
"Tangan kamu kenapa?" tanya Nathan menatap istrinya itu. Ara tidak menjawabnya dan memilih untuk berlalu dan melepaskan tangannya dari genggaman Nathan.
Nathan menyusul istrinya itu karna dia hawatir akannya. "Jawab aku...tangan kamu kenapa?" tanya Nathan yang menarik tangan Ara.
Ara menghentikan jalannya dan menatap suaminya itu. "Saya tidak apa apa pak" jawab Ara dengan melebarkan senyumannya dan menepis kasar tangan suaminya itu tapi itu tidak terlepas.
"Jawab jujur pertanyaan aku" ucap Nathan dan kembali menggenggam erat tangan istrinya itu.
"Damian" panggil Ara. Damian yang baru saja lewat tidak jauh darinya langsung menoleh ke arahnya dan Nathan tidak melihat Damian karna masih fokus akan istrinya itu.
"Iya ra ada apa?" tanya Damian menghampiri Ara dan melihat Nathan menggenggam tangan Ara.
"Lo mau kemana?" tanya Ara dan melepaskan tangannya dari genggaman suaminya.
"Aku mau kesana nyusul Jenny" jawab Damian sambil menunjuk ke arah Jenny yang nampak menulis sesuatu.
"Gue ikut" ucap Ara.
"Ayo" ajak Damian. Ara langsung berlalu meninggalkan suaminya yang masih belum mendapatkan jawaban itu dan mengikuti Damian dari belakang.
"Kenapa tangannya luka?" guman Nathan yang masih penasaran akan luka di tangan istrinya itu.
"Pak...apa kita hari ini cuma berada di sini?" tanya Viona yang baru saja menghampirinya. Nathan menatap ke arahnya dan dia baru ingat jika pekerjaan di kantor masih banyak dan belum di selesaikan tadi malam makanya dia terlambat pulang tadi malam ke apartemen.
"Ayo kita ke kantor" ajak Nathan kepada Viona dan juga Alfin yang berdiri tidak jauh dari dekatnya itu.
Mereka bertiga berjalan melewati Ara dan teman temannya dan mata Nathan sedari tadi menatap istrinya yang sama sekali tak menatapnya itu. Vino sedikit merasa bersalah sudah menceritakan kejadian semalam dengan Ara karna dia berfikir pasti Ara akan marah kepada Nathan.
Nathan dan yang lainnya masuk ke dalam mobil dan Vino mengemudi sedangkan Nathan duduk di belakang sendiri. Ara menatap mobil yang di tumpangi sang suaminya itu sudah berlalu dari toko itu.
__ADS_1
Sedih,,,rindu,,,takut selalu menghantui pikirannya. "Huh" Ara mendengus kasar karna menahan sesak di dadanya.
Ara memilih untuk kembali ke dalam toko itu dan duduk di dekat kursi yang ada di samping kasir karna memang pelayan di sana mengenali Ara karna Nathan jauh jauh hari sudah mengenalkan Ara kepada mereka.
Ara memangku wajahnya menggunakan kedua tangannya matanya menatap ke sembarang arah. cerita Vino masih teringat betul di benak Ara.
*****
Di kantor Nathan nampak sedikit tak fokus akan pekerjaannya karna memikirkan sang istri yanh tidak mau melihatnya sejak berbicara dengan Vino.
Nathan langsung teringat kenapa dia tidak memanggil Vino dan menanyakan kenapa Ara seperti itu setelah berbicara dengannya. Nathan langsung menelpon ruangan Vino.
"Ada apa pak?" tanya Vino sopan.
"Ke ruangan gue sekarang" jawab Nathan dan langsung memutuskan panggilan telpon itu. Vino langsung menuju ke ruangan Nathan.
"Kenapa?" tanya Vino.
"Tadi Ara nanya lo dari mana semalam sama gue" jawab Vino dan mendudukkan tubuhnya di atas kursi yang ada di depan Nathan.
"Trus lo jawab apa?" tanya Nathan kembali.
"Ya gue jawab lo di kantor lah" jawab Vino.
"Jadi kenapa dia gak mau lagi ngomong sama gue abis ngomong sama lo dan kenapa tangannya berdarah hah?" tanya Nathan penuh selidik kepada Vino.
"Gue...gue ceritain masalah Feli yang meluk lo sama dia" jawab Vino sedikit ragu karna dia juga tau bagai mana jika Nathan marah.
"Lo kenapa cerita sama dia hah?" ketus Nathan yang masih bisa menahan emosinya.
__ADS_1
"Tadi dia marah marah dan mukul tembok makanya tangannya jadi luka gitu dan gue terpaksa cerita semuanya" jawab Vino jujur.
"Keluar" usir Nathan dan memegang kepalanya karna rumah tangganya baru saja harmonis dan sekarang datang lagi masalah.
Vino langsung keluar dari ruangan itu dan menutup pintu ruangan itu. Nathan mengambil ponselnya dan mengirim pesan kepada istrinya.
"Kamu tunggu aku nanti...kita pulang sama sama" isi pesan dari Nathan. Ara langsung membuka ponselnya dan hanya membaca pesan itu karna dia masih marah dengan laki laki itu.
"Kenapa cuma di baca?" guman Nathan melihat centang biru.
"Balas pesan aku jangan cuma di baca" pesan dari Nathan lagi.
"👌" balas Ara singkat. Nathan membacanya dan mengerti akan itu pasti istrinya itu masih marah dengannya.
"Ra lo kenapa sih?" tanya Andita yang menyadarkan Ara. Ara menggelengkan kepalanya.
Malam harinya Ara nampak sedang menunggu Nathan yang berjanji akan menjemputnya tapi jam sudah lewat pukul delapan malam tapi Nathan tak kunjung menjemputnya dan toko bunga itu juga sudah di tutup dan semua pegawai di sana juga sudah pulang dan tinggal dirinya sendiri lah yang masih di sana.
Ara memilih untuk berjalan kaki menuju ke apartemennya dan di dalam perjalanan itu fikiran Ara melayang layang memikirkan Nathan dan langkah kakinya terhenti saat melihat Nathan sedang bersama dengan wanita lain di depan perusahaannya karna memang dari toko bunga ke apartemennya melewati kantor Nathan.
Ara menghentikan jalannya dan melihat seorang wanita yang memegang tangan suaminya itu tanpa di sadari oleh siapapun termasuk Nathan karna di sana juga ada Vino.
"Sayang aku mohon maafin aku....aku beneran masih cinta sama kamu" ucap Feli yang sangat terdengar jelas di telinga Ara.
Plakkkk
"Aaa" teriak Ara kesakitan karna ada orang yang memukulnya tengkuknya dari belakang menggunakan kayu dan kayu itu langsung terbelah dua.
Nathan yang mendengar itu menatap ke arah suara begitupun dengan Vino dan juga Feli. Mata Nathan membulat sempurna saat melihat sang istri yang tergeletak di depannya dan orang yang memukul Ara itu kabur saat melihat Nathan dan yang lainnya melihatnya.
__ADS_1
Nathan langsung menghampiri istrinya itu. Cemas,,,,hawatir bercampur di dadanya sekarang. "Ara" panggil Nathan dengan suara orang hawatir.
Istrinya itu tidak menjawab dan juga tak merespon. Nathan langsung mengangkat kepala istrinya itu dan terlihat banyak darah di tengkuk kepala wanita itu dan darah itu terkena baju Nathan.