
Seperti rebutan selimut,,air minum dan kadang Ara tidak suka jika Nathan menjadikan boneka milik Ara untuk di jadikan bantal. Hal hal itulah yang mereka ributkan selama di rumah sakit.
"Ara sayang banget sama bunda Nita" ucap Ara dengan air mata yang mengalir deras di wajah cantiknya itu.
"Yaudah Ara pamit mau pulang soalnya udah sore juga" ucap Ara sambil melihat jam tangan yang ada di pergelangan tangannya itu.
Ara mencium ketiga makam itu secara bergantian dengan air mata yang terus mengalir. Setelah selesai mencium ketiga makam itu dia langsung berdiri dan menghapus air matanya. Nampak sembab wajah wanita itu.
"Ara pamit" ucap Ara sambil melebarkan senyumannya dan langsung berlalu pergi dari sana. Nathan yang melihat Ara pergi langsung berjongkok di antara kedua makam orang tua Ara.
"Om tante kenalin saya Nathan" ucap Nathan kepada kedua makam itu. Nathan sedikit berbincang dengan makam kedua orang tua Ara itu dan setelah itu dia berdiri dan berpamitan kepada ketiga makam itu dan langsung pergi meninggalkan makam itu untuj menyusul Ara.
"Mana dia?" guman Nathan saat sudah keluar dari pemakaman itu dan mencari cari Ara.
"Ngapain dia?" ucap Nathan saat melihat Ara sedang berjongkok di tepi jalan seperti orang ketakutan. Mungkin dia masih sedikit takut untuk melihat mobil mobil.
Nathan langsung menghampiri Ara. Sesampai disana Nathan ikut berjongkok di depan Ara.
"Hey kamu kenapa?" tanya Nathan kepada Ara. Ara mendongakkan kepalanya menghadap ke arah Nathan.
"Gue takut" ucap Ara dengan bibir yang gemetaran.
"Kamu masih takut?" tanya Nathan. Ara hanya mengangguk mengiyakannya.
"Yaudah ayo kita pulang aja" ajak Nathan. Ara menggelengkan kepalanya.
"Kenapa?" tanya Nathan.
"Gue mau itu" ucap Ara sambil menunjuk ke arah penjual permen kapas. Nathan terkekeh melihat itu.
"Kenapa ketawa?" tanya Ara.
"Yaudah ayo kita beli" ajak Nathan lagi tanpa menjawab pertanyaan Ara.
"Ayo" ucap Ara sedikit bersemangat. Ara memegang jas yang di kenakan oleh Nathan itu dengan sangat erat dan wajahnya ia lindungi di dada bidang Nathan.
Nathan menyebrang dengan sangat hati hati.Senyum di wajahnya mengembang saat melihat Ara yang berlindung di dadanya. jantungnya juga sedikit tak karuan karna Ara yang menyenderkan di dadanya. Jantungnya berdetak jauh lebih cepat dari sebelumnya.
"Kok kedengeran banget detak jantungnya mana lebih cepat lagi bunyinya" guman Ara yang melekatkan telinganya ke dada Nathan.
"Udah nyampe" ucap Nathan karna memang mereka sudah sampai di dekat penjual peremen kapas.
__ADS_1
Ara langsung melepaskan tangannya dari jas Nathan dan juga kepalanya yang tadinya tersender di dada bidang laki laki itu.
"Bang saya pesen tiga" ucap Ara kepada penjual itu.
"Baik neng" jawab penjual itu sambil melebarkan senyumnya. Ara hanya membalas dengan senyuman.
"Kenapa belinya banyak?" tanya Nathan kepada Ara.
"Buat Rafael satu buat lo satu buat gue satu" jelas Ara.
"Aku gak mau" jawab Nathan datar.
"Ini neng" ucap penjual permen itu sambil menyodorkan 3 permen kapas kepada Ara. Ara menerimanya dan setelah itu memberikan uang kepada pedagang itu.
"Ini buat lo" ucap Ara sambil menyodorkan satu permen kapas kepada Nathan.
"Kan aku udah bilang aku gak mau" jawab Nathan datar.
"Yaudah kalo gak mau" ketus Ara dan melahap permen itu sambil melanjutkan perjalanannya.
"Kita naik taxi aja" ajak Nathan kepada Ara.
"Gue mau jalan kaki" jawab Ara sambil melanjutkan perjalanannya karna memang akhir akhir ini dia sangat suka berjalan kaki dari pada naik kendaraan umum.
"Kenapa nyusul gue?" tanya Ara datar sambil menyantap permen kapas miliknya itu.
"Emng kamu berani pulang sendiri?" tanya Nathan.
"Emang lo pikir gue takut pulang sendiri?" ketus Ara.
"Tadi aja kamu takut" ledek Nathan.
"Ssshhttt" umpat Ara karna dia tidak tahu lagi ingin menjawab apa.
Ara dan Nathan berjalan melewati jalan raya hingga tak terasa komplek perumahan yang mereka tempati sudah lumayan dekat.
"Aaaa" ucap Ara hampir saja terjatuh karna tidak pokus ke jalan dan dia menyantap permen kapasnya itu.
"Aduh" ucap Ara yang sudah terjatuh dan kakinya sakit. Nathan yang tadinya pokus ke jalan langsung menghampiri Ara yang terjatuh di belakangnya.
"Kenapa?" tanya Nathan.
__ADS_1
"Permen gue" ucap Ara melihat semua permennya itu masuk ke dalam selokan dan sudah di basahi oleh air di dalam selokan itu.
"Kok malah mikir permen sih?" guman Nathan dalam hati karna untuk pertama kalinya dia melihat seseorang jatuh tanpa memikirkan dirinya tapi malah mikir makanannya.
"Ayo bangun" ucap Nathan sambil membimbing Ara untuk bangun.
"Permen gue" ucap Ara sambil menatap lekat wajah Nathan dengan mata sedikit berair ntah itu karna kakinya sakit atau memang karna permennya yang terjatuh.
"Gak usah pikirin itu bangun dulu" perintah Nathan. Ara menurut dia ingin berdiri tapi kakinya sakit.
"Auu" rengek Ara kembali terduduk.
"Kenapa?" tanya Nathan.
"Kaki gue sakit" rengek Ara lagi persis seperti anak kecil.
"Naik" perintah Nathan membelakangi Ara dan menyuruh Ara naik ke atas punggungnya tapi Ara tidak menaiki punggungnya yang membuat dia kesal.
"Ayo cepetan naik" perintah Nathan. Ara langsung naik ke atas punggung Nathan. Setelah Ara nak Nathan langsung berdiri dan melanjutkan jalannya lagi.
"Permen gue gimana?" tanya Ara yang berada di gendongan punggung Nathan.
"Masih mikirin itu kamu?" tanya Nathan tanpa menghentikan langkahnya.
"Iyaa" jawab Ara menatap lekat wajah Nathan dari samping.
"Lain kali aja kita beli....sekarang pikirin kaki kamu aja" ucap Nathan langsung menolehkan wajahnya dan wajahnya itu tercium oleh bibir tipis Ara karna Ara menghadap dekat sekali di samping wajah Nathan.
Nathan kaget begitupun dengan Ara. Jantung Nathan terasa sangat tidak karuan saat di cium tak sengaja oleh wanita yang sedang ia gendong itu. Sedangkan Ara memegang bibirnya dan memukul pelan bibirnya.
"Kenapa bisa nyium dia sih" guman Ara dan memukul bibir nya yang sudah lancang mencium Nathan.
"Maapin gue...gue gak sengaja" ucap Ara datar tanpa memindahkan posisinya dari gendongan Nathan.
"Aku juga minta maap" ucap Nathan dan kembali melanjutkan jalannya.
Sekitar 10 menit Nathan menggendong Ara samai akhirnya dia sampai di dekat rumah kakek Ara. "Pamaan bibi Ara pulang" teriak Ara karna pintu pagar itu terkunci dan teriakan itu membuat gendang telinga Nathan hampir pecah karna Ara belum turun dari punggung Nathan.
"Jangan teriak" ucap Nathan kepada Ara.
"Bibii Ara pulang" teriak Ara sambil mengguncang pintu pagar rumah itu.
__ADS_1
"Turun" perintah Nathan kepada Ara.
"Auuu sakit" rengek Ara berpura pura karna dia malas turun dan dia juga suka di gendong seperti itu.