
"Kapan ponakan bibi keluar?" ucap Ara manja sambil mengusap lembut perut Erina dan itu membuat Erina sedikit kegelian.
"Empat bulan lagi bibi" jawab Erina menirukan suara anak anak da Ara terkekeh mendengarnya.
"Semoga kamu sehat sehat ya sayang" ucap Ara kembali mengusap lembut perut Erina dan akhirnya merekapun sampai di rumah Fikri dan Sheyla karna mereka berdua membuat rumah sendiri.
Ara dan Erina langsung turun dari taxi itu dan Ara membayarnya. "Assalamuaikum" teriak Ara dari luar tapi tidak ada jawaban dari dalam.
"Kenapa gak nyaut orang rumah?" tanya Erina.
"Gak tau" jawab Ara mengangkat kedua bahunya karna memang dia tidak mengetahui apapun.
"Sheyla...bang Fikri" teriak Ara lagi seperti anak kecil tapi masih saja tidak ada jawaban atau apapun dari dalam.
"Coba lo hubungin kak Sheyla" ucap Erina. Ara langsung mencari cari ponselnya tapi dia tidak menemukannya.
"Ponsel gue mana?" tanya Ara.
"Kenapa?" tanya Erina.
"Ponsel gue gak ada" jawab Ara sambil menyengir menghadap ke arah Erina. Erina mengambil ponselnya yang ada di dalam tas miliknya.
"Kak Sheyla dimana?" isi pesan yang di kirimkan oleh Erina kepada Sheyla.
"Kakak lagi di rumah Fikri" balas Sheyla.
"Ooh yaudah deh kak" balas Erina.
"Emangnya kenapa Er?" tanya Sheyla.
"Ini kita lagi di depan rumah kakak tapi gak ada orang" balas Erina.
"Kesini aja ke rumah Fikri" balas Sheyla.
"Lain kali aja kita main kesini lagi kak.....kita pulang dulu ya kak" balas Erina.
"Yaudah kalian hati hati" balas Sheyla. Erina kembali meletakkan ponselnya kembali ke dalam tasnya.
__ADS_1
"Gimana?" tanya Ara.
"Kak Sheyla di rumah kak Fikri" jawab Erina.
"Oh yaudah kita pulang aja ke rumah lo" ajak Ara.
"Kok kerumah gue?" tanya Erina.
"Emangnya salah?" tanya Ara.
"Gak salah sih tapi kan kak Vino di rumah Nathan" jawab Erina.
"Yaudah ayo kita balik kesana" ucap Ara terpaksa padahal dia malas sekali melihat wajah sang suami untuk saat ini. Mereka berduapun mencari taxi dan akhirnya mereka mendapatkan taxi dan mereka langsung menaiki taxi itu.
"Er" panggil Ara.
"Hmm" jawab Erina dan berhenti memankan ponsel dan menatap ke arah Ara.
"Gue nanti malam mau tidur sama lo boleh?" tanya Ara dengan wajah yang sngat berharap Erina mau tidur dengannya nanti malam.
"Emang gapapa?" tanya Erina menatap sang sahabat.
"kak Nathan atau kak Vino" jawab Erina.
"Kalo mereka gak boleh kita tidur di rumah Andita atau rumah kakek" jawab Ara.
"Pak ke alamat ini" ucap Ara sambil menyodorkan alamat rumah Andita kepada sopir taxi itu.
"Baik nona" jawab sopir itu dan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju rumah Andita.
"Kak kita gak jadi pulang" isi pesan dari Erina yang dia kirim kepada Nathan karna memang sedari tadi dia dan Nathan saling membalas pesan sedangkan Vino dia menyetir mengikuti sang istri dari belakang tanpa di ketahui oleh Ara dan Nathan juga mengikuti Vino.
"Loh kok gak jadi pulang?" tanya Nathan heran.
"Kenapa?" tanya Vino.
"Ara sama Erina gak jadi pulang" jawab Nathan.
__ADS_1
"Kemana emang mereka?" tanya Vino.
"Kita ikutin aja mereka dari belakang" jawab Nathan.
"Pak...pak...pak gak jadi ke alamat tadi ke alamat sini aja" ucap Ara menunjukkan alamat panti kepada sopir taxi itu.
"Iya nona" jawab sopir itu dan kembali melajukan mobilnya menuju ke alamat yang di tunjukkan oleh Ara.
"Loh kenapa malah kepanti?" tanya Erina karna mobil yang mereka tumpangi sudah sampai di panti.
"Gue nginep disini kayaknya.....lo pulang kerumah ya" jawab Ara sambil melebarkan senyumannya.
"Loh kok dia malah kepanti?" ucap Nathan bingung.
"Ayo lah kita pulang ke rumah bunda" ajak Erina.
"Gue kangen sama panti.....lo pulang aja ya jaga diri baik baik" ucap Ara kepada Erina sambil melebarkan senyumannya.
"Pak anter temen saya ke alamat awal ya pak jangan sampai teman saya kenapa kenapa" ucap Ara keada sopir taxi itu.
"Nanti bilang sama bunda kalo gue nginep disini okee" ucap Ara dengan senyum yang mengembang karna sekarang dia tidak ingin berbagi masalah bersama dengan Erina yang sedang mengandung takutnya akan berpengaruh dengan janin Erina.
Sopir tadi ingin melajukan mobilnya tapi Vino menyetop mobil itu. Vino ingin membayar tapi semua sudah di bayar oleh Ara tadi dan malahan dia melebihkannya.
"Kenapa Ara kepanti?" tanya Nathan kepada Erina.
"Dia bilang dia kangen sama panti" jawab Erina. Nathan ingin berlalu masuk ke dalam panti tapi Erina melaranganya.
"Kak biar dia disini dulu aja" tegah Erina.
"Tapi...."ucap Nathan terpotong.
"Ara masih marah sama kakak....kakak mau dia tambah marah?" tanya Erina menatap lekat Nathan. Nathan menggelengkan kepalanya.
"Biar dia disini aja dulu kak" ucap Erina kembali. Nathan terpaksa mengiyakannya meskipun berat untuknya meninggalkan wanita yang ia cintai itu tapi dia mau tak mau dia harus meninggalkan wanita itu di panti.
Di panti asuhan mutiara
__ADS_1
"Ara dateng" ucap Ara girang dengan senyum yang mengembang seperti orang sangat bahagia padahal dia sangat merasa sedih.