
Nita masih berada di kamar yang di tempati oleh ara begitupun dengan andre. Mereka berdua menatap lekat wajah calon menantunya yang nampak sangat sembab akibat menangis dan mereka juga mencium bau alkohol yang sangat menyengat yang berasal dari tubuh ara.
Mata nita tertuju kepada lutut ara yang berdarah. "kenapa bisa luka?" tanya nita sambil menyentuh lutut ara yang terluka.
Nita mengambil kotak p3k yang ada di kamar itu karna memang setiap kamar sudah di siapkan p3k baik itu kamarnya maupun kamar tamu.
Dia mengobati lutut ara yang luka dengan sangat hati hati dia juga membersihkan lutut ara itu. Ara sedikit bergerak mungkin karena perih tapi matanya tidak terbuka.
Setelah selesai nita membersihkan luka dan mengobati luka ara dia langsung meletakkan kembali kotak p3k itu ke tempatnya lagi dan keluar dari kamar itu diikuti oleh andre karna hari juga sudah sangat larut.
"Bi tolong siapkan baju ganti untuk ara" ucap nita saat bertemu dengan salah satu pelayan rumahnya yang masih bangun karna tadi nathan berteriak dan dia yang masih bangun langsung ke depan.
"Baik nyonya" jawab pelayan itu. Nitapun langsung berlalu memasuki kamarnya diikuti oleh andre dari belakang.
Mereka berduapun langsung merebahkan tubuhnya dan langsung terlelap akan tidurnya itu.
Di kamar Vino dia sudah lama tertidur nyenyak sedari tadi sedangkan di dalam kamar nathan nathan baru sja selesai membersihkan tubuh dan dia sekarang sedang merebahkan tubuhnya di atas kasur di dalam kamarnya itu sambil menatap ke langit langit kamarnya.
"Huh" nathan mendengus kasar saat dia mengingat ingat ara yang terisak di depannya. Nathan seakan akan ikut sedih akan kesedihan ara ntah kenapa dia bisa merasakan kesedihan yang di rasakan oleh ara.
Tidak lama dia memikirkan ara diapun langsung terlelap dengan posisi kki yang masih menggelayut di lantai.
Keesokan paginya saat jam 04:00 ara terbangun dari tidur nya dia menatap sekeliling dengan tatapan kosong dan juga bingung karna dia merasa itu bukan rumah amel ataupun elin dan keluarganya.
Dia menyapu nyapu ke seluruh sudut kamar yang ia tempati itu dan tiba tiba kepalanya merasa pusing dan perutnya mual dan itu membuatnya harus langsung masuk ke dalam kamar mandi yang ada di dalam kamar yang ia tempati.
"Huekkk....huekkk" ara memuntahkan air karna mungkin dia memuntahkan alkohol yang sempat ia minum tadi malam.
__ADS_1
Setelah selesai memuntahkan apa yang ingin dia muntahkan dia kembali duduk di atas kasur kamar itu. Dia kembali menatap ke seluruh kamar itu dan itu sangatlah asing baginya.
Setelah menyapu nyapu sudut sudut ruangan dengan matanya matanya terhenti dan tertuju kepada baju yang terlipat rapi di atas meja samping ranjang di dalam kamar itu. "Eh gue di mana?" ucap Ara yang nampak bingung menatap sekeliling kamar yang di pijaki nya saat ini.
Ara menatap jam dinding dan jam itu menunjuk pulu 04:10 dia ragu harus mandi dan mengganti baju atu pergi?.
"Gw pergi aja kali ya....mana tau gw sekarang di culik" ucap ara dan langsung melangkahkan kakinya menuju pintu kamar itu dan ingin keluar.
"Auuu" ucap ara karna lutunya yang terluka terkena pintu karna ada yang membuka pintu itu dari depan.
"Kamu kenapa?" tanya nathan panik karna dia mendengar ara mengeluh sakit. Nathan memang sering bangun saat jam 4 karna memang dia sering melaksanakan sholat tahajud dan setelah itu dia melanjutkan membaca alquran.
Ara mendongakkan kepalanya menghadap ke nathan yang sudah berada di depannya. "Nathan?" ucap ara bingung karna mungkin dia tidak ingat akan apa yang telah terjadi tadi malam.
"Auu" rengek ara lagi mungkin lukanya itu sedikit perih.
Nathan yang mendengar rengekan ara langsung membimbing ara masuk kembali ke dalam kamar dan dia mendudukkan ara di sudut kasur yang ada di dalam kamar itu.
"Gw dimana?" tanya ara kepada nathan yang masih bingung.
Nathan langsung berdiri dari jongkoknya.
"Kamu di rumah bunda" jawab nathan karna memang rumah itu milik orang tuanya dan bukan miliknya.
"Bunda siapa?" tanya ara kepada nathan dengan menengadah menghadap nathan karna nathan memiliki tinggi badan yang lumayan tinggi yaitu 185cm.
"Bunda aku" jawab nathan datar.
__ADS_1
"Siapa yang bawa gw kesini?" tanya ara lagi kepada nathan.
"Udah gak usah banyak nanya....sana bersihin tubuh kamu yang masih bau alkohol" ketus nathan kepada ara.
Ara mencium bau tubuhnya dan memang benar bau alkohol yang berasal dari tubuhnya sangatlah menyengat dan dia juga tidak menyukai itu.
"Gw gak ada baju" jawab ara yang ti dak tau jika baju di atas meja di samping tempat tidur itu untuknya.
"Itu baju buat kamu" ucap nathan ketus dan langsung meninggalkan ara sendiri di dalam kamar. Ara langsung masuk ke dalam kamar mandi dengan membawa handuk dan juga pakaian yang di atas meja itu karna dia memang selalu mengganti pakaian di dalam kamar mandi karna ruang pakaian di kamarnya yang ada di rumah teo tidak pernah dia buka sama sekali.
Setelah selesai mandi dan juga menggantikan pakaiannya kaki ara sedikit kesakitan karna luka di lututnya itu terkena air. "Auu kok bisa luka kaki gw" ucap ara yang tidak sadar apa yang terjadi tadi malam.
Ara berjalan pelan keluar dari kamar itu tana membawa apa apa dan baju yang ia gunakan tadi hanya di letakkannya di dalam kamar mandi dan mungkin dia lupa ingin membawanya.
"Sayang kamu udah bangun?" tanya nita yang baru saja keluar dari kamarnya.
"Iya bunda" jawab ara sambil melebarkan senyumnya dan itu membuat matanya tidak terlihat karna masih sedikit sembab.
"Kita sholat dulu ayo sayang" ajak nita kepada ara.
"Ara mau pulang aja bun mau sholat di panti" jawab ara akan perkataan nita karna dia ingin mencurahkan seluruh isi hatinya kepada yang maha kuasa tanpa ada yang mendengar ataupun yang melihatnya.
"Loh kenapa?" tanya nita kepada ara.
"Gapapa kok bun.....ara kan hari ini juga sekolah" jawab ara karna hari ini adalah hari kamis.
"Yaudah biar sopir yang antar kamu ya sayang....itu sendalnya di pake aja" ucap nita karna ara ingin melepaskan sendal yang ia pakai karna dia kesana tidak membawa apa apa.
__ADS_1
"Yaudah ara pamit bun assalamualaikum" ucap ara dan berlalu pergi meninggalkan nita sedangkan nathan hanya menatapnya dari lantai tiga tanpa ada yang menyadari.
Sesampai di luar ara sudah di tunggu oleh sopir yang sudah di suruh oleh nita untuk mengantarnya. Sopir itu membukakan pintu untuk ara dan ara langsung masuk setelah ara masuk sopir itupun juga masuk ke kursi kemudi dan langsung melajukan mobil dengan kecepatan sedang.