Ara Dan Nathan

Ara Dan Nathan
Kembali


__ADS_3

"Hey kamu kenapa?" tanya Nathan langsung mendudukkan tubuh nya di samping istri nya itu.


"Lapasin aku" teriak Ara saat Nathan memegang tangannya. Nathan melepaskan tangannya dan Ara pun langsung membuang bantal dan selimut nya ke sembarang arah.


Ara turun dari ranjang dan kembali mengambil bantal yang ia lemar tadi. Ara memukul mukul bantal itu ke dinding sampai bantal itu robek. "Ahh" teriak Ara sekencang mungkin sambil memukul bantal yang sudah robek itu ke dinding dan isi bantal itu pun beterbangan di dalam kamar itu. Nathan hanya melihat nya dan tidak mau mengganggu karna jika itu akan membuat istri nya tenang maka ia akan membiarkannya.


Ara langsung tersungkur dari duduk nya itu dan bersandar ke samping di dinding kamar itu. Rambut kusut, Baju yang sebelah turun dan wajah sembab akibat menangis dan tubuh di kelilingi oleh isi bantal sungguh sudah seperti orang stres dia seperti itu.


Nathan menghampiri istri nya yang sedang bersender di dinding itu dan ikut berjongkok menatap wanita nya itu. "Udah merasa tenang?" tanya Nathan kepada sang istri.


"Kenapa kamu ngeliat aku kayal gitu?" tanya Ara dengan menghentikan tangis nya dan menatap datar ke arah suami nya itu. Nathan menatap sedih melihat istri nya yang sudah seperti orang gila itu sampai sampai air mata nya terjatuh.


"Kenapa kamu nangis? apa ada yang membuat kamu sedih?" tanya Ara datar tanpa mengeluarkan air mata lagi. Nathan tidak menjawab nya dan menghapus air mata yang sempat jatuh di wajah nya itu.


"Jangan lah menangis, Hidup kamu sudah bahagia jangan menangis karna aku" ucap Ara memegang bahu suaminya itu.


"Aku gak akan bahagia kalo kamu gak bahagia" jawab Nathan.


"Aku sudah terlalu bahagia sampai sampai aku lelah hidup bahagia" ucap Ara.

__ADS_1


"Aku gak bisa menghibur kamu, Tapi aku gak bisa lihat kamu sedih kayak gini" ucap Nathan sambil memegang wajah istrinya itu.


"Aku perlu perlu hiburan dari kamu" jawab Ara dan menepis tangan suami nya itu dan beranjak berdiri dan kembali ke tempat tidur. Ara kembali memejamkan mata nya dan akhirnya diapun tertidur di atas ranjang itu.


Satu minggu sudah berlalu tapi Rizal dan keluarga belum juga di temukan dan mereka juga sudah di nyatakan meninggal oleh polisi dan Ara masih belum mau keluar dari kamar, Dia hanya merenung di dalam kamar dan makan pun dia jarang dan jika pun dia makan itu di paksa oleh Nathan. Nita sudah pulang saat dua hari hilang nya Rizal dan dia tidak menuju ke rumah melainkan ke rumah kakek Ara karna Ara tidan mau pergi dari sana begitupun dengan Nur dan Mamat. Teo sudah di tangkap oleh polisi bersama dengan Windi dan juga anak buah mereka karna Qori sudah membongkar masalah mereka yang menyabotase mobil Zidan waktu itu dan Qori juga ikut masuk ke dalam penjara atas laporan Nathan dan dia menerima itu. Seluruh harta milik Wijaya grup sudah menjadi milik Ara sekarang tapi Ara tidak menginginkan itu. Teo juga di nyatakan bersalah karna dia lah yang menyabotase mobil yang di tumpangi Rizal waktu itu dan dia di penjara seumur hidup.


Ara sangat pendiam seminggu ini dan boleh di katakan dia tidak pernah mengeluarkan suara. Nathan tidak pernah meninggalkan istrinya itu dan pekerjaan pun di serahkan kepada Vino. Nathan selalu menangis saat melihat istri nya itu tertidur lelap dia menangis tanpa di ketahui oleh orang lain. Dia sangat sedih dan sakit melihat istri nya yang mengalami stres itu. Ardila belum menceritakan apapun kepada Ara begitupun dengan Nur tapi mereka sudah menceritakan semua nya kepada Nathan dan Nita.


"Sayang" panggil Nathan kepada sang istri yang duduk dengan memangku wajahnya di lutut. Ara menoleh ke arah nya tanpa mengeluarkan suara sedikit pun dan setelah itu kembali menatap ke luar jendela. Nathan berjalan mendekat ke arah sang istri dengan membawa nampak makanan untuk istrinya itu. Nathan mendudukkan tubuh nya di samping sang istri.


"Ayo makan" ucap Nathan kepada sang istri. Ara tidak menjawab maupun menatap suami nya itu dia hanya fokus ke luar jendela.


"Mungkin aku hanya merindukannya" guman Ara dengan air mata yang mengalir kembali.


"Onty buka pintu nya" ucap Rafael lagi dengan menggedor pintu kamar Ara. Ara menatap pintu yang berbunyi itu.


"Apa itu Rafael?" tanya Ara menatap pintu kamar nya itu. Nathan langsung berdiri dan berjalan ke arah pintu. Nathan membuka pintu kamar itu saat dia membuka nya Rafael langsung memeluk nya.


"Uncle" ucap Rafael yang masih memeluk Nathan. Ara yanh melihat itu masih tak berkedip mata nya nampak berbinar melihat keponakannya itu yang masih hidup.

__ADS_1


"Kamu Rafael?" tanya Nathan yang juga tidak percaya. Rafael mengangguk mengiyakannya dengan senyum yang melebar.


"Onty" teriak Rafael dan langsung berlari memeluk tubuh Ara. Ara belum membalas pelukan keponakannya itu karna masih belum percaya.


"Ael kangen sama Onty" ucap Rafael dan menatap lekat wajah Ara. Nathan berjalan menghampiri istri dan keponakannya itu.


"Ael?" ucap Ara yang masih tidak percaya dan sangat nampak jika air matanya sebentar lagi tumpah. Rafael mengangguk mengiyakannya sambil melebarkan senyumannya.


"Onty gak mimpi kan?" tanya Ara yang belum percaya. Rafael menggelengkan kepala nya sambil melebarkan senyumannya.


"Ael" ucap Ara dengan senyum yang mengembang bahagia di iringi oleh air mata bahagia juga. Ara meneluk erat tubuh keponakan yang sangat ia rindukan itu dengan air mata yang terus mengalir.


Kya dan Rizal yang baru saja masuk ke dalam kamar keponakan mereka melihat Ara yang memeluk Rafael dengan erat, Senyum di wajah mereka berdua mengembang bahagia melihat senyum bahagia Ara begitupun dengan Nita dan Andre yang merindukan senyum bahagia menantunya itu apa lagi Nathan yang juga tersenyum bahagia melihat pemandangan langka beberapa minggu ini.


"Sayang" panggil Rizal. Ara membuka matanya yang tertutup itu dan melihat Rizal di hadapannya.


"Paman, Hikkksssss" ucap Ara langsung menangis. Rizal mendudukkan tubuh nya begitupun dengan Kya, Mereka berdua memeluk erat keponakan dan anak mereka itu. Ara kembali menangis bahagia mendapatkan hadiah yang snagat indah hari ini.


"Sudah lah jangan menangis, Kamu ini sudah besar" ucap Rizal kepada Ara. Ara menghentikan tangis nya dan melepaskan pelukannya.

__ADS_1


"Kalian kenapa meninggalkan Ara hah?" suara yang selalu emosi itu kembali dan membuat Nathan yang awal nya menangis bahagia langsung tertawa.


__ADS_2