Ara Dan Nathan

Ara Dan Nathan
Aku kamu


__ADS_3

"Handuk kamu" teriak Ara. Nathan langsung kembali ke dalam ruangan ganti untuk mengambil handuknya dan setelah itu masuk lagi ke dalam kamar mandi.


Ara mengenakan sepatu vans berwarna hitam miliknya dan mengambil koper di dalam ruang ganti dan menunggu suaminya selesai mandi di atas sofa.


Ckleekk


Suara pintu kamar mandi terbuka. Ara langsung melihat ke arah suara itu dan melihat suaminya tengah telanjang dada.


"Lain kali bawa baju kalo mandi" ketus Ara dan langsung berlalu dari kamar itu dan menuju ke bawah dengan membawa koper.


"Biar aku yang bawa nanti" teriak Nathan. Arapun meletakkan kembali koper itu ke dalam kamar tanpa menatap ataupun melihat suaminya itu.


"Pagi ayah bunda" sapa Ara sambil melebarkan senyumannya.


"Pagi sayang" sapa balik Nita sedangkan Andre hanya tersenyum karna tadi malam Nita menceritakan apa yang ia lihat.


"Ayah kayaknya bahagia banget pagi ini" ucap Ara karna memang Andre sedari tadi nampak tersenyum bahagia.


"Pagi ayah..bunda" sapa Nathan yang baru saja samai dan meletakkan koper di ruang keluarga.


"Pagi sayang" sapa balik Nita. Ara langsung mengambil makanan untuknya dan juga Nathan dan setelah itu menyantapnya.


"Kamu tau kenapa ayah bahagia pagi ini nak?" tanya Andre dengan senyum yang masih mengembang kepada Ara sedangkan Nathan hanya menatap ke arah mereka berdua secara bergantian sedangkan Nita ikut tersenyum senyum juga.


"Gak tau yah" jawab Ara dan kembali menyantap makanannya.


"Ayah seneng banget karna bentar lagi ayah sama bunda punya cucu" jawab Andre dengan wajah yang nampak bahagia begitupun dengan Nita.


"Emang Erina udah hamil yah? kenapa cepet banget?" tanya Ara yang ikut senang mendengar itu sedangkan Nathan hanya menatap istrinya itu.


"bukan Erina tapi kamu" jawab Andre.

__ADS_1


"Uhukkk....uhukkk" Ara tersedak mendengar itu. Nathan pun dengn segera memberikan minum kepada istrinya itu.


"Hati hati makanya kalo makan" ucap Nathan dan membimbing istrinya itu untuk minum.


"Makasih" ucap Ara dan mengelap mulutnya.


"Ayah sama bunda pengen banget gendong cucu sekarang makanya ayah bahagia banget karna tadi malam bunda cerita semuanya sama ayah" jelas Andre.


Wajah Ara kembali memerah dan diapun dengan segera menundukkan kepalanya karna malu mau itu dengan Nathan maupun dengan Nita dan juga Andre.


Nathan bisa melihat jika istrinya itu merasa malu. "Udah yah bun lanjutin makannya" ucap Nathan. Arapun kembali mendongakkan kepalanya.


Setelah selesai makan mereka beramitan kepada Andre dan juga Nita dan mereka pun langsung masuk ke dalam mobil dan menuju ke makam terlebih dahulu untuk berpamitan kepada Dewa dan juga kedua orang tua Ara.


Setelah selesai merekapun langsung menuju ke bandara dan langsung masuk ke dalam pesawat. Saat dalam pesawat Ara hanya menatap awan awan yang ia lewati tapi tidak dengan Nathan yang sedari tadi menatap istrinya itu.


"Kamu kenapa murung?" tanya Nathan kepada Ara. Ara langsung menoleh ke arah suaminya itu.


"Kita cari tau dulu kebenarannya jika memang benar kita harus meminta keadilan" jelas Nathan dan menyenderkan kepala istrinya itu di dadanya dan Ara tidak menolak itu karna dia membutuhkannya.


"Semoga yang di bilang sama bi Nur gak bener" ucap Ara dengan air mata yang menetes. Nathan mengangkat kepala istrinya itu dan menghapus air mata wanita itu.


"Kamu gak boleh sedih gini....nanti mama sama papa juga ikut sedih" ucap Nathan sambil menatap lekat mata yang berair itu.


Ara tidak menjawab perkataan Nathan dan Nathan pun memeluk istrinya itu hingga pesawat mendarat dan mereka langsung turun dan Nathan membawa koper dan Ara membawa paperbag yang berisi kado untuk Rafael.


Nathan menyetop salah satu taxi dan merekapun berhenti di sebuah hotel karna itu permintaan Ara dan besok dia akan memberikan kejutan kepada Rafael dengan mendatangkan kediaman pamannya.


Setelah mengambil kunci kamar mereka berduapun langsung masuk ke dalam kamar hotel itu dan Ara langsung mendudukkan tubuhnya di atas kursi sofa yang ada di dalam kamar itu.


"Kamu gak mandi?" tanya Nathan melihat istrinya itu bersantai. Ara menggelengkan kepalanya dan langsung menuju ke balkon hotel itu.

__ADS_1


Nathan meletakkan koper dan setelah itu menyusul istrinya yang sedang duduk di balkon itu sambil menikmati pemandangan amsterdam yang jarang sekali ia lihat.


"Kamu masih sedih?" tanya Nathan yang melihat istrinya itu memejamkan mata.


"Enggak" jawab Ara sambil melebarkan senyum yang ikhlas. Nathan tidak menjawab perkataan istrinya itu dan memilih mengeluarkan ponselnya.


Saat membuka ponsel Nathn melihat jika Susi mentag ignya. Nathan pun membuka postingan itu yang nampak sangat bagus tapi ada Susi di antara mereka.


"Kamu gak mau hamil?" tanya Nathan tiba tiba. Ara langsung menatap ke arahnya dengan tatapan bingung dan dahi yang mengerut.


"Maksud kamu apa?" tanya Ara.


"Kamu gak inget sama yang di bilang sama ayah tadi pagi?" tanya Nathan. Ara langsung ingat akan itu.


"Aku minta maaf...aku belum siap" jawab Ara dna langsung berlalu meninggalkan Nathan sendiri.


"Huh" Nathn mendengus sedih karna menurutnya Ara belum mencintainya dan untungnya dia mengerti akan itu.


Malam harinya


"Ayo kita makan di luar" ajak Nathan karna memang itu pertama kalinya dia ke amsterdam.


"Kita jalan jalan aja" ajak Ara semangat.


"Boleh...ini juga pertama kalinya aku di amsterdam" jawab Nathan. Ara terkekeh mendengar itu.


"Kenapa kamu ketawa?" tanya Nathan.


"Gak mungkin kamu gak pernah ke amsterdam secara kan kamu orangnya sibuk dan sering kemana mana gak mungkin lah kamu gak pernah ke amsterdam" jelas Ara dan kembali terkekeh.


"Aku kamu?" guman Nathan bahagia dengan senyum yang mengembang karna memang baginya panggilan aku kamu itu sangat istimewa jika di lontarkan oleh istrinya karna selama ini Ara jika berbicara dengannya menggunakan lo gue.

__ADS_1


"Yaudah ayo kita jalan jalan biar aku ajak kamu jalan jalan keliling amsterdam" ajak Ara dan mengambil mantel miliknya karna dia menggunakan celana pendek diapun menggunakan hak bot yang tidak terlalu tinggi tapi menutup sampai ke lutut.


__ADS_2