
"Kau pernah mencicipi masakan ku?" tanya Nathan kepada istri nya itu.
"Entah lah" jawab Ara dengan meneguk makanan yang sudah ia kunyah itu. Nathan tidak berbicara lagi dan hanya menyuapi sang istri tercinta nya itu makan.
"Kau tidak makan?" tanya Ara dengan mengunyah makanan kepada Nathan.
"Kamu duluan saja makan nya" jawab Nathan sambil melebarkan senyuman nya kepada Ara.
"Tidak, Kamu juga harus makan" ucap Ara dan mengambil alih piring yng berisikan makanan itu dari Nathan. Nathan tidak menahan nya dan membiarkan istri nya itu berbuat semau nya. Ara menyiapkan makanan ke dalam sendok dan setelah itu menyodorkan nya kepada sang suami.
"Buka mulut mu" ucap Ara dengan membuka mulut nya seperti menyuapi anak kecil. Nathan menoleh ke arah istri nya dan juga sendok yang sudah berisi makanan itu secara bergantian tanpa ada niat untuk menerima suapa dari istri nya itu.
"Cepatlah buka mulut mu sayang, Tangan ku lelah ini" ucap Ara dan menurunkan tangan nya dan kembali meletakkan sendok tadi ke piring, Raut wajah wanita itu nampak kecewa dan Nathan bisa melihat raut wajah wanita itu yang nampak kecewa.
Nathan langsung mencium bibir sang istri sekilas dan setelah itu mengambil tangan sang istri yang masih memegang sendok dan menyuapi makanan itu ke dalam mulut nya menggunakan tangan sang istri. "Lancang sekali kamu" ketus Ara saat Nathan yang tiba tiba mencium bibir nya. Nathan tidak menjawab dan hanya tersenyum dan mengunyah makanan yang ia makan tadi.
Ara menatap kesal ke arah sang suami dan langsung menyiapkan makanan di dalam sendok dan melahap nya sendirian tanpa memperdulikan Nathan yang sedang menatap nya itu. "Kamu tidak ingin ke kantor?" tanya Ara di sela sela makan nya kepada suami nya itu.
"Kamu mengizinkan ku berangkat ke kantor?" tanya Nathan dengan menatap sang istri. Ara menyodorkan sendok yang berisi makanan kepada Nathan untuk dia makan dan Nathan menerima nya.
"Memang nya sejak kapan aku melarang mu untuk ke kantor?" tanya Ara dengan menatap heran ke arah suami nya itu.
"Tidak tau" jawab Nathan dengan mengangkat kedua bahu nya karna memang istri nya itu tidak pernah melarang nya untuk bekerja.
__ADS_1
"Yasudah sana mandi" usir Ara kepada sang suami dan mendorong suami nya itu menggunakan kaki nya karna tangan nya memegang piring.
"Suapi aku lagi" jawab Nathan yang sudah berbalik dan membuka lebar mulut nya supaya Ara menyuapi nya. Ara tidak menjawab nya dan menuruti ucapan lelaki itu untuk menyuapi nya. Nathan tersenyum saat istri nya itu mengikuti ucapan nya dan setelah itu dia langsung mencium bibir wanita itu lagi dan langsung berlalu masuk ke dalam kamar mandi ke dalam itu.
Ara yang awal nya ingin marah akibat Nathan yang lancang mencium nya pun tersenyum saat melihat Nathan yang langsung berlari masuk ke dalam kamar mandi. "Aku sangat berterima kasih kepada tuhan Karna sudah memeberi nya untukku" guman Ara dengan senyum yang melebar menatap pintu kamar mandi. Dia ingat semua aoa saja yang terjadi saat dia down dan Nathan selalu di samping nya dan tidak pernah meninggalkan nya tapi dia tidak mau mengatakan jika dia ingat akan apa saja yang terjadi saat itu dan memilih diam dan tidak mengungkit nya lagi.
"Aku sangat mencintai nya" guman Ara dengan senyum yang melebar setelah itu kembali melahap makanan yang tersisa sampai habis. Setelah selesai makan Ara meletakkan piring ke atas lemari kecil di samping ranjang dan menuju ke lemari yang ada di sana dan menyiapkan baju kerja untuk sang suami.
Nathan keluar dari kamar mandi dan melihat istri yang tidak pernah menyiapkan pakaian kerja untuk nya sekarang sudah menyiapkan pakaian kerja itu. Nathan tersenyum melihat itu dan berjalan mendekat ke arah istri nya itu.
"Tumben sekali wanita manja ini menyiapkan baju kerja untuk ku" ucap Nathan dan berdiri di samping sang istri. Ara menoleh ke ara Nathan yang sedang berada di samping nya itu dan menatap kesal ke arah suami nya itu.
"Enak saja kamu bilang aku wanita manja" jawab Ara yang tidak terima di katakan manja oleh suami nya itu.
"Sudah lah, Ambil ini" ucap Ara dan menyodorkan pakaian yang sudah ia ambil tadi kepada suami nya itu. Nathan menerima nya dan Ara pun langsung keluar dari kamar itu dengan membawa nampan yang berisi piring dan gelas dan menuju ke bawah.
Saat sampai di bawah dia langsung melihat Rizal, Kya dan juga Rafael. "Pagi" sapa Ara dengan semangat kepada keluarga nya itu. Kya dan yang lain nya pun menoleh ke arah sumber suara dan melihat Ara yang sedang turun dari tangga dengan membawa nampan.
"Ini sudah hampir siang tidak pagi lagi" jawab Kya mengejek Ara. Ara tersenyum dan langsung menuju ke dapur untuk meletakkan bekas makan nya tadi. Setelah meletakkan itu dia membiarkan nya terlebih dahulu dan langsung berlalu kembali ke dekat Kya dan yang lain nya.
"Duduk lah di sini" ucap Kya dan menepuk kursi yang ada di samping nya supaya Ara duduk di sana.
"Tidak, Ara akan duduk di sini" jawab Ara dan mendudukkan tubuh nya di samping Rafael dan membelakangi tangga.
__ADS_1
"Apa yang kamu mainkan?" tanya Ara yang mencoba melihat apa yang di mainkan oleh keponakan nya itu di dalam ponsel.
"Ini Onty" jawab Rafael dengan menunjukkan game yang ia mainkan kepada Ara. Ara tersenyum melihat itu dan mengangguk mengerti akan game itu.
"Nak" ucap Rizal yang memulai percakapan antara diri nya dan juga Ara.
"Iya paman" jawab Ara dan menoleh ke arah Rizal dan Kya.
"Rumah dan perusahaan wijaya grup itu milik mu" ucap Rizal kepada Ara.
"Jadi?" tanya Ara karna memang saat ini dia tidak membutuhkan itu melainkan dia lebih membutuhkan cinta saat ini.
"Jadi kamu harus mengurus perusahaan almarhum papa mu dan rumah kau juga harus menunggu nya" jelas Rizal kepada Ara.
"Ara tidak mau tinggal di rumah itu, Ara akan tinggal di komplek sini, Jika tidak di rumah bunda di rumah kakek ini" jelas Ara karna memang dia tidak ingin tinggal di rumah itu lagi.
"Jika perusahaan kau mau mengurus nya?" tanya Kya kepada Ara.
"Jika Ara bisa, Ara akan mengurus nya" jawab Ara karna memang bagi nya mengurus perusahaan sebesar itu tidak lah mudah.
"Baiklah" jawab Rizal yang juga tidak bisa memaksa kehendak Ara. Ara sebenar nya sangat tidak ingin mengurus perusahaan itu tapi itu adalah warisan kedua orang tua nya dan itu juga peninggalan dari orang tua nya makanya dia mau mengurus nya.
"Paman" panggil Ara yang mencoba memulai percakapan lagi.
__ADS_1