Ara Dan Nathan

Ara Dan Nathan
Siapa itu?


__ADS_3

"Oiya saya lupa...silahkan ikut saya masuk ke dalam" ucap aldi sambil mempersilahkan ara masuk. Ailapun tidak mau tinggal dia juga ikut masuk bersama ara dan aldi ke ruangan aldi karna di dalam sana sudah ada ruangan husus untuk pasien yang bermasalah dengan tulang.


Aldi mulai memeriksa ara dengan telaten dia juga membuka perban yang masih di kenakan ara karna memang sudah cukup lama dirinya menggunakan perban itu. "Gimana dok?" tanya ara kepada aldi.


"Tangan kamu sudah membaik dan perban ini bisa lepas dan juga kamu sudah bisa menggunakan tangan kamu seperti biasa tulang kamu juga menyatu dengan baik" jelas aldi yang membuat ara sangat bahagia.


"Beneran dok?" tanya ara dengan wajah bahagianya dan aldi hanya mengangguk mengiyakan sambil melebarkan senyumannya.


"Makasih dok" ucap ara sambil memegang tangan aldi dengan kedua tangannya jantung aldi terasa ingin copot ketika ara menggenggam tangannya sedangkan aila yang melihatnya menggenggam tanga aldi sedikit tak suka.


"Sa....Sama sama" jawab aldi sedikit gugup dan ikut bahagia akan kesembuhan tangan ara.


"Ehemm" dehem aila yang menyadarkan ara.


"Maap dok" ucap ara santai tapi tidak dengan aldi yang masih sangat gugup.


"Yaudah dok saya permisi" pamit ara dan langsung meninggalkan aldi dan juga aila di dalam ruangan itu.


Ara keluar dengan hati yang sangat gembira karna dia sudah sembuh dan bisa kembali beraktifitas. Dia meninggalkan rumah sakit itu dan berniat ingin mencari makanan di pinggir jalan karna dia tadi sempat menarik uang terakhirnya di atm.


Di dalam perjalanan dia melihat tukang bakso yang sedang berjualan dengan gerobaknya di seberang jalan dan sepertinya bakso itu tidak terlalu mahal. Dan diapun memilih untuk menyebrang untuk pergi ke tukang bakso itu.


Di saat dia melihat kendaraan sedikit lengang dia langsung menyebrang tapi dia melihat mobil box seperti mobil yang menabrak mobil yang di kendarai dewa dengan dirinya dan itu membuatnya takut dan kembali memundurkan tubuhnya. Pikirannya kacau setelah melihat mobil tadi kejadian yang merenggut nyawa kekasihnya itu kembali teringat di pikirannya.


Dia sangat takut mengingat kejadian itu. dia langsung berjongkok dan menutup kepalanya menggunakan kedua tangannya karna dia sangat takut.


Nathan yang mengendarai mobilnya tidak jauh dari ara sedari tadi memperhatikan ara begitupun dengan deny yang selalu mengikutinya tanpa sepengetahuannya. Nathan sedari tadi memperhatikan ara karna dia belum yakin itu ara karna tangan ara patah dan menggunakan perban sedangkan orang dia lihat tidak menggunakan perban dan baik baik saja.


Nathan memilih untuk berhenti tepat di depan ara. ara masih menunduk takut karna dia mengingat kejadian itu. "Ara?" panggil nathan ragu yang sudah keluar dari mobil miliknya.


"Kak dewa" ucapan yang sedari tadi keluar dari mulut ara.

__ADS_1


"Ara" panggil nathan lagi tapi tetap sama ara tidak mengubrisnya.


"Kak dewa" kata kata itu terdengar jelas di telinga nathan dan dia yakin bahwa itu adalah ara. Nathan ikut berjongkok di depan ara dia memegang tangan ara yang gemetaran akibat ketakutan.


"Ra" panggilnya lagi. ara mendongakkan kepalanya melihat ke arah nathan karna nathan memegang tangannya. Dia menatap nathan dengan wajah yang di penuhi keringat dingin akibat ketakutan dan mungkin itu trauma berat bagi ara.


"Lo ngapain di sini?" tanya nathan yang melihat ara tidak menjawab panggilannya.


"Gw takut" ucap ara gemetaran nathan tau jika ara gemetaran karna tangan ara masih di dalam genggamannya. tangan itu terasa sangat dingin akibat ketakutan yang sangat mendalam.


"Lo gak usah takut ada gw" ucap nathan sambil memeluk tubuh ara berharap supaya wanita itu bisa tenang dan tidak takut lagi.


Dany yang jarak mobilnya tidak terlalu jauh dari mereka langsung memotret momen itu dan mengirimkannya kepada nyonya besar yaitu nita.


"Dany sand photo" ponsel nita bergetar tanda ada notif dan dia langsung mengambil ponselnya yang terletak di atas meja ruang tamu itu dan langsung membuka pesan dari dany.


Dia menatap lekat poto itu dengan sedikit bingung akan siapa yang berada di poto itu. "Siapa ini?" tanya nya keada diri sendiri.


"Siapa itu?" isi pesan nita yang menanyakan siaa yang berada di dalam poto itu karna wajah pria yang menggunakan jas itu tidak terlihat dan wajah wanita itu tertutup oleh jas laki laki itu.


"Nathan?" tanyanya sedikit bingung dan dia mengingat jika nathan pagi itu pergi ke kantor untuk menemani ayahnya.


"Beneran dia nathan?" balas nita yang sedikit tidak percaya.


"Iya nyonya" balas dany singkat dan nita nampak bahagia melihat poto itu karna menurutnya nathan dan juga ara sudah mulai dekat.


Ara masih dalam pelukan nathan dia sangat ketakutan hingga tubuhnya menjadi gemetaran akan ketakutannya itu. "Kamu gak usah takut lagi" ucap nathan yang mencoba membujuk ara sambil membelai lembut rambut ara.


"Kak dewa" ucapan yang terdengar sedari tadi.


"Yaudah aku antar kamu pulang aja" ucap nathan dan membimbing ara masuk ke dalam mobil tapi ara menolak.

__ADS_1


Ara menggelengkan kepalanya dan berhenti melangkah. "Kenapa?" tanya nathan bingung.


"Gw laper" ucap ara tanpa malu karna dia selalu berkata jujur dan tidak seperti yang lain jika lapar di bilang tidak. meskipun dia sedang ketakutan tapi lapar tetaplah lapar.


"Mau makan apa?" tanya nathan. ara menunjuk ke arah seberang jalan ada seorang tukang bakso yang sedang berjualan di sana dan lumayan banyak juga pelanggannya.


"Kamu yakin mau makan disana?" tanya nathan setelah melihat ke pedagang bakso itu.


"Iya....uang gw cuma cukup buat beli itu" jawab ara tanpa malu.


"Di sana aja....biar aku yang traktir" ucap nathan.


"Gak gak usah...utang ponsel aja belum gw lunasin" ucap ara dengan wajah sedikit memelas.


"Aku gak minta di balikin uangnya" ucap nathan kembali datar.


"Gw tetep gak mau....tolong bantuin gw nyebrang gw bener bener gak berani" ucap ara sedikit takut ketika melihat mobil lalu lalang di depannya.


Nathan pun membantu ara menyebrangi jalanan itu dengan takut ara menyebrang jalan itu tangannya memegang erat jas yang di pakaikan oleh nathan. Sesampai di seberang ara langsung duduk membelakangi jalanan karna dia sedikit takut untuk melihat mobil mobil besar berlalu lalang dia juga langsung memesan bakso untuk di makannya.


"Makasih" ucap ara sambil tersenyum tulus menghadap ke nathan. nathan tidak menjawab perkataan ara.


pedagang bakso itupun mengantarkan pesanan ara. "Makasih bang" ucap ara. diapun mengambil garpu dan sendok. dia menuangkan sedikit saos tomat yang ada di hadapannya dan setelah itu dia menuangkan kecap yang lumayan banyak dan mengaduk aduknya. dengan semanangat dia ingin menyuapi makanan itu ke dalam mulutnya tapi nathan pun ikut duduk di depan ara.


"Lo ngapain masih disini?" tanya ara yang melihat nathan duduk di depannya.


"Bukannya kamu masih takut?" tanya nathan.


"Sedikit" jawab ara sambil menundukkan pandangnya.


"Yaudah cepetan habisin biar aku antar kamu pulang" ucap nathan.

__ADS_1


"Lo gak mau?" tawar ara keada nathan.


"Gak kamu makan sendiri aja" jawab nathan datar dan mengalihkan pandangannya ke jalanan. ara yang mendapat jawaban seperti itu langsung menyuapi bakso yang di hadapannya itu ke dalam mulutnya dia mengunya bakso itu dengan sangat lahap mungkin karna tidak makan tadi sebelum berangkat ke rumah sakit.


__ADS_2