
"Hah ara bukan adik sheyla?" guman nathan bingung sambil menatap iba ke arah ara. Ara berusaha menahan tangisnya yang ingin sekali tumpah itu karna hatinya sangat sakit mendengar pernyataan dari teo.
Ara berjalan tanpa memperdulikan nathan yang sedari tadi memperhatikannya dia menuju ke arah rizal dan juga kya. "Bibi ini rafael....ara mau amit pulang" ucap ara kepada kya dan iru membuat semua mata tertuju kepadanya.
"Kenapa cepet banget pulangnya? gw baru ketemu sama lo" jawab sheyla karna memang dia merindukan adiknya itu. Sheyla tidak mengetahui jika ara bukan adiknya karna dari kecil dan semenjak ara lahir Sheyla memang selalu menyayangi ara.
"Selamat bentar lagi lo nikah...bahagiain dia jangan sakitin dia bang" ucap ara kepada sheyla dan juga fikri dengan menahan tangisnya.
"Abang pasti jagain kakak kamu" jawab fikri dan hanya di jawab senyuman oleh ara tanpa mengatakan apa apa ara langsung pergi meninggalkan semua orang di sana.
Erina dan Andita yang melihatnya pun sedikit bingung akan ara yang tiba tiba seperti itu. Nathan mengikuti ara dari belakang tanpa ada yang menyadarinya karna sedari tadi nathan sedikit berjauhan dengan mereka karna mereka berhenti mendengarkan perkataan teo memang sedikit jauh dari sheyla dan yang lain.
Arfel juga mengikutinya begitupun dengan Erina dan Andita. Rizal ingin mengikuti keponakannya itu karna dia merasa cemas akan keponakannya itu tapi arfel melarangnya dan dia mengiyakan.
Ara sudah sampai di bawah dan dia langsung menghentikan salah satu taxi yang lewat di depannya dan langsung masuk ke dalam taxi itu.
Nathan yang baru saja sampai di bawah dan dia melihat ara yang sudah naik ke dalam taxi langsung masuk ke mobilnya karna memang kunci mobil ada di dia.
Sedangkan arfel Erina dan juga Andita baru saja samai di bawah dan dia tidak menemui siapapun di bawah. "Ara kemana?" tanya Andita hawatir.
"Gak di angkat" jawab Erina karna memang sedari tadi dia mencoba menghubungi ara.
"Yaudah ayo kita cari dia" ajak arfel dan mereka bertiga pun langsung masuk ke dalam mobil arfel untuk mencari ara.
"Berenti pak" ucap ara saat melintas di depan panti sopir itupun langsung menghentikan mobil dan ara langsung membayar dan setelah itu dia turun dari mobil taxi itu.
__ADS_1
Ara hanya berdiri di depan gerbang panti karna memang tadi dia sudah berpesan kepada Barqi untuk mengunci panti jika sudah jam 9 malam dan sekarang sudah jam 11 malam dan pasti semua orang panti sudah tidur semua.
Ara berjalan meninggalkan panti itu karna nanti dia takut jika Barqi ataupun orang panti mengetahui jika dia ada di depan.
"Huh" ara mendengus kasar sambil melepaskan hils milik Erina yang ia gunakan dan menentengnya. Sedangkan tasnya tadi tertinggal di atas meja tamu dan nathan sempat mengambilnya.
Sudah sekitar 20 menit ara berjalan lunglai dan tempat yang ia pijaki saat ini tampak sangat sepi karna memang jalanan itu jarang orang orang lewat disana.
Ara langsung terjatuh dan lutut kakinya terluka akibat terkena aspal. Dia menangis sejadi jadinya di sana karna memang tempat itu sangat lah sepi.
"Hiks...hikss...hikss" ara menangis sekencang kencangnya karna tak percaya akan pernyataan teo yang mengatakan jika ara bukan lah anaknya.
"Orang tua gw dimana?" tanyanya menghadap ke langit dengan wajah yang sudah basah karna menangis dan matanya juga terlihat sangat sembab.
Nathan kehilangan mobil yang membawa ara karna dia tadi di salip oleh satu mobil dan dia tidak bisa mengikuti ara lagi. Tapi tidak dengan deny yang bisa mengikuti ara.
"Dany sand photo"
"Nyonya non ara seperti sedang menangis dan dia berteriak teriak di jalan sepi nyonya" isi esan dari deny. Nita yang merasa ponselnya bergetar langsung mengambilnya dan dia meliaht isi pesan dari deny yang mengirim poto ara yang sedang bersimpuh sendiri di tengah jalan.
"Dia berteriak apa?" tanya nita kepada deny.
"Bunda ayah" panggil Vino karna dia sedari tadi mencari nathan.
"Vino nathan mana?" tanya andre kepada Vino.
__ADS_1
"Gak tau yah, Vino juga cari dia" jawab Vino. Nita langsung memasukkan ponselnya ke dalan tas kembali saat Vino menyapanya tadi.
Nathan sedari tadi mencari cari ara tapi dia tidak menemukan ara sama sekali. "Ah dia dimana?" tanya nathan kepada diri sendiri karna dia sangat menghawatirkan ara.
Nathan berpikir keras dimana mungkin ara sekarang. "Panti" ucap nathan dan langsung melajukan mobilnya ke panti asuhan karna setaunya ara bisa menghilangkan kesedihannya dengan bermain bersama anak kecil.
Arfel melajukan mobilnya menuju ke rumah ara tapi dia tidak menemukan ara di sana dan itu membuatnya bingung akan kepergian ara.
"Apa dia udah pulang ke panti kali ya" ucap Erina karna dia ingat akan perkataan ara yang mengatakan bahwa dirinya tinggal di panti.
"Mungkin aja kali coba kita kesana" ucap Andita dan arfel langsung melajukan mobilnya menuju panti.
Nathan sudah sampai di panti tapi dia tidak menemukan ara dan dia juga tidak enak meraung di depan panti itu dan dia memilih untuk pulang karna rasanya ara sudah masuk ke dalam panti.
"Dimana orang tua gw" ucapan itu yang selalu keluar dari mulut ara sambil terisak. Dia memilih melanjutkan perjalanannya ntah kemana itu. Ara melihat jika ada sebuah cafe yang masih terbuka dan cafe itu lumayan jauh dari tempatnya berdiri.
Ara berjalan menuju cafe itu dengan mata sembab. Setelah sampai di cafe itu ara langsung masuk dan memilih meja yang terletak di dekat jendela.
Ara memesan bir di cafe itu karna memang dia sudah pernah meminum minuman itu saat dia sendiri jika dia bersama teman temannya pasti akan di larang.
"Gw bukan anak papi teo...terus orang tua gw mana" ucap ara yang sudah dalam keadaan mabuk.
"Siapa sih orang tua gw kebiasaan bikin orang penasaran aja" ucap ara seperti orang tidak waras karna pengaruh dari alkohol.
Ara mengoceh ngoceh sendirian di sudut cafe itu dia mengoceh tentang orang tuanya dan kadang dia juga mengoceh dan menyebut nyebut nama dewa sambil menangis dan kadang juga dia tertawa.
__ADS_1
"Ara?" ucap ardi yang baru saja masuk ke dalam cafe itu karna dia ingin membeli makanan dan dia tidak sengaja melihat ara dan diapun menghampiri ara yang sedang mengoceh ngoceh sendiri.
"Ara" panggil ardi kepada ara. Ara mendongakkan pandangannya ke atas karna merasa ada yang memanggilnya.