Ara Dan Nathan

Ara Dan Nathan
Wijaya grup


__ADS_3

Ara dan Nathan sudah masuk ke dalam kamar mereka. Nathan mendudukkan tubuh istrinya itu di atas ranjang dan menatap lekat wajah wanita yang masih ketakutan itu.


"Istirahat lah" ucap Nathan kepada Ara dan ingin berlalu ke bawah.


"Jangan tinggalin Ara" ucap Ara menggapai tangan sang suami yang ingin pergi itu dan menatap suami nya itu. Nathan melebarkan senyuman nya dan langsung mendudukkan tubuhnya tepat di depan sang istri.


"Kakak gak bakal ninggalin kamu kok" jawab Nathan dengan mengusap lembut wajah sang istri dengan senyum yang mengembang.


Nathan membaring kan tubuh nya di samping sang istri dan dia juga membaringkan tubuh sang istri. Ara membenam kan kepala nya di dada bidang sang suami. Nathan tidak menolak nya dan mengusap lembut kepala sang istri dan sesekali mencium nya.


"Tidur ya, Istirahat, Nanti kamu bangun semua nya udah baik baik aja" ucap Nathan yang tau jika sang istri masih memikirkan kejadian lima tahun lalu. Ara mencoba memejam kan matanya dan memeluk erat tubuh sang suami berharap sang suami tidak meninggal kan nya.


Akhir nya Ara pun tertidur pulas di dalam pelukan sang suami. Nathan menatap lekat wanita yang ada di dalam pelukan nya itu. "Kakak bakal jagain kamu terus, Kamu gak usah hawatir" ucap Nathan dan mencium pucuk kepala sang istri dengan penuh kasih sayang.


Nathan mencoba melepaskan tangan sang istri dengan sangat pelan dari perut nya dan akhir nya terlepas dan setelah itu dia beranjak dari tempat tidur itu dan menuju ke balkon kamar nya itu.


Nathan mengeluar kan ponsel miliknya yang masih ada di dalam saku celana nya dan menelpon asisten nya yakni Lucy.


"Halo Lucy" ucap Nathan saat Lucy sudah mengangkat telpon itu.


"Halo pak" jawab Lucy.


"Kamu cari kan pengawal yang sangat ahli untuk menjaga istri saya" perintah Nathan.


"Pengawal yang seperti apa pak?" tanya Nathan.


"Kamu harus mencari yang bisa di andal kan dan bisa menjaga istri saya dan gaji akan saya berikan tiga kali lipat dari paman Deny" jelas Nathan karna memang yang selalu mencari pengawal yang tepat ialah Lucy dan Deny juga Lucy yang mencari kan nya.


"Baik pak" jawab Lucy. Nathan langsung mematikan telpon nya dan kembali ke ranjang dan ikut tertidur bersama sang istri.

__ADS_1


****


"Kamu" teriak Rizal yang sudah menyaksikan Teo yang hampir saja mencelakai Ara. Rizal ingin menghajar Teo tapi kedua pengawal Teo dengan cepat mencegah Rizal.


"Kamu gak puas udah bunuh kak Zidan sama kak Rianti?" teriak Rizal yang berusaha melepaskan diri dari kedua pengawal Teo itu.


"Aku udah bilang kan sama kamu kalo aku bakal ngehabisin Wijaya grup" jawab Teo karna memang nama keluarga nya itu bukan Wijaya melainkan Baskara grup dan tadi Teo lah yang hampir mencelakakan Ara dan untung nya Nathan dengan segera menangkap tubuh Ara tadi jika tidak mungkin Ara sudah berada di rumah sakit sekarang.


"Memang dasar kamu iblis Teo" bentak Rizal yang memang tadi sempat melihat keponakan nya yang hampir tertabrak saat dia ingin masuk ke dalam komplek perumahan atau ingin pulang tadi.


"Bawa dia pergi" perintah Teo kepada kedua pengawal nya. Kedua pengawal Teo pun menyeret Rizal keluar dari pekarangan rumah itu.


"Paman akan selalu menjaga mu sayang" ucap Rizal dan langsung masuk ke dalam mobil dan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju ke rumah orang tua nya.


Setelah sampai di rumah Rizal nampak di tunggu oleh seseorang lelaki di depan pagar rumah sedangkan Kya dia tidak melihat nya. Rizal turun dari mobilnya dan menuju ke dekat orang yang menunggu di depan pagar rumah itu.


"Apa kah anda Rizal alexander?" tanya orang itu.


"Iya saya sendiri" jawab Rizal mengangguk mengiyakan nya.


"Sebelum nya saya minta maaf...perkenal kan nama saya Qori" ucap Qori sambil menyodorkan tangannya untuk berjabat dengan Rizal. Rizal menerima jabatan tangan itu dan mereka berdua pun bersalaman.


"Anda minta maaf kenapa?" tanya Rizal. Qori langsung bersimpuh di hadapan Rizal.


"Maaf kan saya" ucap Qori menyesal.


"Hey berdiri lah" perintah Rizal sambil memegang bahu Qori. Qori langsung berdiri.


"Mari masuk" ajak Rizal kepada Qori. Qori mengikuti Rizal dari belakang dan ikut masuk ke dalam halaman rumah itu.

__ADS_1


"Kita di ruangan tertutup saja tuan" ucap Qori. Rizal menatap lekat Qori sebelum dia mengiyakannya.


"Yasudah ayo" ajak Rizal. Qori mengikuti nya. Rizal membawa Qori ke belakang yang di mana di sana lah ada ruangan yang tidak berpenghuni dan memng itu di husus kan untuk pekerja rumah itu tapi rumah itu sekarang tidak memiliki pekerja.


"Apa yang ingin anda katakan?" tanya Rizal kepada Qori.


"Huh" Qori mendengus kasar dan menunduk kan kepala nya. "Saya minta maaf tuan" ucap Qori masih ragu untuk mengakui kesalahan nya.


"Minta maaf untuk apa?" tanya Rizal yang bingun akan ucapan Qori.


"Saya yang sudah menyabotase mobil pak Zidan waktu itu" jawab Qori memberanikan diri. Rizal yang mendengar itu langsung murka dan langsung melayangkan tinju nya di wajah Qori.


"Kenapa kamu berani mencelakai nya?" bentak Rizal yang emosi nya sudah berada di ubun ubun.


"Saya di suruh oleh Teo" jawab Qori yang masih menunduk kan kepala nya dan tidak mengeluh sakit sedikit pun karna dia sudah tau pasti Rizal akan murka dan dia akan menerima akibat nya untuk mendapat kan maaf dari Rizal dan keluarga.


"Kenapa kamu mau?" bentak Teo lagi dengan tangan yang sudah menggepal.


"Waktu itu saya di ancam tuan makanya saya terpaksa mengiyakan nya dan sekarang saya sangat menyesal dan saya akan menerima apapun yang anda lakukan kepada saya" jelas Qori yang sangat menyesal dengan menunduk kan kepala nya.


"Kamu" teriak Rizal dan langsung menghajar Qori habis habisan. Qori hanya bisa pasrah dan tidak melawan mungkin itu akan membuat Rizal me maaf kan nya.


Rizal membabi buta memukul sangat keras dan sekuat tenaga tubuh Qori dan Qori tidak membalas nya karna dia sudah berjanji tidak akan lagi menganiaya orang dan dia berjanji kepada almarhum anak nya yang di bunuh oleh Teo.


Anak Qori di bunuh oleh Teo karna waktu Teo menyuruh Qori untuk menghabisi Ara Qori menolak nya makanya Teo menghabisi anak Qori dengan membuang anak Qori itu ke jembatan di mana tempat kecelakaan kedua orang tua Ara dulu.


"Huh" Rizal mendengus kasar untuk menenangkan emosinya karna wajah Qori sudah nampak memerah dan memar akibat pukulan nya.


"Kenapa kamu tidak menyerah kan diri ke polisi?" tanya rizal yang emosinya sudah meredam.

__ADS_1


__ADS_2