
Tapi itu semua tidak membuat ara terbangun dari tidurnya ara sangat nyenyak sekali akan tidurnya itu.Setelah membenarkan posisi tidur ara nathan langsung mengambil ponsel yang di dekap oleh ara dan setelah itu dia menyelimuti tubuh ara dengan selimut yang ia pungut di atas lantai tadi.
Setelah selesai membenarkan posisi tidur ara nathan hendak meletakkan ponsel milik ara di atas meja kecil yang ada di ruangan tersebut dan berniat ingin memanggil OB untuk membereskan ruangan itu tapi niat itu terurung saat dia melihat layar ponsel ara yang masih menyala dan menampakkan poto ara dan dewa.
Nathan sedikit penasaran akan isi ponsel ara dan diapun langsung melihat lihat isi geleri ara. kebanyakan di dalam geleri ponsel milik ara itu hanya poto dan vidio nya dan juga dewa. dia tidak menemukan poto ara bersama dengan keluarga tapi dia menemuka poto ara bersama dengan sheyla juga lumayan banyak di sana.
Di saat baru pertengahan dia melihat isi geleri ponsel milik ara ponsel itu tiba tiba mati karna kehabisan batrai. "Yah mati" ucap nathan dan meletakkan ponsel tersebut di atas meja. Nathan ingin mencenger ponsel ara tapi di dalam ruangan tersebut tidak ada cenger.
"Gak ada casan lagi" ucap nathan dengan suara kecil. Dia pun meletak ponsel milik ara di samping ranjang ara dan keluar untuk memanggilkan OB untuk membersihkan ruangan tersebut.
Nathan mencari cari keberadaan OB rumah sakit dan kebetulan ada satu orang OB yang lewat di depan ruangan tersebut dan nathan langsung memanggil OB tersebut.
"Maap pak....apa bisa tolong bersihkan ruangan ini?" tanya nathan sambil membuka pintu ruangan ara yang terlihat berantakan dan OB tersebut melihat ke ruangan yang di bukakan oleh nathan tadi.
"Bisa tuan" jawab OB tersebut. Nathan pun menyuruh OB tersebut untuk masuk dan segera membersihkan ruangan tersebut.
Setelah OB itu selesai membersihkan ruangan ara OB itu berpamitan untuk melanjutkan pekerjaannya dan nathan mengiyakannya.
"Terima makasih" ucap nathan. OB itupun mengangguk dan langsung keluar dari ruangan itu.
Setelah OB tadi keluar nathan mendudukkan tubunya di kursi sebelah ranjang ara dia menatap lekat wajah ara sedang tertidur yang terlihat sembab akibat menangis. tidak lama kemudian dia pun ikut tertidur dengan posisi duduk membungkukkan tubuhnya dan tangannya menjadi bantal untuk tidurnya.
****
Di kediaman keluarga wijaya
sheyla dan kedua orang tuanya terlihat sedang berkumpul di ruangan keluarga dan ada fikri di sana. Suasana di ruang keluarga itu pun penuh dengan candaan dan obrolan obrolan.
"Oiya mi....gimana keadaan ara?" tanya sheyla di sela sela candaan mereka yang membuat kedua orang tuanya langsung terdiam karna mereka tidak mau jika sheyla mengetahui apa yang terjadi antara mereka dan juga ara. karna jika sheyla mengetahui itu pasti sheyla sangat marah dan mungkin akan pergi dan menemui adik kesayangannya tersebut dan kedua orang tuanya tidak akan membiarkan itu karna haripun sudah larut malam.
__ADS_1
"Ara baik baik aja kok sayang" ucap windi sambil mengacak acak rambut sheyla.
"Sheyla sebenernya mau tidur di sana tapi kan besok Sheyla mau cari cincin tunangan sama fikri.....jadi besok sheyla mampir aja ke rumah sakit buat jengukin ara" ucap sheyla.
"Kamu juga gak perlu nginap di sana.....pasti ada Erina sama Andita yang nemenin dia di sana" ucap teo datar.
"Besok sheyla mau kesana ya mi" ucap sheyla dan di anggukkan oleh windi tapi tidak dengan Teo yang langsung melarang.
"Gak ada gunanya kamu jengukin anak yang gak tau sopan santun itu" tegah teo. Sheyla sedikit bingung akan perkataan papinya itu.
"Papi kenapa ngomong gitu?" tanya sheyla bingung. windi langsung menyenggol kaki Teo suapaya tidak mengatakan apa apa kepada Sheyla tapi Teo hanya diam dan dia tidak menjawab pertanyaan dari anak kesayangannya itu dan memilih pergi ke kamarnya untuk mengistirahatkan tubuhnya.
"Maksud papi kamu itu tadi waktu mami sama api sampe di sana aranya tidur dan gak mau bangun.....makanya papi kamu ngomong gitu" jelas windi berbohong. shyela belum percaya akan penjelasan dari ibunya tersebut.
"Mami gak boong kan? mami gak lagi ada masalahkan sama ara?" tanya sheyla dengan kening yang berkerut.
"Mami gak boong kok sayang.....yaudah mami ke kamar dulu nyusul papi" ucap windi dan meninggalkan Sheyla dan juga fikri. sheyla menatap ibunya itu dengan tatapan penuh tanya dan penasaran. fikri yang melihat kedua orang tua sheyla sudah masuk pun berpamitan pulang sheyla mengantarkan fikri ke depan.
"Besok janji ya temenin aku ke rumah sakit" ucap ara dan langsung memeluk fikri dan fikri mengangguk mengiyakan apa yang di katakan oleh Sheyla.
"Yaudah aku pulang" ucap fikri dan melepaskan pelukan nya dari tubuh mungil sheyla.
"Hati hati" teriak sheyla ketika fikri sudah masuk kedalam mobil.
Setelah melihat mobil fikri sudah tidak terlihat lagi dari kompleks rumahnya diapun masuk ke dalam rumah dengan pikiran sedikit hawatir akan adiknya itu karna sheyla takut ara kenapa napa. Sheyla masuk ke dalam kamarnya dia merebahkan tubuhnya di atas kasur miliknya.
"Mami sama papi asti ada masalah sama ara" ucap sheyla dan langsung terlelap akan tidurnya.
****
__ADS_1
Jam menunjuk pukul 02:33
Di rumah sakit ara dan nathan masih terlelap akan tidur mereka.
"Sayang" panggil dewa yang membuat ara terbangun dari tidurnya.
"Kak dewa" ucap ara sambil menghamburkan pelukannya kepada dewa.
Hikssss.....Hiksss....
Ara menangis di pelukan dewa mungkin karna dia sangat merindukan dewa.
"Hey kenapa nangis?" ucap dewa sambil mengusap lembut rambut ara tapi ara tidak menjawab dan terus menangis di pelukan dewa.
"Udah gak usah nangis" ucap dewa dan langsung mengangkat wajah ara supaya menghadap dan menatap ke arahnya. Ara mendongakkan kepalanya terlihat wajah yang basah akibat tangisannya.
"Udah" ucap dewa sambil mengusap usap lembut wajah ara yang berisi itu.
"Kak dewa kenapa tinggalin ara" ucap ara dengan wajah yang masih di pegang oleh dewa.
"Kakak gak ninggalin kamu kok.....kakak selalu ada di samping kamu" ucap dewa dan kembali mengusap lembut wajah ara. ara tidak menjawab perkataan dewa dia menundukkan pandangannya tapi wajahnya masih di pegang oleh dewa.
"Sakit ya?" tanya dewa mengelus elus lembut wajah ara yang sedikit merah akibat tamparan papinya. tapi ara menggelengkan kepalanya.
"Kamu jangan suka ngelawan sama mami sama papi kamu" ucap dewa sambil melebarkan senyumannya.
"Ara gak pernah ngelawan kom" ucap ara dengan bibir di majukan.
"Kakak tadi liat semuanya kakak juga denger......pipi kamu sakit ya di tampar sama papi?" tanyanya lagi yang membuat ara menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
"Kamu kenapa bisa ngelawan kayak gitu sama mereka?" tanya dewa.