
"Mau ngerjain aku kamu?" guman Nathan karna sedari tadi dia bisa melihat istrinya itu dan mendengar ucapan demi ucapan yang keluar dari mulut sang istri.
"Udah selesai?" tanya Nathan saat sudah duduk di meja makan dan hanya tinggal menunggu makanan dari istrinya itu.
"Bentar lagi" jawab Ara. Tidak lama kemudian Arapun sudah selesai memasak dan langsung memberikan nasi goreng milik Nathan kepada Nathan dan dia berlalu ingin ke toilet sebentar.
Nathan yang melihat istrinya sudah pergipun langsung menukarkan nasi goreng yang seharusnya miliknya dengan milik istrinya itu.
Ara sudah kembali dan Nathan terburu buru memakan nasi goreng itu dengan lahap dan Ara hanya menatapnya dengan tatapan senangnya dan senyum yang mengembang.
"Kenapa liatin aku? ayo makan" ucap Nathan. Ara melebarkan senyumannya dan langsung melahap makanan yang ada di hadapannya itu.
Nathan sudah terlebih dahulu selesai makan dan bersiap siap ingin pergi ke kantor. Tapi tidak dengan Ara yang sedari tadi bolak balik masuk ke dalam wc karna sakit perut.
"Kok perut gue sih yang sakit?" guman Ara bingung.
"Apa jangan jangan dia tuker nasinya waktu gue ke toilet" ucap Ara yang berada di dalam toilet.
"Ara gak kuliah?" tanya Nathan mengetuk pintu toilet itu.
"Lo duluan aja...gue bisa naik bis" teriak Ara dari dalam toilet itu.
"Kamu gapapa?" tanya Nathan sedikit hawatir.
"Gak gue gapapa....udah lo berangkat aja" teriak Ara.
"Yaudah aku berangkat ya nanti kalo ada apa apa kabari aku" teriak Nathan kambali.
"Iya" jawab Ara. Nathan langsung berangkat di temani oleh Vino dan Azlan pergi ke kantornya.
Di kampus Ara. terlihat Erina dan Andita sedang menunggunya. mereka tidak menjemput Ara karna sudah beberapa minggu ini Ara selalu berangkat bersama dengan Nathan jika ke kampus.
"Lo telpon aja dia" ucap Erina, Andita pun langsung menelpon Ara.
"Halo ra lo dimana?" tanya Erina saat telpon itu sudah tersambung.
"Gue masih di apartemen" jawab Ara.
"Kenapa belum berangkat?" tanya Erina.
"Ben..." ucap Ara terpotong karna dia sudah tak sadarkan diri di apartemen itu dan terdengar suara hentakan karna ponsel milik Ara juga terjatuh di lantai.
__ADS_1
"Ara" panggil Erina hawatir.
"Kenapa?" tanya Andita melihat Erina hawatir.
"Kayak nya Ara kenapa napa deh Dit soalnya bunyi orang jatuh dan abis itu dia gak jawab telpon lagi" jelas Erina yang sangat hawatir.
"Yaudah ayo kita liat dia di apartemen" ajak Andita. Erina pun mengiyakannya dan langsung mencari taxi untuk kembali ke apartemen.
"Telpon kak Nathan Er" perintah Andita.
"Gue gak punya nomor ponselnya" jawab Erina.
"Vino" jawab Andita. Erina sesegera mungkin menelpon kekasihnya itu dengan perasaan masih hawatir akan Ara.
"Halo sayang?" jawab Vino saat telpon itu sudah tersambung.
"Kak Nathan mana?" tanya Erina yang terdengar hawatir di sebrang telpon.
"Ada kenapa?" tanya Vino.
"Suruh dia pulang ke apartemen" jawab Erina.
"Cepetan sayang Ara kayaknya kenapa napa soalnya waktu di telpon tadi bunyi orang jatuh...cepetan bilang sama kak Nathan" perintah Erina yang sangat hawatir.
"Kita harus pulang sekarang" jawab Vino.
"Kenapa?" tanya Nathan bingung.
"Ara pingsan di apartemen" jawab Vino. Nathan yang mendengar itu langsung turun dan memasuki mobilnya dan tidak lama dia mengendarai mobilnya dia sampai di apartemennya dan langsung memasuki lift.
Saat sudah sampai di lantai tempat apartemennya. Nathan dan Vino bergegas menuju ke apartemennya dan terlihat Erina dan Andita yang berdiri di depan pintu apartemen itu.
Nathan sesegera mungkin membuka pintu itu dan melihat istrinya tergeletak di lantai apartemen dan ponselnya berada tidak jauh dari tangannya.
"Panggil dokter" perintah Nathan sambil menggendong istrinya itu ke dalam kamar dan merebahkan tubuh istrinya itu.
Nathan melepaskan sepatu yang di kenakan istrinya itu dan menatap lekat wajah wanita itu. Tidak lama kemudian dokter pun datang dan langsung memeriksa Ara.
"Kenapa dengan istri saya dok?" tanya Nathan yang nampak hawatir.
"Istri anda seperti kena diare tuan" jawab dokter itu.
__ADS_1
"Di sebabkan oleh apa?" tanya Nathan yang semakin hawatir.
"Apa istri anda tadi pagi memakan makanan pedas?" tanya Dokter itu. Nathan tidak menjawabnya.
"Kalo memang dia tadi pagi memakan makanan pedas mungkin di sebabkan oleh itu tuan" jelas dokter itu.
"Beri kan obat untuk menyembuhkan istri saya" perintah Nathan. dokter itu langsung memberikan obat kepada Nathan.
"Kalau begitu saya pamit undurkan diri tuan" ucap Dokter itu. Nthan tidak menajwab dan mencoba membangunkan istrinya itu dengan meletakkan minyak kayu putih di dekat hidung istrinya itu.
Dokter itu langsung keluar dan Vino hanya mengantarkannya sebatas pintu apartemen dan kembali masuk ke dalam apartemen.
Nathan nampak sangat hawatir akan istrinya itu dia juga menggosokkan minyak kayu putih itu di perut istrinya. "Dia memang gak bisa makan pedas ya?" tanya Nathan menatap Andita dan Erina secara bergantian.
"Ara emang gak bisa makan pedes dari kecil" jawab Erina. Nathan kembali menatap istrinya itu dan menggenggam tangannya karna dia sangat merasa bersalah telah menukarkan nasi miliknya dengan milik istrinya itu. Ara terbangun dari pingsannya.
"Kenapa gak bilang kalo gak bisa makan pedas?" tanya Nathan langsung saat Ara terbangun.
"Emang lo ada nanya?" tanya Ara yang masih lemah.
"Maafin aku" ucap Nathan dan kembali menggenggam tangan istrinya itu. Ara sudah bisa menebak kenapa Nathan meminta maaf.
"Beliin obat buat gue" ucap Ara yang masih merasakan sakit di perutnya.
"Gue pikir lo hamil ra" ucap Andita yang membuat semua mata tertuju kepadanya.
"Ngomong apa lo barusan hah" ketus Ara dengan melototkan kedua matanya menghadap ke arah temannya itu.
"Gue pikir lo hamil soalnya kan kalian juga udah nikah kurang lebih satu bulan" jelas Andita karna dia sangat berharap jika temannya itu hamil.
"Gak usah ngomong itu" ketus Ara. Nathan hanya menatap istrinya itu.
"Ini obat buat kamu" ucap Nathan sambil menyodorkan obat yang di berikan dokter kepada istrinya itu.
"Tolong ambilin air" ucap Nathan meminta tolong dengan Vino. Vino pun mengiyakannya dan mengambil air untuk Ara di dapur.
Setelah Vino mengambilkan air dia langsung memberikan air itu kepada Nathan dan Nathan pun membimbing istrinya itu untuk meminum obat.
Setelah selesai meminum obat Nathan meletakkan gelas dan juga obat milik Ara di samping ranjang yang terdapat lemari kecil.
"Istirahat" perintah Nathan saat melihat Ara ingin berlalu ntah kemana sedangkan teman temannya tadi dan juga Vino sudah pergi. Nathan menyuruh Vino untuk mengurus kantor sampai Ara sembuh dan kedua sahabatnya itu pergi ke kampus untuk kuliah.
__ADS_1