Ara Dan Nathan

Ara Dan Nathan
Gagal


__ADS_3

"Cuma satu?" tanya Ara yang kaget bahagia mendengar itu karna dia tidak tau masalah Barqi yang bisa pintar dengan cepat ini.


"Iya cuma satu" jawab Nathan.


"Lo kenapa pinter nya gak dari dulu qi" ucap Ara yang kegirangan karna memang semua jawaban Barqi hampir benar semua.


"Kalian ngapain?" tanya Fatimah yang beru saja keluar dari dapur dengan membawa makanan untuk sarapan pagi.


"Ini bu jawaban Barqi hampir semuanya bener" jawab Ara dengan menunjukkan buku yang di bawa oleh sang suami kepada Fatimah. Fatimah meletakkan makanan yang ia bawa tadi dan menerima buku yang di sodorkan oleh Ara.


"Ya allah nak kamu pinter banget" ucap Fatimah bangga akan hasil tugas Barqi yang di periksa oleh Nathan. Barqi hanya tersenyum senang saat melihat sang ibunda terlihat bahagia dan itu karnanya.


"Gue bahagia banget liat ibu bahagia" guman Barqi menatap sang ibu yang nampak bahagia.


"Yaudah ayo kita makan" ajak Fatimah dengan senyum yang masih mengembang. mereka bertiga mengiyakannya dan langsung mengambil makanan untuk diri masing masing dan menyantapnya.


Setelah selesai makan Ara mendudukkan tubuhnya di ruang tamu panti itu. Nathan ikut mendudukkan tubuhnya di samping sang istri. "Ayo kita pulang" ajak Nathan karna tadi dia mendapatkan pesan dari ibunya yang mengatakan bahwa mereka harus pulang karna kedua orang tuanya sudah berangkat ke yogyakarta.


"Yaudah ayo" ajak Ara langsung berdiri dan berpamitan kepada orang panti. Setelah selesai berpamitan Ara dan Nathan langsung menuju ke dalam mobil dan Nathan langsung melajukan mobilnya menuju ke kediamannya.


Sesampai di kediamannya Nathan dan Ara langsung turun dari mobil dan Ara mendahului sang suami. "Assalamualaikum" ucap Ara saat membuka pintu tapi tidak ada jawaban karna pelayan di rumah itu sedang bekerja di belakang.


"Mana bunda sama ayah?" tanya Ara kepada Nathan.


"Mereka ke jogja" jawab Nathan.


"Ngapain mereka ke jogja?" tanya Ara menatap lekat sang suami.


"Ada urusan bisnis" jawab Nathan.


"Kapan pulangnya?" tanya Ara lagi.


"Lusa" jawab Nathan.


"Erina sama Vino mana?" tanya Ara.

__ADS_1


"Kamu udah kayak wartawan aja nanya trus" ucap Nathan karna sedari tadi sang istri tak henti hentinya bertanya.


"Kan aku gak liat mereka makanya aku nanya" ketus Ara mengalihkan pandangannya dari sang suami.


"Ayo kita lanjutin yang semalam" ucap Nathan. Ara berusaha mengingat ingat apa yang terjadi semalam.


"Lanjutin apa?" tanya Ara bingung karna dia memang tidak ingat. Nathan tidak menjawabnya dan dia langsung menggendong sang istri dan langsung naik ke atas dan masuk ke dalam kamar.


Nathan membaringkan pelan tubuh sang istri di atas ranjang yang membuat Ara sedikit ngeri. "Kamu mau ngapain?" tanya Ara menatap sang suami yang menatapnya seperti orang yang ingin menerkam.


Nathan tidak menjawabnya dan dia langsung ******* bibir sang istri. Ara menerimanya dan membalas ******* itu. tangan Nathan mulai berjalan turun ke dada sang istri dan ingin membuka baju sang istri.


Tok...tok..tok


Ketuk orang dari luar kamar. Ara langsung tersadar dan melepaskan ciumannya dari sang suami. "Siapa?" teriak Nathan kesal karna hasratnya tertahan.


"Saya Imah tuan muda" jawab Imah. Ara langsung turun dari ranjang dan membenahi bajunya yang sedikit berantakan itu dan membuka pintu kamar.


"Ael" sapa Ara saat melihat keponakannya.


"Onty" sapa balik Rafael.


"Ael" sapa Nathan senang tapi dia tidak senang karna keinginannya tertunda.


"Uncle" sapa balik Rafael. Nathan langsung menggendong Rafael sedangkan bi Imah dia sudah berpamitan untuk melanjutkan pekerjaannya.


"Ael sama siapa kesini sayang?" tanya Ara kepada keponakannya itu.


"Tadi di antar Momy" jawab Rafael.


"Mana momy?" tanya Ara.


"Udah pulang tadi" jawab Rafael. Ara mengangguk mengerti akan perkataan keponakannya itu dan mengajak keponakannya itu untuk masuk ke dalam kamar dan duduk di atas ranjang mereka.


"Kamu tumben main ke rumah uncle sayang" ucap Nathan kepada Rafael.

__ADS_1


"Emang Ael gak boleh?" tanya Rafael.


"Bukan gak boleh sayang tapi kamu datengnya di waktu yang gak tepat" jawab Nathan sambil melebarkan senyumannya melihat Rafael dan beralih melihat sang istri. Ara melototkan matanya menatap sang suami dan mencubit pinggang sang suami.


"Auu" rengek Nathan karna di cubit oleh sang istri.


"Kenapa uncle?" tanya Rafael.


"Onty kamu cubit uncle" jawab Nathan menatap ke arah sang istri.


"Onty kenapa cubit uncle?" tanya Rafael kepada Ara.


"Onty gak cubit uncle kok sayang uncle kamu aja yang lebay" jawab Ara menatap kesal ke arah sang suami.


*****


Rizal dan Kya sudah sampai di kediaman wijaya dan langsung masuk ke dalam rumah itu tanpa mengetuk ataupun mengucap salam. Teo dan Windi yang sedang berada di ruang tamu pun kaget melihat Rizal yang tiba tiba masuk bersama dengan Kya.


"Ngapain kakak nyelakain Ara?" ucap rizal geram dengan mencengkram kerah baju Teo dan membuat Teo berdiri. Rizal sangat murka akan perlakuan Teo yang sangat keterlaluan itu.


"Lepasin" ucap Teo dengan senyum dan menepis kasar tangan adiknya itu sampai terlepas dari bajunya.


"Aku udah bilang sama kamu, Bakal aku habisin semua orang yang mau ambil harta aku" jawab Teo dengan senyum yang mengembang.


"Kamu..." teriak Rizal yang ingin memukul Teo dan sudah memegang kerah baju Teo.


"Kamu pukul aja aku, Bakal aku pastiin keponakan kesayangan kamu itu bakal hilang hari ini" ucap Teo dengan senyum yang mengembang licik. Rizal langsung melepaskan kerah baju Teo tangannya menggepal dan rahangnya mengeras akibat menahan amarah.


"Jangan sesekali kamu nyakitim Ara" ucap Rizal yang menahan emosinya.


"Kenapa kamu ngelindungin dia? bukan nya kamu dulu juga pernah iri dengan kehidupan Zidan dan Rianti? dan dulu bukan nya kamu pernah nyoba buat membunuh Zidan?" ucap Teo dengan senyum liciknya yang membuat Kya mendengar itu terkejut karna dia tidak tau sama sekali masalah hal ini.


Rizal dulu memang pernah ingin mencoba menghabisi nyawa Zidan dan Rianti tapi selalu gagal dan dia juga sudah mencoba berbagai macam cara agar mereka berdua itu kehilangan nyawa tapi tidak satupun cara yang dia pakai berhasil dan dulu dia juga pernah ingin membunuh Ara tapi saat itu di ketahui oleh Tirtan kakeknya Ara makanya tidak ada satupun yang tau masalah itu kecuali kakek Ara dan Teo. Rizal sadar akan kebaikan dan perhatian yang di berikan keluarga wijaya kepadanya makanya sejak saat itu dia tidak pernah lagi ingin mencoba membunuh wijaya grup.


Rizal terdiam akan ucapan Teo karna dia juga sangat menyesal akan kelakuannya di masa lalu. Kya langsung keluar dari rumah itu karna dia kecewa akan sang suami yang mencoba membunuh orang. Rizal menyusul sang istri.

__ADS_1


**Mampir juga ke novel terbaru author ya yang judulnya "I HATE EVERYONE"


Makasih buat yang udah mampir**.


__ADS_2