
Nita, Andre, Erina dan Vino yang berada di ruang keluarga pun langsung berjalan ke dapur saat mendengar teriakan Nathan dan Ara. "Ada apa ini?" tanya Andre yang baru saja sampai.
"Iya nak ada apa?" tanya Nita yang juga nampak sedikit hawatir.
"Kenapa nat?" tanya Vino pula.
"Ini ayah, bunda, masa Nathan marahin bibi gara gara Ara cuma kena pisau kan ini bukan salah bibi" jawab Ara akan pertanyaan yang terlontar kepada nya dari tadi.
"Itu emang salah mereka yang ngebiarin kamu sampe luka gini" bantah Nathan.
"Mereka gak salah, Ini salah aku sendiri akibat terlalu ceroboh" bantah Ara yang tidak mau kalah dari sang suami.
"Ini memang salah mereka kamu gak usah membantah ucapan aku" ketus Nathan yang sedikit emosi.
"Sudah lah jangan ribut seperti ini" ucap Erina yang mencoba menenang kan Nathan maupun Ara dan ingin mendekat tapi Nita melarang dan dia lah yang mendekat.
"Siapa yang ngebantah? Emang mereka gak salah" jawab Ara.
"Kamu yang ngebantah dari tadi" bentak Nathan yang juga sudah mulai tidak bisa mengontrol emosi akibat fikiran yang kemana mana.
"Hey kenapa kamu hadi emosi gini? lebih baik aku tusuk aja pisau ini ke tubuh aku biar kamu gak pernah marahin semua orang lagi" jawab Ara yang sangat kesal dan ingin menusukkan pisau ke perut nya tapi denagn segera Nita mengambil nya.
__ADS_1
"Jangan nak" ucap Nita dengan membuang pisau itu. sedang kan Nathan dia hanya melihat nya karna dia masih kesal.
"Kenapa gak jadi hah?" tanya Nathan dengan suara tinggi.
"Baik aku akan melakukan nya" jawab Ara dan berjalan ke dekat pisau yang di lempar oleh Nita tadi dan kembali ingin menusuk perut nya tapi Nathan memegang pisau itu karna dia tidak sebodoh itu membiarkan wanita yang sangat ia cintai meninggalkan nya apa lagi karna diri nya.
Sedangkan semua pelayan tadi menatap ngeri ke arah Ara dan Nathan yang bermain pisau itu begitupun dengan Vino dan Andre dan Erina dia ketakutan dan memilih melindungi penglihatan nya dengan menyender ke dada bidang Alfin.
"Kamu bodoh?" tanya Nathan dan langsung melempar pisau itu ke lantai dan hampir saja terkena kaki bi Gesya dan untung nya bi Gesya segera menghindar.
"Kamu yang nyuruh aku tadi" teriak Ara kesal dan langsung berlalu meninggalkan semua orang di sana dan naik ke atas menuju ke kamar nya.
Ara berjalan dengan menghentakkan kaki nya karna kesal dan saat sampai di kamar dia langsung masuk dan membanting keras pintu kamar itu dan mengunci nya. "Kenapa dia emosi banget? bukan nya seharus nya aku yang emosi sama dia?" tanya Ara dengan mengusap kasar kepala nya dan langsung menuju ke kamar mandi untuk mandi.
"Ntah lah ayah, Nathan juga gak tau kenapa Nathan emosi tadi" jawab Nathan berbohong padahal dia emosi tadi karna terlalu memikirkan dan membayang kan sang istri yang akan marah maka nya dia emosi saat tadi karna dia mungkin sudah berancang ancang akan membantah ucapan sang istri.
"Kayak nya lo sekarang waktu ketemu sama Ara lo itu emosian tapi mudah senyum beda dari dulu saat belum.bertemu dengan Ara, lo dingin banger dulu ke siapapun termasuk ayah sama bunda" jelas Vino yang sangat melihat perubahan akan sikap saudara nya itu. Nathan tidak menjawab nya dan memilih untuk menaiki anak tangga dan ingin menuju kamar nya tapi Andre menghentikan nya.
"Mau kemana Nathan?" tanya Andre.
"Mau minta maaf sama Ara yah" jawab Nathan dengan nada malas.
__ADS_1
"Jangan sekarang karna sekarang emosi dia juga gak stabil, lebih baik kamu sarapan terlebih dahulu" jelas Andre karna dia mengetahui jika Ara marah dan di dekati oleh orang yang membuat nya marah pasti akan bertambah marah.
Nathan membenar kan ucapan sang ayah dan kembali turun dan mendudukkan tubuh nya di meja makan dan menyantap makanan yang sempat Ara buat tadi dan rasa nya emang enak.
Di dalam kamar.
Ara sudah selesai mandi dan mengintip sedikit keluar karna dia tidak memabwa pakaian atau pun handuk ke dalam kamar mandi akibat emosi tadi. Setelah memastikan kamar nya itu tidak ada siapa siapa secepat kilat dia berlari masuk ke dalam ruang ganti dan dengan segera mengenakan baju handuk milik sang suami karna terburu buru makanya dia terpakai punya sang suami.
Setelah selesai Ara mengoleskan krim tubuh ke kulit tubuh nya dan mengeringkan rambut. setelah itu dia berdiri dan mengenakan pakaian untuk pergi ke acara Andita padahal dia sendiri bilang jika tidak akan pergi.
Ara mengenakan gaun berwarna hitam sebatas lutut dan itu menampakkan kaki jenjang, putih dan mulus itu dengan seatu hak yang senada. Setelah selesai semua nya mulai dari make up dan mengenakan pakaian Ara langsung membuka pintu kamar nya dan terlihat sang suami yang baru saja ingin mengetuk pintu itu.
"Kamu mau kemana?" tanya Nathan saat melihat sang istri yang sudah rapi dan nampak cantik dengan model rambut yang biasa tapi di ikat menjadi bundar.
"Bukan urusan kamu" ketus Ara dan langsung berlalu sedangkan Nathan dia tidak bisa memaksa karna takut nya sang istri kembali marah kepada nya.
Nathan baru ingat akan Qori dan dia bergegas menyusul sang istri yang sudah turun dan di bawah sudah tidak ada siapa siapa lagi kecuali pekerja rumah itu karna semua orang sudah masuk ke dalam kamar masing masing dan bersiap untuk berangkat ke rumah Andita.
"Tunggu" ucap Nathan dengan menggenggam tangan sang istri. Ara menatap nya dengan tatapan yang sangat nampak jika masih kesal.
"Nanti ada pak Qori yang bakal nganterin kamu kemana pun kamu mau" ucap Nathan. Ara tidak menjawab maupun menanya balik dan dia hanya menatap sang suami yang sedang berbicara itu.
__ADS_1
"Huh" Nathan mendengus kasar karna dia yakiin sang istri akan mendiam kan nya lagi. "Dia adalah sopir pribadi kamu dan...." ucap Nathan terpotong saat Qori sudah berada di tangga dan nampak bersama istri dan anak nya yang amsih bayi.
"Ini dia pak Qori, pak Qori perkenalkan ini Ara istri saya" ucap Nathan memperkenalkan sng istri kepada Qori dan mengenalkan Qori ke istri nya. Ara melepaskan tangan nya dari sang suami.