Ara Dan Nathan

Ara Dan Nathan
Cincin


__ADS_3

"Apa?" teriak Ara sngat kencang sambil membulatkan sempurna matanya itu biarpun tidak terlalu besar matanya itu.


"Jangan teriak teriak" ucap Teo dan langsung mengambil alih Fera yang berada di pelukan Ara.


"Sheyla ini ambil anak kamu" ucap Teo karna memang kamar Sheyla tidak lah jauh dan dia juga tidak berkumpul bersama yng lainnya karna Fikri sedang sakit di dalam kamar.


Sheyla mengambil anaknya dan setelah itu kembli ke kamarnya setelah pamit.


"Gimana kamu mau Ara?" tanya Windi.


"Kenapa harus di jodohin? Ara gak mau" jawab Ara karna memang dia tidak pernah suka terhadap Nathan.


"Kenapa kamu gak mau?" tanya Windi. Ara langsung berdiri dari duduknya.


"Duduk" perintah Teo. Ara masih belum duduk dia menatap wajah Nita yang nampak sedikit kecewa akan jawabannya yang mengatakan bahwa dia tidak ingin di jodohkan dengan anaknya.


"Huh" Ara mendengus kasar.


"Ara terima perjodohan ini" ucap Ara pasrah karna dia sangat menyayangi Nita meskipun Nita bukan orang tua kandungnya.


"Beneran nak?" tanya Nita dengan wajah bahagianya. Ara langsung berjalan dan berjongkok di depan Nita dia menatap lekat wajah wanita paruh baya itu dan akhirnya senyumnya mengembang melihat Nita yang nampak sangat bahagia atas keputusannya.


"Iya bunda" jawab Ara dengan senyum mengembang.


"Makasih sayang" ucap Nita langsung memeluk Ara. ingin sekali Ara meneteskan air matanya karna dia teringat akan Dewa tapi dia memikirkan Nita yang nampak sangat bahagia makanya dia sekuat tenaga menahan tangis itu.


"Sama sama bunda" jawab Ara dan membalas pelukan hangat itu.


"Nathan sini nak" panggil Nita saat melepaskan pelukannya dari Ara. Ara langsung berdiri dan menatap lekat Nathan.


"Iya bunda" ucap Nathan yng sudah berada tepat di depan Ara.


"Ini cincin tunangan kalian...kamu pakaikan untuk calon istrimu ini" ucap Nita sambil menyodorkan kotak cincin kepada Nathan.


"Gak usah pakai cincin tunangan seharusnya bun'' ucap Ara. Nathan yang mendengar itu menatap lekat ke arahnya.


"Kenapa nak?" tanya Nita.


"Biar sekali langsung cincin nikah aja bun" jawab Ara melebarkan senyumannya secara paksa.


"Cincin nikah udah aku siapin" jawab Nathan karna dia ingat akan cincin yang di berikan oleh Dewa kepadanya.

__ADS_1


"Udah kamu siapin nak?" tanya Nita.


"Yaudah pakein ke gue" ucap Ara menyodorkan tangannya kepada Nathan.


Nathan langsung memakaikan cincin itu ke jari manis Ara sungguh cantik sekali saat dia memakainya. Nita dan Andre tersenyum bahagia melihat itu tapi tidak dengan Teo yang hanya menatap datar.


"Huh" Ara mendengus kecil tapi terdengar oleh Nathan mungkin karna dia menahan tangisnya.


Nathan sudah selesai memakaikan cincin di tangan Ara dan setelah itu Ara yang memakaikan cincin ke jari manis Nathan.


Semua orang yang da di sana terlihat bahagia meskipun Teo bahagia karna terpaksa. mereka bertepuk tangan saat cincin telah di pakai sungguh kebahagian bagi Nita dan juga Andre. Ara tersenyum bahagia melihat Nita dan Andre yang nampak sangat bahagia. Mungkin ini jalan yang terbaik dan dia tidak boleh egois mungkin itu yang ada di dalam pikiran Ara.


"Pernikahannya akan di laksanakan dua hari lagi ya nak" ucap Nita saat Ara meminum.


"Uhuk" Ara terbatuk karna tersedak.


"Kenapa cepat banget bun?" tanya Ara sambil mengelap mulutnya itu.


"Lebih cepat kan lebih baik" jawab Nita sambil melebarkan senyumannya.


"Gak terlalu cepet bun?" tanya Ara sedangkan Nathan hanya menatap lekat tunangannya itu.


"Itu lebih baik sayang" jawab Nita mengusap lembut rambut Ara.


"Justru Ara masih kuliah biar ada yang jagain dia di sana" jawab Nita. Ara menatap ke arah Nathan dengan tatapan dingin.


"Ara terima" jawab Ara. dia sekarang pasrah jika harus di nikahkan dengan Nathan karna dia tidak mau melihat Nita bersedih.


"Pernikahannya di adakan di mana Nit?" tanya Windi.


"Disini aja" jawab Nita.


"Yaudah nanti aku siapin" jawab Windi.


"Biar aku yang urus itu kamu tinggak terima beresnya aja" jawab Nita.


Setelah selesai berbincang bincang keluarga pernandess berpamitan pulang dan semuanya hanya mengiyakannya.


"Sheyla gue mau pulang" teriak Ara dari luar pintu kamar Sheyla.


"Kamu mau kemana?" tanya Teo datar.

__ADS_1


"Pulang" jawab Ara dan langsung berlalu untuk menemui bi Nur.


"Bibi Ara pamit" ucap Ara ambil menyalami bi Nur.


"Hati hati non" ucap bi Nur karna memang tadi mereka sudah melepas rindu satu sama lain.


"Kamu mau nikah gak boleh kemana mana" ucap Teo menghentikan langkahnya.


"Ara gak ada hak disini jadi Ara mau pergi" ucap Ara dan langsung berlalu tanpa pamit.


"Ara tunggu kamu gak boleh kemana mana" ucap Windi sambil memegang tangan Ara.


"Mami besok Ara bakal kesini lagi ya" jawab Ara sambil melebarkan senyumannya dan memeluk Windi.


"Kamu hati hati ya nak" ucap Windi. Ara langsung meninggalkan kediaman Wijaya dan menuju ke jalan raya.


Ara menaiki taxi untuk menuju ke rumah kakeknya dan Sesampai di sana dia langsung masuk dan sedari tadi ada seseorang yang menunggunya di tempat mana yang bisa melihat ke jendela kamarnya.


Ara langsung membersihkan tubuhnya di dalam kamar mandi. Dia berendam sebentar di bathup.


Ara sudah keluar dari dalam kamar mandi dengan menggunakan baju handuk. Dia membuka jendela dan seperti biasa dia menikmati pemandangan sore hari di jendela kamarnya itu.


"Perjodohan?" guman Ara dan langsung berteriak histeris.


Hikssss....hikssss


Ara menangis saat sudah berteriak ntah apa yang membuatnya menangis mungkin karna masalah perjodohan yang tidak pernah ia inginkan itu. Dia langsung mengambilkan poto yang tadi malam sempat ia bawa tidur dan memeluk poto itu.


Hiksss....hikssss


Dia kembali menangis sekencang mungkin dia menundukkan kepalanya dengan wajah yang sudah lumayan sembab itu. Sedari tadi ada sepasanga mata yang memperhatikannya menangis dan berteriak sampai orang itu heran.


"Kenapa dia?" tanya Nathan bingung saat melihat Ara menangis di dekat lemari sambil meletakkan kedua tangannya di dada. orang yang sedari tadi menatap Ara menangis ia lah Nathan karna Nathan sudah berdiri sejak tadi di tempat biasanya dia melihat Ara dari kejauhan.


"Aaaa" teriak Ara dan langsung membanting keras kopernya itu karna kopernya itu terletak di dekatnya dan dia memiliki tenaga yang cukup kuat.


"Dia kenapa?" tanya Nathan lagi yang semakin hawatir akan Ara.


"Hahaha" setelah selesai melempar kopernya itu dan menangis dia tertawa terbahak bahak seperti orang gila.


"Kenapa gue harus di jodohin gini" teriak Ara yang terdengar oleh Nathan.

__ADS_1


"Sampai segitunya dia gak mau di jodohin sama aku?" ucap Nathan sedih.


__ADS_2