
"Yaudah Onty sama uncle pamit dulu ya" ucap Ara sambil mencium pipi keponakannya itu.
"Kenapa cepet banget sayang?" tanya Kya yang menghentikan tangisnya.
"Tiket ke amerika udah di pesen kemaren dan kita kesini cuma buat dateng ke ulang tahun Rafael bi" jelas Ara berbohong.
"Nginep di sini dulu aja nak...paman masih kangen sama kamu" bujuk Rizal berharap Ara mau menginap di rumahnya.
"Gak bisa man...kan tiketnya udah di pesan gak mungkin gak di pake ya kan nat?" tanya Ara kepada Natahn berharap Nathan membantunya.
"Iya man" jawab Nathan yang ikut berbohong.
"Yaudah paman bibi Ara pamit...Ael Onty pamit ya nanti Onty main main kesini lagi okee" ucap Ara dan mengangangkat jarinya dan membentuk hurup o.
"Hati hati sayang" ucap Kya. Ara dan Nathan langsung berlalu meninggalkan kediaman mereka dan menyetop salah satu taxi.
"Huh" Ara mendengus panjang sambil memejamkan matanya. Nathan hanya menatap istrinya itu dengan tatapan sedih dan hatinya sakit melihat istrinya itu sedih.
"Sini" ucap Nathan dan langsung memeluk istrinya itu. Ara tidak menolaknya dan malahan dia makin mempererat pelukannya kepada Nathan.
Beberapa menit mereka menempuh jalan yang cukup jauh itu akhirnya mereka pun sampai di hotel yang mereka tempati.
Ara berjalan lunglai di depan suaminya itu karna dia sangat tidak memiliki semangat lagi karna kata kata Teo tadi masih terngiang di telinganya.
Setelah sampai di lantai tempat kamar mereka Ara langsung masuk ke dalam kamar dan langsung mengambil handuk dan baju dan masuk ke dalam kamar mandi sedangkan Nathan hanya menatap istrinya yang tidak mengelurkan suara setelah pulang dari kediaman paman dan bibinya itu dan Nathan bisa mengerti itu dan tak mau menambah kesedihan istrinya itu.
Setelah selesai mandi dan menggunakan pakaian lengkap Ara langsung masuk ke dalam ruang ganti dan mendudukkan tubuhnya di dekat meja rias sedangkan Nathan sudah masuk ke dalam kamar mandi sejak istrinya itu keluar.
Ara menundukkan kepalanya di depan meja rias itu. "Huh" Ara mendengus kasar dan meletakkan kepalanya di antara kedua tangannya.
Ara menatap wajahnya sendiri dari pantulan cermin kaca rias itu. "Kamu kenapa selemah ini?" tanya Ara kepada bayangannya di kaca itu.
"Kamu bukan Ara yang dulu" sambung Ara.
"Mana Ara yang dulu? mana Ara yang kuat? Ara gak pernah lemah" sambung Ara dan langsung menundukkan kepalanya dan menjadikan bahunya tempat sandaran.
__ADS_1
Hikssss
Ara menangis karna perasaannya saat ini sangat kacau saat mengingat ingat kata kata yang ia dengar tadi. Nathan yang sedari tadi sudah mandi dan ingin masuk ke dalam ruang ganti dan menggunakan baju terurung saat mendengar istrinya itu berbicara sendiri.
"Ara lo harus kuat...lo gak boleh lemah" ucap Ara kembali yang masih tertunduk dengan air mata yang terus terusan mengalir.
Nathan yang melihat itu kembali merasakan sesak di dadanya dan diapun langsung memegang dadanya. Hatinya hancur sakit saat melihat wanita yang sangat ia cintai itu begitu rapuh saat sendiri.
"Lo bukan orang lemah...lo harus kuat...lo harus cari kebenaran tentang ini" ucap Ara dan menegakkan tubuhnya dan segera menghapus air matanya dan mengembangkan senyumannya meskipun hatinya masih hancur.
Ting..tong
Suara bel hotel itu berbunyi tanda ada orang di yang ingin bertemu dengan penunggu hotel. Ara menatap ke belakang dan melihat suaminya yang tengah berdiri di ambang pintu ruang ganti.
"Ngapain kamu disana?" tanya Ara.
"Baru aja selesai mandi" jawab Nathan dan ingin berlalu membukakan pintu tapi Ara mencegahnya.
"Biar aku aja" ucap Ara.
"Biar aku aja" jawab Nathan.
"Kenapa emangnya?" tanya Nathan yang belum mengerti. Ara tidak menjawabnya dan langsung berlalu membukakan pintu.
Nathan pun memilih masuk ke dalam ruang ganti dan mengenakan bajunya. "Cari siapa nona?" tanya Ara saat melihat seorang wanita yang berdiri di depan hotelnya.
"Anda siapa? kenapa anda di kamar saya?" tanya wanita itu.
"Ini kamar saya nona" jawab Ara. wanita itupun melihat nomor kamar dan benar saja dia salah kamar dan kamarnya terletak di sebelah.
"Maafkan saya nona...saya salah kamar" ucap wanita itu.
"Tidak apa apa" jawab Ara sambil melebarkan senyumannya. wanita itupun berlalu dan masuk ke dalam kamar sebelah dan Arapun kembali masuk ke dalam kamar nya.
"Siapa?" tanya Nathan menatap istrinya itu.
__ADS_1
"Orang salah kamar" jawab Ara dna langsung mendudukkan tubuhnya di atas kursi sofa.
Nathan ikut mendudukkan tubuhnya di samping istrinya itu. "Nat" panggil Ara.
"Hmm" jawab Nathan.
"Kita makan ayo...aku laper" ucap Ara tanpa malu karna memang dia sedikit lapar tapi dia keluar ingin meminum bir supaya bisa sedikit menghilangkan kesedihannya.
"Yaudah ayo...aku juga lapar" jawab Nathan.
Arapun mengangguk mengiyakannya dan mengambil jaket miliknya begitupun dengan Nathan.
Mereka makan malam hanya di dalam tempat hotel itu saja dan mereka memesan ruangan VVIP untuk mereka berdua saja karna itu kemauan Ara dan Nathan hanya menurutinya.
"Pak minta winenya" pinta Ara. pelayan itu menyodorkan wine kepada Ara. Ara menerimanya dan pelayan itupun langsung pergi.
"Kenapa minum wine?" tanya Nathan menatap istrinya yang meminum wine.
"Gapapa" jawab Ara yang belum mabuk karna dia baru meminum satu gelas.
Nathan tidak menjawabnya dan memilih memakan makanan yang ada di sana begitupun dengan Ara.
"Kenapa mereka tega ngebunuh mama sama papa?" tanya Ara dengan wajah merah akibat kepanasan dan matanya yang sayu menatap Nathan karna dia sudah terpengaruh alkohol.
"Jangan minum lagi" tegah Nathan saat melihat Ara ingin meminum wine yang ada di dalam botol.
"Seharusnya mereka itu juga ngebunuh aku...tapi kenapa mereka ninggalin aku? mereka bilang mau harta tapi kenapa gak ngebunuh aku sekalian hah?" tanya Ara kepada Nathan.
Nathan tidk menajwab perkataan istrinya itu yang sudah dalam keadaan mabuk dan dia memilih untuk diam dan mendengar setiap ocehan dari istrinya.
"Kok ada di dunia ini saudara yang tega ngebunuh saudara sendiri" ucap Ara.
"Kamu tau gak...aku gak butuh harta mereka aku cuma mau mama sama papa balik ke aku lagi" jelas Ara dengan senyum yang mengembang dengan tangan yang seperti memeluk diri sendiri.
"Aku cuma butuh kebahagiaan bukan harta....dan untungnya aku di nikahin dengan Nathan dan keluarganya juga selalu baik dengan aku kamu tau itu kan?" tanya Ara yang membayangkan kebaikan Nita dan Andre kepadanya dengan senyum yang mengembang kepadanya.
__ADS_1
Hikssss....hikssss
Ara tiba tiba menangis setelah ocehannya itu dan berdiri dari kursinya dan memeluk tubuh suaminya itu. "Kamu jangan tinggalin aku, Paham?" tanya Ara dalam pelukan Nathan.