalam kamar nya itu tapi tidak ada apa apa di dalam televisi itu. Nathan memilih untuk membuka ponsel nya dan kembali melihat pesan nya belum masuk ke ponsel istri nya itu. "Kau di mana sayang?" guman Nathan dengan menatap lookscreen ponsel nya itu.
"Aku mohon kembalilah, Aku tidak ingin kehilanganmu" ucap Nathan lagi dan mengusap lembut layar ponsel nya itu yang berisi poto sang istri tercinta.
"Duduk dan makanlah" ucap Nita datar kepada Delina yang baru keluar dari kamar nya, Delina menatap sekitar dan dia tidak menemukan Nathan di sana.
"Di mana Nathan tante?" tanya Delina kepada Nita.
"Dia di atas di kamar nya" jawab Nita datar sedangkan Amel menatap tak suka ke arah Delina. Delina mengangguk mengerti dan langsung mengambil makanan yang ada di sana dan untung nya dia tidak pernah mengidam dalam hamil nya itu.
Delina makan dengan lahap karna dia tidak makan dari siang karna menunggu Nathan pulang. Semua orang yang sudah makan meninggalkan meja makan dan tinggallah Delina dan juga Nita yang tidak tega untuk meninggalkan Delina sendiri. "Istirahatlah di dalam kamar mu" ucap Nita kepada Delina, Delina mengangguk mengiyakan nya dan beranjak dari sana masuk ke dalam kamar nya.
Nita yang sudah melihat Delina berlalu pun menaiki anak tangga dan menuju ke kamar anak nya. "Nathan" panggil Nita dengan mengetuk pintu kamar Nathan. Nathan tidak menjawab dan mengalihkan tubuh nya ke samping dan memeluk poto sang istri yang ada di dalam bingkai poto. nita yang tidak mendapatkan jawaban dari Nathan pun masuk ke dalam kamar Nathan dan melihat anak nya sedang menatap ke televisi.
"Nak" ucap Nita dan mendudukkan tubuh nya di samping Nathan, Nathan tidak menjawab ataupun menoleh ke arah ibu nya itu dan memilih untuk diam dengan memeluk poto sang istri.
"Kenapa kau ingin bertanggung jawab dengan anak Delina?" tanya Nita kepada Nathan.
"Ara yang menyuruh ku untuk bertanggung jawab" jawab Nathan akan pertanyaan ibu nya itu.
"Tapi itu belum tentu anak mu nak" ucap Nita lagi.
"Ara bilang mau itu anakku atau bukan aku harus menjaga nya karna Delina juga memiliki bukti" jawab Nathan yang selalu teringat akan ucapan sang istri.
"Bagaimana jika kita melakukan tes DNA terhadap anak itu?" tanya Nita yang mencoba memberi saran kepada Nathan.
"Itu akan membahayakan anak itu dan Ara akan marah jika anak itu kenapa kenapa gara gara aku melakukan tes DNA" jelas Nathan yang tidak mau nanti sang istri marah kepada nya meskipun dia tidak tau sang istri sedang berada di mana saat ini.
"Dia sangat mencintai Ara, Susah untukku melakukan tes DNA jika dia tidak setuju" guman Nita yang juga tidak bisa memaksa anak nya itu karna takut akan berdampak kepada pikiran anak nya itu.
"Bunda di mana istriku?" tanya Nathan dengan menatap lekat ibu nya itu. Nita menatap wajah anak nya yang nampak sangat kehilangan dan sedih akan kepergian Ara yang tidak tau kemana.
"Dia akan kembali kan bunda?" tanya Nathan lagi dengan menatap lekat ibu nya itu dengan wajah kecewa dan kehilangan atas istri kecil nya itu.
__ADS_1