
"Makanya jangan kayak gitu lagi..kalo kamu mau belilah" ucap Ara lembut Pemuda itu mengangguk mengiyakan dan langsung berlalu.
"Nenek" sapa Ara kepada sang nenek yang nampak tengah menunggu pembeli. Ara berjongkok dan menatap lekat wajah nenek itu dengan senyum yang mengembang. Nathan memarkirkan mobilnya di dekat trotoar yang tidak jauh dari sana dan langsung turun dan menghampiri sang istri.
"Mau beli apa nak?" tanya nenek itu lemah.
"Nenek kenapa masih kerja?" tanya Ara menatap lekat nenek itu.
"Kalo nenek gak kerja nenek gak bisa beli kemauan cucu nenek nak" jawab nenek itu.
"Memangnya cucu nenek minta beli apa?" tanya Ara. Nathan ikut menjongkokkan tubuhnya di samping sang istri karna dia yakin pasti sang istri akan membantu nenek itu.
"Kamu kenapa ikut turun?" tanya Ara menatap Nathan.
"Menyusul mu nona" jawab Nathan dengan senyum yang penuh arti. Ara langsung mengalihkan pandangnya dan kembali menatap sang nenek.
"Emang nenek sejak kapan jualan disini? dari jam berapa?" tanya Ara menatap lekat sang nenek.
"Dari jam 4 pagi nak" jawab nenek itu.
"Udah ada yang beli nek?" tanya Nathan.
"Belum ada nak" jawab nenek itu dengan melebarkan senyumannya.
"Anak anak nenek di mana sampai nenek yang jualan gini?" tanya Nathan sedangkan Ara hanya menatap sang nenek dengan tatapan kasihan dan iba.
"Mereka sudah meninggalkan nenek dan menyusul suami nenek nak" jawab nenek itu dengan air mata yang menetes.
"Eh nenek jangan nangis" ucap Ara dan berjalan dan duduk di sebelah nenek itu dan mengusap lembut bahu nenek itu.
"Nenek jangan nangis gini....ntar Ara gak jadi beli makanan nenek ntar" amcam Ara. Nenek itu berhenti menangis.
__ADS_1
"Maafkan nenek nak" jawab nenek itu.
"Berapa semuanya nek?" tanya Ara melihat lihat dagangan nenek itu.
"100 dolar nak" jawab nenek itu. Ara langsung mengambil uang yang memang selalu ada di dalam saku jaket atau bajunya.
"Ini buat nenek....Ara beli semua" ucap Ara dan menyodorkan uang 2000 dolar kepada nenek itu. Nenek itu membuka lembaran dolar itu.
"Ini terlalu banyak nak" jawab nenek itu.
"Gapapa nek.....ini rezeki nenek" jawab Ara dengan melebarkan senyumannya sedangkan Nathan menatap kagum akan sang istri.
"Makasih nak....makasih banyak" ucap nenek itu dan memegang tangan Ara dan ingin bersalam tapi Ara tidak boleh dan memeluk sang nenek karna tidak sopan baginya jika orang tua yang mencium tangan orang yang lebih muda.
"Nenek jangan nangis" ucap Ara melihat nenek itu menangis. nenek itu menghapus air matanya dan kembali melebarkan senyumannya.
"Nah gitu dong kan cantik nenek kalo gini" jawab Ara melihat senyuman nenek itu mengembang.
"Yaudah Ara bawa ini ya....nanti setiap pagi Ara mampir kesini" ucap Ara dengan melebarkan senyumannya sambil menenteng keripik yang ia borong tadi. Nenek tadi hanya mengangguk mengiyakannya.
"Yaudah Ara pamit nek" ucap Ara dan menundukkan sedikit tubuhnya seperti memberi hormat. nenek itu mengangguk mengiyakannya dan Arapun langsung berlalu masuk ke dalam mobilnya diikuti oleh Nathan.
"Semoga mereka selalu bahagia" ucap nenek tadi dengan melebarkan senyumannya menatap mobil Nathan dan Ara yang telah berlalu.
"Kamu mau makan semuanya?" tanya Nathan sambil menatap sekilas sang istri dan kembali fokus ke jalanan.
"Mana mungkin gue kuat makan sebanyak ini" jawab Ara.
"Terus mau di kemanain keripik sebanyak ini?" tanya Nathan. Ara tidak menjawabnya dan menarik satu bungkus keripik dan melahapnya.
"Enak banget" ucap Ara dan kembali melahap keripik itu.
__ADS_1
"Enak?" tanya Nathan. Ara mengangguk mengiyakannya dengan senyum yang mengembang.
"Coba suapi aku" perintah Nathan. Ara langsung menyuapi sang suami.
"Gimana?" tanya Ara menatap lekat sang suami.
"Iya ya enak juga" jawab Nathan karna memang keripik itu sangatlah enak.
"Gak percaya sih sama istri sendiri" ketus Ara dan kembali melahap keripik itu. Nathan tidak menjawabnya karna mobil yang di kendarai oleh Nathan sudah sampai di toko.
"Ini kamu bawa ke kantor buat karyawan kamu.....ini buat aku buat temen temen aku" ucap Ara dan mengambil satu kantong kresek yang berisi penuh keripik yang di bungkus.
"Bentar" ucap Nathan saat melihat sang istri ingin berlalu.
"Kenapa?" tanya Ara menatap sang suami. Nathan langsung mencium bibir sang istri sekilas.
"Kamu lupa" jawab Nathan saat sudah selesai mencium bibir sang istri dengan senyum yang mengembang.
"Gaada puas puasnya" ketus Ara dan langsung turun dari mobil sang suami.
"Hati hati" ucap Ara menundukkan tubuhnya menatap sang suami di balik kaca mobil itu. Nathan membuka kaca itu.
"Sini" ucap Nathan mengibas tangannya supaya Ara mendekat ke arahnya.
Cup
Nathan langsung mencium pucuk kepala sang istri. "Jaga diri baik baik aku cinta kamu" ucap Nathan dengan senyum yang mengembang. Ara hanya membalas ucapan sang suami dengan senyuman.
"Udah sana masuk" usir Nathan.
"Dih dia yang nyuruh tunggu malah dia yang ngusir" ketus Ara dan langsung berlalu masuk ke dalam toko bunga itu sedangkan Nathan hanya terkekeh menatap sang istri yang terlalu mudah emosi itu.
__ADS_1