
Setelah berfikir lama dan ara juga sudah terlelap nathan memutuskan untuk membawa ara ke rumahnya dan dia juga sudah memikirkan konsekuensinya dan dia rela kena marah oleh ornag tuanya dari pada membiarkan ara berkeliaran di jalanan.
Hiksss....hiksss
Ara kembali menangis di dalam tidurnya itu membuat nathan menoleh ke arahnya. "Dia tidur? apa masih ada pengaruh alkohol?" tanya nathan heran menatap ke arah ara.
"Orang tua ara mana?" tanya ara dengan air mata yang berlinang keluar tapi matanya masih terpejam.
"Dia terpukul banget waktu denger kalo om teo sama tante windi bukan orang tuanya" ucap nathan menatap ke arahnya dan menghentikan mobilnya di tepi jalan.
"Orang tua ara mana...hikss..hiksss" ucap ara lagi dan kembali terisak dalam tidurnya.
Nathan menatap iba ke arah ara karna dia juga mengerti akan perasaan ara meskipun itu tidak terjadi kepadanya.
"Jangan nangis lagi" ucap nathan dan memeluk tubuh ara.
"Ara gak punya orang tua" ucap ara lagi dengan mata masih terpejam karna memang jika dia mengigau dan ada yang merespon ataupun bertanya kepadanya pasti dia menjawab seperti orang yang sedang terkena hipnotis.
Nathan mengeratkan pelukannya karna dia sangat kasihan saat melihat ara menangis dan berbicara seperti tadi. Ara mulai tenang karna mungkin dia nyaman akan pelukan nathan dan itu membuatnya tidak lagi mengigau dan tidur seperti biasa.
Nathan yang merasa ara sudah tenang dan tidak lagi menangis langsung menyenderkan kembali tubuh ara di senderan mobilnya itu dan dia mengambil beberapa helai tisyu untuk menghapus air mata yang masih ada di wajah cantik ara.
Nathan menatap lekat wajah yang terlihat sembab itu dengan jelas dan tiba tiba dadanya sesak saat melihat wajah ara yang sembab akibat menangis. Dia seperti tidak terima akan pernyataan teo tadi.
Nathan melajukan mobilnya kembali dan menuju ke rumahnya dengan kecepatan sedang.
***
Arfel Erina dan juga Andita baru saja sampai di depan panti karna tadi jalanan cukup oadat dan membuat mereka terlambat untuk datang ke panti.
Erina dan Andita langsung turun dari mobil dia melihat gerbang yang sudah terkunci rapat dan tidak ada siapapun yang nampak berkeluyuran di depan panti itu.
"Apa kita perlu ngebangunin orang yang ada buat nanyain ara?" tanya Andita kepada Erina dan arfel.
__ADS_1
"Jangan nanti anak anak juga ikut bangun" jawab Erina.
"Trus gimana?" tanya Andita lagi.
"Ara mungkin udah di dalem dan mungkin dia udah istirahat....jadi ayo kita pulang aja" ajak Erina kepada arfel dan juga Andita karna dia tidak ingin mengganggu istirahat siapapun dan dia berfikir bisa bertemu dengan ara besok.
"Tapi Er.." ucap arfel yang ingin membantah tapi Andita memotongnya.
"Besokkan kita sekolah jadi kita bisa tau kabarnya ara" potong Andita.
"Yaudah deh" jawab arfel mengalah karna dia tau jika Andita dan erina lah yang lebih mengetahui ara di banding dirinya.
Mereka bertigapun langsung masuk ke dalam mobil. arfel langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang dia mengantarkan Erina dan juga Andita ke rumah masing masing.
Setelah selesai mengantar Erina dan Andita arfel langsung melajukan mobilnya kembali ke rumahnya karna hari juga sudah semakin larut.
***
Setelah itu dia langsung turun dan membuka pintu yang di dekat ara dan setelah itu dia menggendong ara masuk ke dalam rumah dan pintu rumah sudah di bukakan oleh pengawal yang memang menjaga di dekat pintu.
Nathan segera masuk karna ingin mengistirahatkan tubuh ara. "Bi siapin kamar buat ara" teriak nathan kepada semua bibi yang bekerja di rumahnya itu dan teriakannya itu membuat nita andre dan juga Vino langsung keluar dari kamar masing masing karna memang mereka juga baru saja pulang dari acara sheyla.
"Nathan kenapa teriak teriak?" tanya andre dari lantai 2.
"Tau lo nat kayak di hutan aja" ketus Vino karna istirahatnya terganggu.
Nita sangat kaget melihat nathan menggendong seorang wanita dan wanita itu adalah calon menantunya. Nita dengan segera turun menghampiri nathan dan diikuti oleh andre sedangkan Vino masih mematung di lantai 3.
"Ya allah ara dia kenapa?" tanya nita panik saat baru saja sampai di depan nathan dan langsung menatap ara yang ada di pelukan nathan.
"Den kamarnya sudah siap" jawab salah satu asisten rumah tangga. Nathan tidak menjawab perkataan asisten itu dan dia langsung membawa ara ke ruang tamu yang sudah di siapkan oleh para pelayan tadi.
Nathan langsung membaringkan tubuh mungil ara di atas kasur ruang tamu itu. Dia menatap lekat wajah ara sambil duduk di samping ara.
__ADS_1
Nita sangat hawatir akan keadaan ara yang tidak menggunakan alas kaki dan rambu yang acak acakan. "Nak ara kenapa?" tanya nita hawatir begitupun dengan andre.
"Dia mabuk bun" jawab nathan santai dengan tatapan masih ke arah ara.
"Kenapa dia bisa mabuk? ada masalah apa dia?" tanya andre kepada nathan.
"Masalah pribadinya dia kayaknya yah" jawab nathan dan ingin berlalu meninggalkan kamar yang di tempati ara tapi ara menarik tangannya.
"Papa jangan tinggalin ara" ucap ara sambil memegang erat tangan nathan dan itu membuat nita dan andre kaget sedangkan Vino biasa saja.
"Hiksss....hiksss...jangan tinggalin ara" ucap ara yang kembali terisak.
Nathan kembali mendudukkan tubuhnya di samping ara. Dia menatap lekat wajah yang masih terlihat sembab itu. Dia mengelus lembut kepala ara karna menurutnya itu bisa membuat ara kembali tenang.
Vino sangat terkejut melihat nathan yang sangat lembut kepada ara karna memang seorang jonathan Adijaya tidak mudah menyentuh wanita apa lagi membelai kepala wanita.
Sedangkan nita dan juga andre manatap senang melihat nathan yang sangat peduli dan lembut kepada ara dan itu membuat pendirian mereka berdua semakin kuat untuk menjodohkan nathan dan juga ara.
Ara sudah tenang dan tangannya sudah kembali melemas karna dia sudah kembali terlelap dan tidak lagi menggenggam erat tangan nathan. Nathan yang menyadari itu langsung melepaskan tangannya dari ara dan kembali berdiri dan dia hendak menuju ke kamarnya tapi nita menghalanginya.
"Kenapa bunda?" tanya nathan kepada nita yang menghalanginya.
"Ara kenapa bisa gitu?" tanya nita kepada nathan.
"Besok aja nathan cerita....nathan capek banget bun" jawab nathan dengan wajah memelas berharap bunda nya itu mengerti.
"Beneran ya besok ceritain sama bunda" ucap nita dengan nada mengancam kepada nathan.
"Iya bunda sayang" jawab nathan sambil mencium pipi ibunya itu.
Setelah itu nathan langsung berlalu masuk ke dalam kamarnya. Vino ingin sekali menanyakan tentang kenapa dia bisa bersama dengan ara kepada nathan tapi dia juga sangat lelah dan memilih untuk beristirahat di kamarnya.
Nita masih berada di kamar yang di tempati oleh ara begitupun dengan andre. Mereka berdua menatap lekat wajah calon menantunya yang nampak sangat sembab akibat menangis dan mereka juga mencium bau alkohol yang sangat menyengat yang berasal dari tubuh ara.
__ADS_1