
"Kenapa gak boleh?" tanya Ara. Nathan menatap lekat wajah istrinya itu.
"Aku kan suami kamu jadi seharusnya kalo kamu pergi jauh jauh aku ikut" jawab Nathan.
"Kita hanya suami istri yang di jodohkan tanpa ada dasar cinta jadi lo gak usah atur hidup gue begitupun dengan gue yang gak akan ngatur hidup" jawab Ara. Nathan tersentak mendengar ucapan dari istrinya itu yang mengatakan bahwa dia tidak mencintainya.
"Tapi aku..." ucap Nathan terpotong saat pintu kamar itu terbuka. Ara dan Nathan menatap siapa yang masuk ke dalam ruangan itu.
"Dokter" sapa Ara sambil menundukkan sedikit tubuhnya.
"Nona muda" ucap Dokter itu yang juga ikut menundukkan tubuhnya.
"Ada apa dok? apa ada masalah?" tanya Nathan.
"Tidak ada tuan saya hanya ingin memberikan salap ini" ucap Dokter Zari sambil menyodorkan salap kepada Nathan.
"Untuk apa itu dok?" tanya Ara yang tidak tau itu.
"Ini untuk menghilangkan bekas bekas merah di tubuh tuan nona" jawab dokter Zari.
"Ooh" jawab Ara mengangguk mengerti.
"Kapan saya bisa pulang dok?" tanya Nathan.
"Hari ini tuan sudah boleh pulang tapi salap ini jangan lupa di pakai ya tuan" jawab dokter Zari. Nathan hanya mengangguk mengerti.
"Iya nona kalo begitu saya permisi tuan nona" ucap dokter Zari. Ara dan Nathan hanya mengiyakannya dan dokter Zari pun keluar dari ruangan itu.
"Liat" ucap Ara dan merampas salap itu dari tangan Nathan.
"Gosokin ke badan aku" ucap Nathan.
"Gosok aja sendiri punya tangan kan?" ketus Ara dengan melotototkan matanya menghadap ke arah Nathan dan melempar salap itu kepada Nathan.
Nathan tersenyum melihat Ara yang suka sekali marah itu. "Gimana kita mau pulang?" tanya Ara kepada Nathan.
"Telpon aja bunda" jawab Nathan yang sedang menggosokkan salap yang di berikan oleh Zari kepadanya tapi dia sedikit kesusahan untuk menggosok punggungnya.
"Tolong gosokin bagian belakang" ucap Nathan. Ara langsung berdiri dan membantu Nathan karna tadi dia melihat jika Nathan kesusahan menggosok salap itu ke bagian punggung.
__ADS_1
Ara menggosok salap itu dengan pelan di bagian punggung Nathan. Nathan hanya membuka bagian belakang bajunya bukan semuanya.
"Merah merahnya banyak banget" ucap Ara saat menggosok punggung Nathan.
"Makanya gosok yang rata" jawab Nathan.
"Ini juga udah rata" bentak Ara dan menggosok salap itu dengan kasar ke punggung Nathan.
"Pelan" ucap Nathan.
"Udah" jawab Ara karna memang dia sudah selesai menggosok bagian punggung Nathan.
"Yaudah ayo kita pulang" ajak Nathan. Ara tidak menjawab dia hanya membantu Nathan untuk bersiap pulang.
Setelah selesai bersiap merekapun langsung keluar dari rumah sakit itu dan Ara mencarikan taxi karna di dalam sakunya ada uang seratus ribu.
Setelah dapat taxi Ara dan Nathan langsung naik ke dalam taxi itu. Hanya keheningan yang tercipta di dalam mobil taxi itu.
Tidak lama kemudia merekapun sampai di kediaman pernandess. Arapun membayar taxi itu dan langsung masuk menyusul Nathan yang telah berlalu karna dia tadi yang menyuruhnya.
"Assalamualaikum" ucap Nathan saat masuk ke dalam rumah diikuti oleh Ara di belakangnya.
"Di atas kali" ucap Nathan dan langsung naik ke atas diikut oleh Ara dari belakang.
"Gak ada mereka" ucap Ara lagi.
"Iya ya kemana bunda sama ayah?" tanya Nathan.
"Mana gue tau kan kita sama sama baru pulang" jawab Ara.
"Aku nanya kamu?" tanya Nathan.
"Kalo gak nanya gue nanya siapa lo? kan gue yang di samping lo" jawab Ara dan langsung berlalu meninggalkan Nathan dan masuk ke dalam kamarnya dan juga Nathan yang ada di lantai tiga.
"Kok dia marah sih?" ucap Nathan dan langsung menyusul istrinya itu.
Ara baru saja ingin masuk ke dalam kamar mandi tapi niatnya terurung saat melihat Nathan yang masuk ke dalam kamar. "Ngapain masuk?" tanya Ara.
"Ini kan kamar aku" jawab Nathan.
__ADS_1
"Ssshhhttt" umpat Ara kesal dan masuk ke dalam ruang ganti untuk mengambil baju yang ingin ia pakai.
Setelah mengambil baju bajunya Ara langsung masuk ke dalam kamar mandi dan membersihkan diri. Nathan hanya duduk di atas kasur dan kembali memikirkan apa yang di katakan Ara di rumah sakit tadi yang mengatakan bahwa Ara tidak mencintai dirinya.
Setelah selesai mandi dan juga mengenakan pakaiannya di dalam kamar mandi. Ara langsung keluar dari kamar mandi itu.
Di saat keluar dia langsung menatap Nathan yang duduk dk atas tempat tidur begitupun dengan Nathan yang menatapnya yang baru saja keluar dari kamar mandi.
"Mau kemana?" tanya Nathan yang melihat Ara mengenakan celana panjang dan baju kemeja.
"Mau keluar bentar" jawab Ara dan langsung menuju ke dalam ruang ganti karna di sana juga terletak ruang hias. Nathan menyusulnya masuk ke dalam ruang ganti.
"Kamu keluar mau kemana?" tanya Nathan.
"Bukan urusan lo" jawab Ara dn mengenakan bedak sedikit dan lipstik yang juga sedikit.
"Jelas urusan aku kan kamu istri aku" jawab Nathan. Ara melirik Nathan dari kaca meja hias itu dan Nathan tampak marah.
"Gue mau ke makam" jawab Ara dan kembali mengalihkan andnagnya dari Nathan.
"Aku ikut" jawab Nathan.
"Gak usah lo baru aja keluar dari rumah sakit" jawab Ara.
"Pokoknya aku mau ikut" bantah Nathan.
"Lo masih sakit gak boleh keluar" ketus Ara.
"Aku mau ikut" ucap Nathan yang bersi keras ingin ikut dengan istrinya itu.
"Gue gak jadi pergi" jawab Ara karna dia tidak kau Nathan ikut dengannya.
"Kenapa?" tanya Nathan. Ara tidak menjawab pertanyaan Nathan dan langsung berlalu dari ruangan itu dan duduk di ayunan bulat tanpa tali yang ada di ruang tv di dalam kamarnya itu.
Ara menghidupkan televisi itu dan memilih menonton drakor karna pagi itu tidak ada siaran lain kecuali drakor dan juga acara gosip karna dia sekarang tidak berselera menonton gosip dan ingin menghibur dirinya.
Nathan ikut keluar dari ruang ganti itu dan langsung menemui istrinya yang sedang menonton itu. "Hey kenapa gak jadi pergi?" tanya Nathan lembut dan mendudukkan tubuhnya di kursi sofa di dekat Ara dan menatap lekat wajah wanita yang sudah mengisi hatinya itu dan juga sudah menjadi istrinya.
"Lo masih sakit" jawab Ara datar dan meninggalkan Nathan di dalam kamar dan menuju ke luar kamar.
__ADS_1
"Dia kenapa?" tanya Nathan heran. Karna tadi istrinya itu lembut sekali dengannya dan sekarang kenapa bisa seperti itu? mungkin itu yang ada di dalam pikirannya.