
"Ibu ayo" ajak Yuna dan Okta menarik tangan Ara.
"Tidak sayang" jawab Ara.
"Ibu ini" ucap Okta dan Yuna secara bersamaan dan melepaskan tangan Ara, Ara tersenyum dan kembali duduk seperti semula dan duduk nya itu terlalu tepi hingga bokong nya itu tidak berada di atas ranjang dan hampir saja terjatuh dari ranjang itu.
Nathan yang baru saja membuka pintu kamar itu langsung berlari dan menuju ke dekat sang istri yang hampir saja terjatuh tapi dia tidak bisa menahan nya karna dia menjongkok dan terjatuhlah Ara di atas tubuh suami nya. "Ibu" panggil Yuna dan Okta secara bersamaan dan menoleh ke bawah. Ara merasa sedikit sakit di kepala nya yang terkena bahu berotot sang suami.
"Kau tidak apa apa?" tanya Nathan kepada sang istri. Ara menoleh ke arah sang suami yang ada di bawah nya itu, Mata nya membulat dan dia pun langsung beranjak bangkit dari baring nya tadi.
"Bnngunlah" ucap Ara dan menarik tangan kekar sang suami, Nathan tidak menjawab nya dan beranjak berdiri dari duduk nya dengan di bantu sang istri meskipun tidak terlalu di bantu.
"Kenapa musik kalian kencang sekali hem?" tanya Nathan dengan menatap kedua anak nya itu.
"Ayah jangan marah, Sini Ikuti kami" ucap Okta dan menarik Nathan naik ke atas ranjang sedangkan Ara hanya melihat nya dan menyaksikan nya.
"Ibu ayo ikut" ajak Okta lagi kepada Ara sedangkan Yuna sedang asik berjoget bersama dengan Nathn di atas ranjang.
"Tidak, Ibu tidak mau" jawab Ara akan ajakan Okta.
"Ayo ibu" ajak Yuna dan menarik tangan ibu nya itu.
"Ayo" ajak Nathan dan menarik tangan istri nya hingga naik ke atas ranjang itu dan ikut menari bersama dengan anak anak nya begitupun dengan Nathan. Mereka menari dengan memegang tangan satu sama lain dengan bentuk melingkar hingga hari siang.
"Ah lelah sekali" ucap Ara dan mendudukkan tubuh nya di atas ranjang. Okta dan Yuna juga kelelahan dan membaringkan tubuh mereka di atas ranjang Setelah selesai meminum. Ara beranjak dan mematikan musik sedangkan Nathan duduk di samping kedua anak nya itu.
__ADS_1
"Hey jangan berbaring jika baru selesai menari ucap Ara kepada anak nya itu. Yuna dan Okta mendudukkan tubuh mereka dan bersandar di punggung Nathan.
"Ayah lihatlah ibu galak" ucap Okta dan Yuna yang sudah menjadi sangat kompak sekarang.
"Benarkah?" tanya Nathan dan menoleh ke arah sang istri hinga kedua anak nya itu terlepas dari punggung nya tapi dengan segera Nathan menangkap kedua kepala anak nya itu dengan menggunakan tangan nya yang sama besar dengan kepala anak anak nya itu.
"Hem, Lihatlah" jawab Yuna dan Okta lagi secara bersamaan. Nathan menoleh ke arah sang istri, Ara pun melototkan mata nya kepada sang suami yang menatap nya itu.
"Ibu kalian memang galak" bisik Nathan kepada anak nya itu dan terdengar oleh Ara.
"Apa yang kau katakan kepada mereka?" ketus Ara dengan mata yang masih melotot menatap suami nya itu.
"Lihat itu" bisik Yuna di telinga Nathan saat melihat Ara yang melototkan mata. Ara tidak menjawab nya dan berlalu dari sana dan menuju ke balkon.
"Mau kemana ibu yah?" tanya Yuna kepada Nathan.
"Hem" jawab Nathan dan mengangkat kedua bahunya menandakan jika dia tidak tau kemana sang istri ingin pergi. Yuna melepaskan kepala nya dari Nathan begitupun dengan Okta dan mereka pun membaringkan tubuh mereka di atas ranjang.
"Ajak ayah" ucap Nathan, Yuna dan Okta sama sama bergeser ke samping dan membiarkan Nathan berbaring di antara mereka, Nathan tidak menjawab nya dan membaringkan tubuh nya di antara anak anak nya itu. Nathan menatap langit langit kamar itu dengan pikiran yang kembali memikirkan bagaimana kehidupan sang istri melahir dan membesarkan Yuna tanpa diri nya.
"Kamu lahir kapan Yuna?" tanya Nathan kepada anak nya itu.
"14 april yah" jawab Yuna akan pertanyaan ayah nya itu.
"Oh" jawab Nathan mengangguk mengerti dan tanggal itu tidak jauh dari tangga pernikahan nya dengan sang istri yakni tanggal 18 april dan berjarak empat hari dengan kelahiran Yuna.
__ADS_1
"Ayah tidak menanyaku?" tanya Okta kepada Nathan.
"Ayah sudah tau kapan kau lahir" jawab Nathan dan mencubit hidung anak nya itu.
Ckleekk
Pintu kamar itu terbuka dan terlihatlah Ara masuk ke dalam kamar dengan membawa piring yang berisikan sate yang baru ia beli dan dia siapkan di bawah tad. "Kalian mau?" tanya Ara dan mendudukkan tubuh nya di samping Okta.
"Okta mau" jawab Okta dan beranjak berdiri dan duduk di samping Ara.
"Yuna juga mau" jawab Yuna yang tidak mau kalah dan juga ikut beranjak berdiri dan menuju ke dekat ibu nya. Ara tidak menjawab nya dan memberikan sate itu kepada anak anaknnya.
"Kau tidak mau?" tanya Ara kepada sang suami dengan menatap lekat suami nya itu. Nathan mengangguk mengiyakan nya dna ikut melahap sate yang di belikan oleh Ara cukup banyak. Setelah selesai makan Ara meletakkan bekas makan Mereka tadi ke atas meja yang ada di sana dan mengambil minuman untuk nya dan juga anak anak nya dan tidak lupa mengambil minuman untuk suami nya juga.
Setelah selesai memberikan minum kepada anak dan suami nya Ara kembali berlalu menuju ke balkon, Pikiran nya masih berada ke Delina. "Terima kasih sudah memberi pelajaran dalam hidupku" guman Ara dengan menatap pemandangan siang hari di sana. Nathan yang melihat sang istri tengah termenung di balkon pun langsung menghampiri nya dan memeluk istri nya itu dari belakang.
"Kau sedang memikirkan apa?" tanya Nathan dengan meletakkan dagu nya di bahu sang istri.
"Tidak, Aku tidak memikirkan apa apa" jawab Ara dengan senyum yang melebar dan tangan yang mengusap wajah Nathan.
"Tapi raut wajah mu seperti sedang tidak baik baik saja, Apa yang sedang kau pikirkan?" tanya Nathan dengan membalikkan tubuh istri nya dan sekarang mereka berhadapan, Nathan mengusap lembut wajah istri nya itu dan menyingkirkan rambut yang menutupi wajah istri nya itu.
"Tadi Vino bilang jika kak Delina kecelakaan saat ingin menghampiriku ke bandung" jawab Ara akan pertanyaan sang suami itu.
"Jadi?" tanya Nathan kepada sang istri dengan menatap lekat wajah istri nya itu.
__ADS_1