
"Kalian kenapa gak bilang kalo kau kesini?" tanya Kya dalam perjalanan masuknya.
"Kan buat suprise bi" jawab Ara sambil melebarkan senyumannya.
"Kak balikin hak Ara" ucap Rizal yang membuat Kya,,Ara dan Nathan menghentikan jalan mereka.
"Hak apa?" tanya Teo yang berpura pura tidak tau.
"Harta punya kak Zidan sama kak Rianti itu milik Ara kenapa malah kalian yang nguasainnya?" tanya Rizal.
"Mereka udah mati dan harta itu untuk aku" ketus Teo. Kya ingin menghentikan perkataan mereka karna dia tidak mau keponakan kesayangannya itu bersedih tapi Ara memegang tangannya.
Kaya menatap ke arah keponakannya itu. Ara menggelengkan kepalanya dengan wajah yang nampak sedih karna dia ingin sekali tau semuanya. "Kamu yang ngebunuh kak Zidan sama kak Rianti dan sekarang kakak mau ambil hak Ara? kakak punya hati apa gak?" ketus Rizal karna dia mengetahui semuanya.
"Aku ngebunuh mereka buat mengusai harta mereka Rizal" jawab Teo. Hari Ara semakin hancur saat mendengar itu tanpa di sadari air matanya tejatuh sendiri.
"Kenapa kamu seiblis itu? aku bakal laporin kakak ke polisi" ancam Rizal karna memang dia tidak suka akan perkataan Teo dan sedari dulu dia selalu mencari bukti untuk mengungkapkan semuanya tapi dia belum menemukannya.
"Kamu punya bukti apa mau masukin aku ke penjara hah?" ketus Teo.
"Aku...." ucap Rizal bingung karna memang dia tidak mempunya bukti apa apa.
"Kamu gak punya bukti kan? jadi sekarang kamu jangan ancam aku lagi dan kamu harus tutup mulut kalo kamu gak mau Ara nyusul orang tuanya" ancam Teo karna memang sedari dulu Teo selalu mengancam seperti itu kepada Rizal saat Rizal ingin menceritakan semuanya kepada Ara dan Rizal memilih diam begitupun dengan Kya karna dia tidak mau Ara kenapa napa.
Nathan sangat murka mendengar itu tangannya menggepal urat urat tangannya itu nampak karna dia menahan amarahnya dan dia masih memikirkan acara Rafael.
"Huh" Ara mendengus kasar dan segera menghapus air matanya.
"Papi mau bunuh Ara juga? kenapa gak dari dulu?" tanya Ara dengan senyum yang mengembang.
__ADS_1
Rizal langsung berdiri saat mendengar suara keponakan kesayangannya itu dengan mata membulat sempurna karna tekejut akan kehadirannya.
"Kamu sejak kapan di sana?" tanya Teo yang nampak sedikit hawatir jika Ara menuntut haknya.
"Ayo sayang kita mulai pestanya teman teman kamu udah nungguin kamu" ajak Ara kepada Rafael yang berada di dalam pelukan suaminya itu.
Mereka pun meninggalkan tempat itu dan menuju tempat acara bertiga sedangkan Kya masih marah kepada suaminya yang tidak bisa manjaga ucapannya dan membuat keponakannya itu bersedih meskipun Ara bukan dari keluarga melainkan dari keluarga suaminya tapi dia sangat menyayangi Ara seperti anak sendiri.
Di taman belakang acara ulang tahun sudah di mulai dan Ara ikut serta di dalam acara itu dengana senyum yang mengembang bahagia meskipun itu hanya paksaan tapi sekuat tenaga dia menahan air mata yang ingin tumpah itu dengan mengikuti acara anak anak seperti bernyanyi dan memberika kuis begitupun dengan Nathan yang ingin ikut serta menghibur istrinya itu.
"Sejak kapan Ara dengar ucapan aku dengan kak Teo sayang?" tanya Rizal kepada Kya yang masih marah kepadanya.
Kaya tidak menjawab dan memilih meninggalkan suaminya itu dan menuju ke dekat keponakannya dan juga anaknya dna ikut bernyanyi dan menari bersama.
"Kenapa kakak gak bisa ngejaga ucapan kakak?" ketus Rizal kepada Teo.
"Ayo kita pulang" ajak Teo kepada Windi istrinya. Windi hanya mengikuti dengan tatapan bingung akan sikap Teo dan acara ulang tahun Rafael belum selesai.
"Ara pasti marah banget sama aku, Pasti Kya juga, Dia sayang banget sama Ara" ucap Rizal menatap wajah bahagia istri dan juga keponakannya itu.
"Maafin aku kak yang belum bisa ngebahagiain Ara" ucap Rizal dan tanpa sadar air matanya menetes. Sungguh sakit sekali hatinya jika membayangkan kesedihan keponakannya itu dan dia juga membayangkan kesedihan istrinya yang melihat Ara bersedih.
Beberapa jam acara berlangsung akhirnya acara itu selesai. "Kita pulang sekarang?" tanya Nathan kepada istrinya saat semua tamu undangan sudah tidak ada di sana.
"Onty uncle ayo kita buka kado" ajak Rafael.
"Onty gak bisa sayang soalnya tiket pesawat udah di pesan buat pulang ke amerika" jelas Ara berbohong padahal dia akan menetap lima hari lagi di amsterdam.
"Sayang" panggil Rizal sedikit ragu karna takut jika Ara tidak ingin berbicara dnegannya. Ara memandang pamannya itu yang nampak bersalah.
__ADS_1
"Panggil Ara?" tanya Ara dengan senyum yang mengembang.
"Maafin paman" ucap Rizal dan langsung memeluk keponakannya itu dengan air mata yang menetes karna memikirkan kesedihan ponakannya itu.
"Paman minta maaf kenapa? emang paman salah apa?" tanya Ara yang berada di dalam pelukan pamannya itu dan dia masih kuat menahan tangisnya.
"Paman gak bilang dari dulu sama kamu" jawab Rizal dan melepaskan pelukannya dan menatap sang ponakannya itu.
"Ara ngerti kenapa paman bisa gitu" jawab Ara dengan senyum yang mengembang dan kembali memeluk pamannya itu. sedangkan Nathan mengerti jika istrinya itu sedang menahan tangis.
"Yaudah paman Ara mau pamit pulang dulu" ucap Ara dan melepaskan pelukannya dari pamannya itu.
"Mau pulang kemana nak?" tanya Kya yang sedari tadi menangsi.
"Bibi kenapa nangis?" ejek Ara.
"Bibi gak mau liat kamu sedih apa lagi kamu kenapa napa...bibi gak mau" jawab Kya sambil terisak dan langsung memeluk keponakannya itu.
"Ara gak sedih Ara juga gak bakal kenapa napa" ucap Ara.
"Hikssss....hikssss" tangis Rafael pecah di dalam pelukan Nathan saat melihat ibu dan ayahnya menangis.
"Hey kenapa ikut nangis?" tanya Ara kepada Rafael dan melepaskan pelukannya dari Kya.
"Momy sama Dady nangis makanya Ael juga nangis...hiksss...Hikssss" jelas Rafael dan kembali terisak.
Semua orang yang ada di sana terkekeh mendengar itu begitupun dengan Nathan yang melihat tawa sang istri. "Jangan ikut Momy sama dady" jawab Rizal dan mengambil alih tubuh Rafael dari pelukan Nathan.
"Yaudah Onty sama uncle pamit dulu ya" ucap Ara sambil mencium pipi keponakannya itu.
__ADS_1