
"Lo kenapa kesini? bukannya jagain gerbang hah? mau gue potong gaji lo?" tanya Ara dengan melebarkan matanya kepada Barqi.
"Udah dzuhur bego....lo gak liat jam?" ucap Barqi sambil menunjukkan jam yang ia pakai kepada Ara.
"Yaudah ayo kita sholat" ajak Erina.
"Gue sholat di kamar aja" ucap Ara dan ingin berlalu meninggalkan Erina dan yang lain.
"Kenapa gak sholat di mushola aja bareng?" tanya Barqi yang membuat langkah kaki ara terhenti.
"Lo gak liat kaki gw luka?" ketus ara dan melipat celana oversize yang ia pakai dan menunjukkan luka kakinya kepada Barqi.
"Gapapa juga di mushola" ucap Andita.
"Gue gak enak sama kalian yang sholat bediri sedangkan gue duduk" jawab Ara dan langsung berlalu meninggalkan mereka bertiga. Andita ingin menjawab perkataan Ara tapi Ara telah lebih dulu masuk.
"Yaudah ayo kita ke musholla ajak anak anak" ucap Barqi. Andita dan Erina pun mengiyakannya dan mereka juga mengajak anak anak panti.
Ara sedang menunaikan sholat dzuhurnya dengan khusyuk setelah selesai diapun mencurahkan isi hatinya keada sang maha kuasa sambil menangis karna dia belum bisa menerima kenyataan bahwa dirinya bukan lah anak kandung Teo dan juga Windi. Hati nya bertanya tanya siapakan orang tua kandungnya dan kenapa orang tuanya meninggalkannya dengan keluarga Teo.
Setelah selesai mengadu dan mencurahkan isi hatinya kepada yang maha kuasa Ara menggunakan kembali kaos kakinya dan juga sendal bulu bulunya yang berwarna coklat dan langsung turun ke bawah tapi tidak ada siapa siapa karna memang semua orang masih melaksanakan sholat dzuhur berjamaah dan dia sendiri yanga da di panti itu tidak ikut jamaah.
Ara menuju ke mobil Erina karna ponselnya tertinggal disana. Saat sudah selesai mengambil ponselnya yang ada di dalam mobil Andita dia kembali ingin masuk anti bersama dengan yang lain karna yang lain juga sudah selesai melaksanakan sholat dan sekarang ingin makan siang.
"Udah selese lo sholat?" tanya Erina kepada Ara. Ara hanya mengangguk mengiyakan pertanyaan temannya itu.
"Gue laper" ucap Andita saat baru saja ingin masuk.
"Ini kita mau makan Andita bego" jawab Ara. Andita tidak mengubris perkataan Ara dia dengan semangat masuk ke dalam panti dan langsung menuju dapur dan di dapur sudah ada semua orang berkumpul untuk makan di sana. Mereka bertiga langsung duduk di samping anak anak panti.
"Lo kok kayaknya laper banget Dit? padahal tadi udah makan" ucap Erina karna tadi mereka sudah makan di kantin sekolah.
"Lo kayak gak tau dia aja udah makan 10 porsi bakso waktu istirahat asti dia makan lagi waktu jam dzuhur" ucap Ara karna memang seperti itulah Andita yang harus makan saat waktu makan siang.
__ADS_1
"Brisik lo bedua" ucap Andita dan langsung mengambil piring dan memasukkan makanan yang ia ingin makan ke dalam piringnya.
Ara dan Erina pun ikut mengambil makanan untuk mereka masing masing untuk di makan. Mereka memang tidak lah pemilih soal makanan meskipun mereka semua tergolong dalam orang kaya tapi hidup mereka sangat sederhana tidak seerti kebanyakan orang kaya yang selalu ingin makan mewah.
Mereka menyantap makanan dengan lahap tak lupa pula ada anak anak yang menyelipkan candaan di sela sela makan mereka itu. Arapun ikut serta dalam membuat candaan itu.
Setelah selesai makan Ara, Erina dan juga Andita membantu bu Aini dan juga bu Fatimah untuk membereskan bekas makan mereka. Andita membersihkan tempat makan dan menyapu bekas bekas nasi yang bertaburan di sana.
Sedangkan Erina dan yang lain mencuci piring di dapur karna memang piring sangat menumpuk karna piring tadi pagi belum di cuci.
"Assalamualaikum" suara seseorang terdengar di dekat panti sambil mengetuk pintu panti.
Ara yang mendengar suara itu berpamitan kepada Fatimah dan yang lain untuk melihat siapa yang datang dengan tangan yang sudah ia cuci. Sedangkan Andita tadi dia pergi membuang sampah ke belakang.
"Waalaikumsalam" jawab ara dan langsung melihat siaa yang datang. Orang itu adalah dokter Aldi.
"Hey" panggil Aldi.
"Dokter ngapain kesini?" tanya Ara.
"Bukan gak boleh dok ini kan masih siang dan pasti dokter banyak kerjaan" jawab ara sambil menurunkan lengan bajunya yang ia lipat tadi.
"Kebetulan saya hari ini gak kerja maknya saya kesini" jawab Aldi sambil melebarkan senyumnya. Ara hanya membalas senyum aldi dengan senyum malas ntah kenapa dia sedikit tak suka akan tatapan dokter itu.
"Silahkan masuk dok" ucap Ara yang tersadar jika dia dan Aldi sedari tadi mengobrol di delan pintu.
Aldi mengiyakan dan langsung masuk diikuti oleh Ara sedangkan anak anak panti jika siang mereka belajar dan yang mengajar mereka adalah Ariansah salah satu teman preman Ara karna memang IQ Ariansah lah yang tertinggi di antara teman temannya itu tapi dia malas untuk belajar dan dia juga tidak mempunyai biaya untuk melanjutkan studynya.
Semua teman preman ara bisa di andalkan karna mereka mempunyai kelebihan masing masing seperti Ariansah yang mempunyai IQ tinggi yakni 145,,Barqi yang memiliki jiwa yang betanggung jawab,,,Reza yang mempunyai ilmu agama yang boleh di katakan oke,,Ardi yang mempunyai kelebihan memasak dan masih banyak lagi teman temannya yang meiliki keahlian.
"Anak anak panti mana?" tanya Aldi kepada ara.
"Mereka belajar" jawab ara.
__ADS_1
"Ooh...kamu gak sekolah?" tanya Aldi karna setaunya ara masih sekolah.
"Udah pulanh" jawab Ara.
"Bukannya masih lama? emang kamu sekolah dimana?" tanya Aldi heran.
"Masih lama sih dok tapi saya udah males belajar makanya saya pulang" jawab Ara jujur.
"Emang boleh?" tanya Aldi.
"Gak boleh sih dok tapi mau gimana lagi kalo udah malas belajar?" tanya Ara.
"Emang guru kamu gak marah kalo gitu?" tanya Aldi.
"Ya jelas marah lah dok" jawab ara.
"Ni orang banyak tanya" guman Ara yang cukup kesal akan Aldi yang sedari tadi melontarkan pertanyaan kepada nya.
"Emang kamu sekolah dimana?" tanya Aldi.
"SMK Darma bangsa" jawab ara.
"Bukannya itu sekolah yang disiplinya ketat ya? Dan sekolah itu hanya orang orang yang pintar bisa masuk ke sana...trus ara?" guman Aldi sedikit meremehkan Ara sambil menatap ke arah Ara.
"Mungkin pake uang kali secara kan keluarganya tergolong orang terkaya di indonesia" guman Aldi kembali sambil menatap lekat ke arah Ara. Ara yang menyadari itu sedikit tak nyaman akan tatapan Aldi.
"Dokter kenapa liatin saya gitu?" tanya Ara tak suka.
"Hmmm....gak gapapa kok" jawab Aldi sambil melebarkan senyumnya. Ara tidak menjawab perkataan Aldi.
"Dokter cuma mau nanya itu kesini?" tanya Ara karna dia merasa sudah lumayan lama duduk disana bersama Aldi.
"Gak aku kesini mau ketemu kamu" jawab Aldi.
__ADS_1
"Ketemu saya?" tanya Ara. Aldi hanya mengangguk mengiyakan.
"Ada perlu apa?" tanya Ara kepada Aldi.