
"Kenapa lo gak langsung tembak aja? kan seneng langsung jadian" tanya Nathan menatap lekat wajah saudaranya itu.
"Enak banget lo ngomong ya" ketus Vino.
"Emang salah sama kata gue?" tanya Nathan.
***
"Hey" panggil Ara yang sudah bangun dan sudah selesai kapada Azlan.
"Siapa?" tanya Azlan kepada Ara mungkin karna dia tidak tau jika itu adalah Ara karna perubahannya sangat nampak.
"Gue Ara" jawab Ara.
"Ara?" tanya Azlan. Ara hanya mengangguk mengiyakannya.
"Kok beda banget sih?" tanya Azlan sedikit tak percaya melihat Ara menggunakan poni dan itu juga menambah keimutan wajahnya.
"Kan gue baru ganti rambut" jawab Ara sambil melebarkan senyumannya.
"Beneran beda banget ra sriusan" ucap Azlan.
"Beneran?" tanya Ara. Azlan hanye nngangguk mengiyakannya dan setelah itu dia berdiri di depan kaca dan mengambil ponselnya yang ada di dalam sakunya itu.
Ara menatap wajahnya yang di kaca dan di ponsel secara bergantian dan itu memang sangat beda. "Iya ya beda banget" ucap Ara.
"Gapapa deh" ucap Ara sambil melebarkan senyumannya.
"Kita pulang ayo" ajak Ara kepada Azlan.
"Gak mau makan atau jalan jalan dulu?" tanya Azlan.
"Gak deh" jawab Ara sambil melebarkan senyumannya. Azlan tidak bisa memaksanya diapun langsung menuju ke dalam mobil diikuti oleh Ara dari belakang.
Setelah masuk ke dalam mobil Azlan pun langsung melajukan mobilnya menuju ke apartemen mereka dengan kecepatan sedang.
Tidak lama kemudian mereka pun sampai di apartemen tempat mereka tinggal. Azlan membantu Ara untuk membawa barang barang miliknya meskipun Ara menolak tapi Azlan tetap memaksanya.
Mereka langsung masuk ke dalam lift dan kebetulan lift itu kosong. Saat lift berhenti merekapun langsung kembali ke apartemen masing masing dan sebelum itu Azlan mengantarkan barang barang milik Ara.
__ADS_1
"Makasih ya" ucap Ara menerima barang barang miliknya itu dari tanga Azlan.
"Sama sama" jawab Azlan sambil melebarkan senyumannya.
"Oiya nanti malem makan sama gue sama bi Ria juga mau gak?" tanya Ara kepada Azlan.
"Boleh" jawab Azlan sambil melebarkan senyumannya. Ara hanya membalas dengan senyuman dan setelah itu masuk ke dalam apartemennya begitupun dengan Azlan.
Ara terlebih dahulu membersihkan tubuhnya dan menggantikan pakaiannya dn setelah selesai dia langsung mengemasi barang barang yang ia beli tadi.
Ara membeli lumayan banyak baju celana dan juga cardigan dan tak lupa dengan sepatu karna jika membawa dari indonesia terlalu banyak dan terlalu berat makanya dia membeli di amerika.
Setelah selesai mengemasi barang barangnya Ara langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur dan memeluk boneka pemberian dari Dewa hingga akhirnya dia tertidur mungkin karna kelelahan berbelanja.
"Sayang" panggil Dewa.
"Kak Dewa" panggil Ara dan langsung menghamburkan pelukan yang sudah ia tahan sejak lama.
"Kakak kangen sama kmu" ucap Dewa sambil mengusap lembut kepala Ara.
"Ara juga kangen sama kakak" ucap Ara dan tanpa sadar air matanya mengalir sendiri.
"Ara kangen sama kakak" ucap Ara dengan menangis sekencang kencangnya.
"Kangen kok nangis" ledek Dewa.
"Ara srius kak" ketus Ara sambil mengerucutkan bibirnya. Dewa terkekeh melihat tingkah sang kekasih.
"Ollooo...oloo...jngan nangis lagi" ledek Dewa dengan membungkukkan tubuhnya karna memang dia jauh lebih tinggi dari Ara.
Ara menghentikan tangisannya.
"Kamu rambut baru ya?" tanya Dewa dan menatap lekat wajah kekasihnya itu dan melepaskan pelukan Ara dari tubuhnya.
"Iya..cantikkan?" tanya Ara merapikan poni barunya.
"Kayak bayi" jawab Dewa.
"Siapa yang bayi...kamu kali yang bayi" ketus Ara. Dewa terkekeh melihat tingkah kekasihnya itu persisi seperti anak kecil.
__ADS_1
"Iya tambah cantik malahan kakak aja sampe gak tau kalo ini kamu" jawab Dewa.
"Kakak udah gak sayang lagi sama Ara makanya gak kenal Ara" teriak Ara kesal kepada Dewa. Dewa kembali terkekeh melihat tingkah sang kekasih.
"Kakak punya kejutan buat kamu" ucap Dewa. Arapun yang tadinya membelakanginya langsung memeluk tubuhnya.
"Kejutan apa?" tanya Ara yang masih berada di pelukan Dewa.
"Coba liat kebelakang" perintah Dewa. Arapun langsung melihat ke belakang Dewa.
"Mereka siapa?" tanya Ara bingung saat melihat satu wanita dan satu laki laki di belakang Dewa yang sedang menatap ke arahnya.
"Kamu gak inget waktu itu kamu ngomong apa sama kakak?" tanya Dewa kepada Ara. Ara semakin bingung dengan itu.
"Huh...kmu kan yang nyuruh kakak buat ngajakin mama sama papa nemuin kamu dan sekarang kakak bawa mereka buat kamu" jelas Dewa. Mata Ara berbinar tak percaya melihat itu dia kembali menangis dan langsung terduduk di lantai.
"Sayang" panggil Rianti saat melihat Ara menangis dan langsung terduduk dan langsung menghampiri Ara begitupun dengan Zidan.
"Ini beneran mama sama papa kak?" tanya Ara kepada Dewa karna dia masih belum percaya.
"Iyaa sayang" jawab Dewa sambil melebarkan senyumannya.
Ara menatap lekat kedua orang di depannya itu. "Sayang mama kangen sama kamu nak" ucap Rianti. Ara masih belum bergeming dia menatap lekat kedua orang itu.
"Sayang" panggil Zidan.
"Mama papa" ucap Ara kembali menangis dan langsung memeluk kedua orang tuanya itu.
"Kita kangen sama kamu nak" ucap Zidan.
"Ara juga kangen sama malian" jawab Ara dengan mengeratkan pelukannya kepada kedua orang tuanya itu.
"Kamu udah besar sekarang nak" ucap Rianti yang ikut menangis.
"Kalian kenapa tinggalin Ara?" tanya Ara tanpa melepaskan pelukannya dari kedua ornag tuanya itu.
"Mama sama papa gak oernah ninggalin kamu sayang" jawab Rianti.
"Trus mama sama papa kemana aja baru sekarang nemuin Ara?" ucap Ara sambil mengerucutkan bibirnya.
__ADS_1