
"Sampai segitunya dia gak mau di jodohin sama aku?" ucap Nathan sedih.
Nathan menatap lekat calon istrinya itu yang nampak sudah berhenti menangis dan menyenderkan tubuhnya di sudut jendela itu dengan menggunakan pakaian handuk tadi karna memang cukup lama dia melihat Ara menangis.
Nathan memilih untuk pulang ke kediamannya karna sudah selesai melihat Ara dan Ara juga sudah tenang sepertinya. Nathan berjalan dengan malas ke rumahnya.
"Assalamualaikum" ucap Nathan dan langsung masuk ke dalam rumah itu.
"Waalaikum salam" jawab semua orang yang ada di ruang tamu.
"Kenapa kesini Azlan?" tanya Nathan karna melihat Azlan.
"Kenapa gak boleh?" tanya Azlan. Nathan tidak menjawab itu dan memilih untuk berlalu ke kamarnya dan membersihkan dirinya.
Setelah membersihkan dirinya dan menggunakan celana pendek tanpa mengenakan baju dan handuk yang melilit di lehernya. Dia berjalan menuju ke ruang gantinya dimana disana lah tersimpan cincin yang pernah di berikan Dewa kepadanya.
Nathan mengambil cincin yang ada di dalam kotak itu dan membukanya. Nathan menatap lekat cincin itu. "Apa gue boleh nikahin pacar lo Dew?" tanya Nathan menatap lekat cincin itu.
'Hey" panggil Vino yang mengagetkan Nathan dan diikuti oleh Azlan yang berada di belakang Vino dan untung saja cincin yang di pegang oleh Nathan itu tidak ia keluarkan jika tidak pasti cincin itu akan jatuh.
"Kenapa?" tanya Natahn datar tanpa menatap kedua saudaranya itu dan kembali meletakkan cincin untuknya dan juga Ara itu ke tempat husus yang sudah ia siapkan beberapa tahun lalu saat ia sudah mencintai wanita itu.
"Lo beneran mau nikah sama Ara?" tanya Azlan.
"Tau dari mana?" tanya Nathan.
"Bunda tadi yang bilang" jawab Azlan.
"Iya gue beneran mau nikah sama dia dua hari lagi" jawab Nathan.
"Bagus dong kalo gitu nat kan lo juga suka sama dia" jawab Vino.
"Masalahnya dia gak suka sama gue" jawab Nathan.
"Gak mungkin Ara gak suka sama lo...kan sebelum dia ke amerika lo ada terus buat dia" bantah Alfin.
"Kenyataannya gitu mau gimana lagi" ucap Nathan dan langsung keluar dari ruang ganti itu menuju ke kasur di dalam kamarnya itu dan merebahkan tubuhnya.
****
__ADS_1
"Ara" panggil Andita sambil mengetuk pintu rumah kakek Ara itu karna gerbang tidak di kunci.
"Ara buka" teriak Erina saat tidak mendengar jawaban dari Ara.
"Kita liat ke samping" ajak Andita karna memang jika Ara di rumah kakeknya itu pasti pintu jendela kamar di atas yang terletak di samping terbuka.
"Tidur rupanya" ucap Erina melihat Ara yang memejamkan matanya sambil menyenderkan kepalanya di sisi jendela.
"Araaaa" teriak Erina membuat Ara langsung menoleh ke bawah.
"Kenapa?" tanya Ara datar karna memang dia tidak tidur tapi mencoba untuk menerima kenyataan hidupnya.
"Buka pintu depan" perintah Erina. Ara langsung melemparkan kunci rumah kepada kedua sahabatnya itu.
Andita menangkapnya dengan pas dan langsung menuju kembali ke depan dan membuka pintu. Setelah pintu terbuka mereka langsung masuk dan menuju ke kamar Ara.
"Lo beneran mau nikah sama Nathan?" tanya Andita menatapnya lekat saat sudah duduk di depan Ara.
"Tau dari mana?" tanya Ara lemah.
"Tadi kita kerumah lo dan mami cerita semuanya" jawab Erina.
"Kenapa cepet banget sih ra?" tanya Andita.
"Lo beneran sanggup?" tanya Andita menatap lekat wajah yang nampak sembab itu. Ara menatap lekat wajah Andita.
Hikkkkssss....hiksss
Ara kembali menangis. Andita dan Erina mengerti dan langsung memeluk Ara karna memang Ara belum bisa melupakan Dewa dan mungkin dia masih mencintai Dewa makanya dia bekum bisa menerima itu.
"Kita gak bisa bantuin apa apa...kita cuma bisa doa yang terbaik buat lo" ucap Erina yang memeluk Ara begitupun dengan Andita.
"Gue masih cinta sama kak Dewa meskipun dia udah gak ada" ucap Ara dan kembali menangis histeris.
Ara mengoceh di dalam pelukan kedua sahabatnya itu. Sahabatnya itu kadang menjawab dan kadang juga hanya dia mendengarkan ocehan demi ocehan yang keluar dari mulut Ara.
Hari sudah larut malam dan Ara juga sudah tertidur di elukan kedua temannya itu. Kedua temannya itu tidak ingin membangunkan Ara dan merekapun mengangkat tubuh Ara ke atas kasur dan menidurkannya dengan posisi biasa.
"Kenapa kehidupannya bisa gini" tanya Andita yang tadi ikut menangis jika mengingat ingat kehidupan temannya itu.
__ADS_1
"Kasian banget sama dia...perasaan gue semenjak kepergian kak Dewa udah gak ada lagi yang bikin dia bahagia" ucap Erina karna memang semenjak kepergian Dewa Ara nampak tidak pernah dekat dengan laki laki apa lagi pacaran.
Erina dan Andita pun ikut merebahkan tubuh mereka di samping kiri kanan Ara dan ikut tertidur.
Keesokan paginya Ara terbangun terlebih dahulu dia melihat kedua sahabatnya itu menemaninya.
"Er, Dit" panggil Ara membangunkan kedua sahabatnya itu.
"Hmmm" jawab Erina dengan mata yang masih memejam.
"Geu mau ke rumah mami soalnya kan besok acaranya" ucap Ara. Erina dan Andita langsung bangun dari tidur mereka.
"Ara lo beneran?" tanya Erina meyakinkan Ara. Ara mengangguk mengiyakannya sambil melebarkan senyumannya.
Andita dan Erina pun langsung membersihkan diri dan mengenakan pakaian Ara dan setelah itu berangkat ke kediaman Wijaya.
Saat sudah sampai terlihat banyak sekali orang dan mereka adalah orang orang suruhan Nita untuk menghiasi rumahnya itu untuk acara pernikahan.
"Ara" panggil Nita karna Nita dan keluarga juga disana.
"Bunda kenapa mewah banget?" tanya Ara.
"Ini kan pernikahan anak satu satunya bunda" jawab Nita sambil melebarkan senyumannya dan memegang bahu Nathan. Vino sedari tadi menatap Erina. Sedangkan Azlan menatap Andita yang sedang menguap.
Azlan terkekeh melihat wanita itu menguap. "Lo ngetawain gue?'' ketus Andita sambil melototkN matanya kepada Azlan.
"Siapa yang liatin kamu" ketus Azlan kembali yang tak mau kalah.
"Emang gue bilang lo liatin gue? gue nanya kenapa lo ngetawain gue" ketus Andita kembali.
"Siapa juga yng ngetawain kamu" ketus Azlan dan langsung berlalu untuk mengawasi pegawainya bekerja karna memang itu WO miliknya.
"Nak kalian ke butik aja sekarang" ucap Nita saat Azlan sudah pergi.
"Ngapain bun?" tanya Ara.
"Nyobain baju pernikahan kalian...bunda udah suruh mbak Dania buat nyiapin nya" jawab Nita karna memang Dania mempunya usaha pakaian.
"Yaudah" jawab Ara karna dia juga ingin bertemu dengan Dania untuk membicarakan hal ini.
__ADS_1
"Hati hati ya nak" ucap Nita saat Ara dan juga Nathan bersalaman dengannya.
Ara langsung masuk ke dalam mobil di samping kemudi di ikuti oleh Nathan yang duduk di kemudi.