
"Om tante saya permisi pulang" ucap Nathan sambil bersalam dengan Kya dan juga Rizal dan dia juga memberikan Rafael yang berada di dalam pelukannya itu kepada Kya.
"Hati hati ya nak" ucap Rizal kepada Nathan. Nathan hanya membalasnya dengan senyuman dan setelah itu dia langsung keluar dari pekarangan rumah itu.
Ara baru saja selesai membersihkan tubuhnya dan dia juga sudah mengenakan baju kaos dan celana jeans pendek miliknya. Dia membuka jendela kamarnya itu dan menselonjorkan kakinya ke luar jendela dan kakinya itu terjuntai ke luar jendela.
"Huh" Ara mendengus kasar sambil menatap langit langit sore hari. Dia menghirup udara sore itu sambil memejamkan matanya.
Nathan yang ingin pulang ke rumahnya terhenti saat dia melihat jendela kamar Ara terbuka dan ada Ara yang sedang duduk sambil memejamkan matanya. Langkah kakinya terhenti saat melihat itu. Dia menatap lekat wanita yang ada di dekat jendela itu.
Air mata Ara menetes dan membasahi pipinya. Dia kembali menangis karna perasaan hatinya sanga sedih hari ini. Nathan bisa melihat itu.
"Papa sama mama apa kabar? udah ketemu sama calon menantu?" tanya Ara sambil melebarkan senyumannya tapi air matanya terus mengalir.
"Ara pengen bilang sama kalian kenalin pacar Ara pasti kalian udah ketemu sama dia" ucap Ara. Nathan sangat penasaran akan apa yang di katakan oleh Ara karna dia tidak bisa mendengarkannya.
"Kak dewa nanti bawa mama sama papa ketemu Ara pasti mereka gak tau wajah Ara gimana" ucap Ara lagi dengan air mata yang sangat deras mengalir di wajah cantiknya itu.
Ara menghapus air matanya menggunakan kedua tangannya dia menundukkan kepalanya dan menangis sekencang mungkin di dalam telapak tangannya itu. "Kenapa hidup gue gini" teriak Ara yang terdengar oelh Nathan.
"Hiksss....Hikssss" tangis Ara dengan sangat kencang dan itu sangat terdengar oleh Nathan.
"Gue pengen banget ada di samping dia dalam keadaannya kayak gini" guman Nathan menatap iba terhadap Ara.
"Kenapa dunia gak pernah berpihak sama gue" teriak Ara lagi dengan tangis histerisnya. Nathan sangat jelas mendengar teriakan itu.
"Gue capek hidup gini" teriak Ara lagi. Nathan memegang dadanya karna rasanya dadanya sesak melihat Ara yang menangis seprti itu.
"Kok dada gue sesek gini" guman Nathan yang masih memegang dadanya.
Nathan memilih untuk pergi dan kembali ke rumahnya karna dia tidak sanggup melihat wanita yang dia sukai menangis seperti itu dan dia tidak bisa apa apa.
__ADS_1
"Assalaamualaikum" ucap Nathan langsung masuk ke dalam rumah.
"Dari mana aja lo?" tanya Vino yang duduk di ruang tamu sendirian.
"Kepo lo" jawab Nathan dan berlalu meninggalkan Vino yang amsih berada di ruang tamu.
Beberapa hari kemudian tepatnya hari dimana ujian terakhir akan di laksanakan. Ara dalam beberapa hari ini dia nampak sangat bersemangat untuk ujian.
Kringgg
Bel masuk berbunyi dan seperti biasa semua orang langsung masuk ke dalam kelas masing masing begitupun ara dan juga kedua sahabatnya itu.
Seperti biasa Nathan membagikan soal soal kepada masing masing orang dengan di bantu oleh Alfin dan juga Viona. "Permisi pak apa bisa saya berbicara dengan murid murid sebentar?" tanya bu Adriana sopan kepada Nathan sambil mengetuk pintu.
"Boleh bu silahkan" ucap Nathan mempersilahkan bu Adriana menyampaikan apa yang ingi dia sampaikan. bu Adriana masuk dan berdiri tepat di depan Nisa siswi kelas 12 fisika yang paling pintar sedangkan Nathan berdiri di depan Ara.
"Assalaamualaikum anak anak mohon perhatiannya sebentar...Nanti jika kalian sudah selesai ujian di harapkan untuk kumpul di lapangan karna ada sesuatu yang ingin di sampaikan...sekian terima kasih" jelas bu Adriana panjang lebar dan langsung permisi keluar kepada pengawas yang mengawasi ruangan A dan berlalu untuk menuju ke ruangan lain untuk menyampaikan hal yang sama.
Sudah dua jam semua murid belum ada juga yang keluar dari ruangan termasuk si jenius Ara. "Ra" panggil Andita yang mengganggu Ara.
"Pak liat dia gangguin saya" ucap Ara mengadu kepada Nathan sambil menunjuk ke arah kedua sahabatnya itu.
"Kalian ngapain ganggu temen kalian yang lagi ujian?" tanya Nathan datar.
"Awas nanti lo yah" ucap Erina dan langsung berlalu meninggalkan ruangan A dan menuju ke kantin terlebih dahulu sebelum berkumpul di lapangan.
Di dalam ruangan A terlihat tinggal Ara,,Nisa dan juga Aldo yang belum selesai mengerjakan soal ujian itu. "Wah tinggal si jenius yang belum" ucap salah satu murid melihat mereka bertiga belum selesai.
"Sudah" ucap Ara langsung berdiri.
"Kemana orang semua?" tanya Ara.
__ADS_1
"Mereka udah selesai semua tinggal kalian bertiga yang belum" jawab Nathan kepada Ara. Ara tidak menajwab perkataan Nathan dia langsung mengumpulkan lembar jawabannya dan langsung keluar tanpa pamit karna tidak ada satupun guru yang mengajarnya di dalam sana.
"Semua murid harap berkumpul di lapangan" umum pak Adam menggunakan microfon dan itu terdengar sangat jelas di telinga semua murid yang ada di dalam sekolah itu.
"Baru aja mau nyusulin Erina dan Andita...Eh udah kumpul aja" ucap Ara kesal dan langsung menuju ke lapangan.
Di lapangan sudah terlihat banyak orang yang berkumpul dan hari juga sangat panas dan Ara memilih untuk berdiri di bawah pohon di paling sudut tapi paling depan.
"Eh sini" ucap Ara saat melihat Erina Andita menuju ke lapangan.
"Di cariin ternyata ada disini" ketu Andita kepada Ara.
"Gue baru aja selese ujian waktu keluar pak Adam udah nyuruh kumpul" jelas Ara. Erina dan Andita tidak menjawab perkataan Ara.
"Selamat kepada kalian semua karna sudah melewatkan ujian akhir dengan baik dan semoga nilai nilai kalian juga baik" ucap bu Adriana yang sudah berdiri di depan dengan menggunakan microfon.
"Perpisahan sekaligus pengambilan nilai kalian akan di adakan dua minggu lagi jadi saya harap kalian semua dapat hadir di sekolah ini" jelas bu Adriana yang belum selesai karna Ara memotong perkataan bu Adriana.
"Buk" ucap Ara sambil mengangkat tangannya.
"Kenapa Ara?" tanya bu Adriana dan semua mata tertuju kepadanya apa lagi Nathan yang memang sedari tadi menatapnya.
"Harus banget ya buk hadir di acara perpisahan?" tanya Ara.
"Iya itu harus Ara" jawab bu Adriana.
"Kalo gak dateng buk?" tanya Ara.
"Eh emang lo mau kemana hah?" tanya Andita berbisik dengan Ara.
"Kalo memang memiliki kepentingan yang tidak bisa di tunda tidak apa apa tapi harus ada perwakilan yang mengganti untuk mengambil hasil ujian kalian" jelas bu Adriana.
__ADS_1
"Kalo gak ada perwakilan gimana buk?" tanya Ara yang membuat Viona tak suka karna menurutnya Ara itu hanya mencari perhatian.