
"Oh iya sayang, Kemarin papa mu bilang jika akan menyusul lima atau enam hari saat kau di sana bersama mama mu, Jadi kau tidak apa kan jika tinggal bersama ibu Ara dan ayah Nathan selama itu?" tanya Niita dengan menatap lekat wajah Okta yang ada di samping Ara karna dia baru ingat akan ucapan Vino dan Ressa kemarin yang mengatakan tentang hal itu.
"Em, sangat mau" jawab Okta dengan senyum yang melebar menatap nenek nya itu.
"Pintar, Lanjutkan makan nya" ucap Nita dengan mengusap kepala Okta, Okta mengangguk mengiyakan nya dan melanjutkan makan nya begitupun dengan Ara dan Yuna. Nathan baru saja turun dari kamar dan langsung mendudukkan tubuh nya di hadapan sang istri dan mengambil makanan sendiri meskipun Ara menawarkan diri tadi tapi dia ingin mengambil sendiri.
Setelah selesai makan mereka pun langsung keluar dari rumah itu dan langsung masuk ke dalam mobil dengan membawa mobil sendiri sedangkan Terie tinggal di bandung. Nathan dan yang lainnya masuk ke dalam mobil dan setelah itu dia pun langsung melajukan mobil nya dengan kecepetan sedang meninggalkan rumah dan komplek perumahan itu.
Beberapa jam menempuh perjalanan panjang akhrinya mereka sampai di bandung dan lebih tepat nya lagi partemen Nathan. "Aku ingin tinggal di rumah nek Saidah, Aku merindukan nya" ucap Ara kepada sang suami yang menghentikan mobil di depan apartemen.
"Besok saja" jawab Nathan.
"Aku mau sekarang" ucap Ara, Nathan sebenarnya malas untuk tinggal di rumah Orang karna dia ingin menghabiskan waktu bersama anak anak dan istri nya tanpa gangguan siapapun makanya dia tidak mau ke rumah nek Saidah.
"Ayah ayo kita ke rumah nenek dan om Roky" ajak Yuna lagi kepada Nathan, Nathan menoleh ke belakang.
"Baiklah, Baiklah, Ayah akan ke rumah nenek mu" jawab Nathan yang hanya bisa pasrah karna itu kemauan istri dan anak nya. Ara tersenyum saat sng suami mengikuti nya tapi dia ingat jika pakaian Nathan tidak ada di sana.
"Pakaian mu tidak ada di sana begitupun dengan pakaian Okta" ucap Ara yang baru ingat. Nathan juga ingat akan dia yang tidak memiliki pakaian di rumah tinggal istri nya saat di bandung, Nathan langsung merogoh ponsel nya yang ada di dalam saku celana nya dan langsung menghubungi Terie.
"Masukkan beberapa pakaian ku ke dalam koper begitupun dengan pakaian Yuna dan setelah itu bawa ke bawah" perintah Nathan kepada Terie dan setelah itu dia langsung mematikan ponsel nya. Terie dengan segera menyiapkan apa yang di perintahkan oleh bos nya itu dan setelah selesai dia langsung ke bawah.
"Di mana pak Nathan?" guman Terie yang tidak menemukan Nathan. Nathan membuka kaca mobil nya dan melambaikan tangan kepada Terie.
"Itu dia" ucap Terie dan langsung membawa koper itu menuju ke mobil Nathan dan Nathan pun membuka bagasi mobil nya itu.
__ADS_1
"Bagaimana pekerjaan mu tanpa ku?" tanya Nathan saat Terie sudah selesai meletakkan koper di bagasi.
"Biasa saja" jawab Terie akan pertanyaan Nathan.
"Baiklah, Aku akan pergi lagi" jawab Nathan.
"Jangan pak" jawab Terie.
"Aku hanya bergurau, Aku akan tinggal di dekat proyek pembangunan bersama istri dan anak ku" ucap Nathan kepada Terie. Terie menoleh ke arah Ara dan Ara melambaikan tangan kepada nya.
"Cantik sekali istri mu pak" ucap Terie dengan berbisik di telinga Nathan.
"Berani sekali kau memuji nya" ketus Nathan. Terie langsung mengangkat kepala nya karna takut di pukul oleh Nathan.
Beberapa menit menempuh perjalanan akhrinya mereka sampai di tempat nek Saidah, Ara langsung turun begitupun Yuna dan Okta yang juga ikut turun.
"Nenek" teriak Ara saat keluar dan langsung memeluk nek Saidah yang sangat ia rindui.
"Cucu nenek" ucap nek Saidah dan membalas pelukan nya dan itu membuat Roky dan Nyimas yang ada di dalam toko keluar dan melihat Ara datang bersama suami nya.
"Ini nenek sayang" ucap Ara kepada Yuna anak nya.
"Nenek Yuna sudah bisa melihat" ucap Yuna kepada nek Saidah.
"Benarkah?" tanya nek Saidah dan menatap lekat wajah Yuna. Yuna mengangguk mengiyakan nya dengan senyum yang mengembang.
__ADS_1
"Itu om Roky" ucap Ara lagi dengan menunjuk ke arah Roky dan Nyimas yang berada tidak jauh dari sana. Roky dan Nyimas menghampiri mereka dan Roky langsung memeluk Yuna.
"Keponakan om sudah bisa melihat" ucap Roky kepada Yuna. Yuna tersenyum juga saat bisa melihat Roky dan Nyimas dan ternyata Nyimas itu cantik dan bukan hanya banyak bicara saja.
"Ini benar suami mu nak?" tanya nek Saidah kepada Ara. Ara mengangguk mengiyakan nya dan Nathan pun langsung menyalami nek Saidah yang sudah merawat dan menjaga sang istri dengan baik beberapa tahun ini.
"Ayo masuk" ajak nek Saidah kepada Ara dan Nathan, Mereka mengangguk mengiyakan nya, Ara menggendong Okta dan Nathan membawa koper milik nya.
Sesampai mereka di rumah nek Saidah mempersilahkan Ara dan Nathan duduk dan mereka pun duduk. "Nek, Apa boleh Ara dan suami tinggal di sini selama di bandung?" tanya Ara yang sedikit ragu.
"Sangat boleh, Sngat boleh, Bila perlu selama nya kalian tidak apa apa tinggal di sini" jawab nek Saidah yang senang akan Ara yang ingin tinggal di sana. Ara mengangguk dengan senyum yang melebar begitupun dengan Nathan.
"Yasudah kalian istirahat saja dahulu, Nanti malam turun ke bawah untuk makan ya" ucap nek Saidah.
"Aku masih ingin bermain ibu" ucap Yuna kepada Ara sedangkan Okta hanya diam karna dia baru mengenal nek Saidah dan juga Roky dan Nyimas.
"Baiklah ibu akan ke atas" jawab Ara dengan senyum yang melebar.
"Aku ikut" ucap Okta yang memegang tangan Ara.
"Okta ayo kita bermain bersama" ucap Yuna kepada Okta. Okta menundukkan kepala nya dan menggelengkan kepala nya itu.
"Kenapa? kau tidak nyaman dengan mereka? tenanglah mereka orang baik dan tidak akan menyakiti mu" ucap Ara kepada Okta, Okta menatap lekat wajah Ara dan Ara pun mengangguk mengiyakan nya.
"Baiklah aku akan ikut bermain" ucap Okta dan ikut bersama Yuna dan Roky. Mereka pun berlalu dan masuk ke dalam kamar Roky yang memang banyak mainan mau itu mainan semasa kecil atau pun sekarang saat dia sudah besar dan masih menyukai mainan itu. Nyimas juga ikut dengan mereka karna dia tidak mau jauh dari Roky, Ara dan Nathan pun beranjak dari sana dan menuju ke atas.
__ADS_1