
"Dia kenapa?" tanya Nathan heran. Karna tadi istrinya itu lembut sekali dengannya dan sekarang kenapa bisa seperti itu? mungkin itu yang ada di dalam pikirannya.
"Huh" Nathan mendengus kasar dan langsung merebahkan tubuhnya di kasur yang ada di dalam kamarnya itu.
"Kemana dia?" guman Nathan yang tidak melihat Ara masuk kembali ke dalam kamar mereka. Nathan memilih membersihkan diri terlebih dahulu di dalam kamar mandi.
Setelah selesai membersihkan diri Nathan keluar hanya menggunakan handuk dan dia belum mendapati Ara di dalam kamar itu. "Apa dia pergis sendiri?" guman Nathan dan langsung mengenakan pakaiannya dan setelah selesai mengenakan pakaiannya dia langsung keluar dari kamar.
Saat keluar dari kamar Nathan berpapasan dengan bi Imah. "Bi Ara mana?" tanya Nathan.
"Nyonya muda di halaman belakang tuan" jawab bi Imah.
"Sejak kapan bi?" tanya Nathan.
"Dia keluar dari kamar langsung kesana tuan" jawab bi Imah.
"Makasih ya bi" ucap Nathan dan langsung turun dari lantai tiga dan bergegas menuju ke taman belakang karna ingin mengetahui apa yang di lakukan oleh istrinya itu.
"Huh" Ara mendengus kasar dan menumpu wajahnya di lutunya dan tangannya seperti memegang dua poto.
"Ara kangen sama kalian" ucap Ara. Nathan yang baru saja ingin memanggil Ara langsung mengurungkan niatnya.
"Tapi Ara gak bisa ke makam karna Nathan masih sakit dan tadi dia mau ikut" ucap Ara dengan air mata yang menetes.
"Biar pun Ara gak cinta sama dia tapi dia tetep suami Ara" sambung Ara lagi sambil menatap poto orang tuanya dan Dewa.
"Huh...impian Ara emang pengen jadi anaknya bunda Nita tapi Ara gak pernah mikir kalo Ara bakal nikah sama Nathan dan menjalin hubungan suami istri" ucap Ara sambil terisak akan tangisnya.
"Dia masih ngehargain gue" guman Nathan sambil melebarkan senyumannya karna dia mendengar ucapan Ara.
"Hey" panggil Nathan. Ara langsung menghapus air mata yang ada di pipinya itu.
"Kenapa? masih gatel tubuh lo?" tanya Ara datar tanpa menatap Nathan.
"Gak gatel lagi" jawab Nathan melebarkan senyumannya dan matanya terus menatap istrinya itu yang tidak pernah menatapnya sejak dia sampai di sana.
"Trus ngapain kesini?" tanya Ara dan sesegera mungkin menyimpan dua poto yang di tangannya itu.
"Mau nemuin kamu" jawab Nathan.
"Ada urusan apa?" tanya Ara yang sekarang sudah menatap Nathan.
"Ayo kita ke makam" ajak Nathan.
"Lo masih sakit" jawab Ara dan kembali menumpu wajahnya menggunakan lutut kakinya itu.
"Kan gak parah para banget" jawab Nathan sambil melebarkan senyumannya.
__ADS_1
"Pokoknya tetep gak" tegas Ara tanpa menatap suaminya itu.
"Kenapa? aku juga mau minta restu sama mama sama papa" jawab Nathan. Ara langsung menatap ke arahnya dengan tatapan heran.
"Tau dari mana kalo gue mau ke makam orang tua gue?" tanya Ara menatap lekat Nathan.
"Aku udah tau lama masalah ini" jawab Nathan.
"Sejak kapan?" tanya Ara.
"Sejak kita ke panti ngambil baju baju kamu" jawab Nathan. Ara berusaha mengingat ingat waktu itu.
"Oiya kan dia ikut gue waktu papi bilang kalo gue bukan anaknya" guman Ara.
"Lo denger juga waktu itu?" tanya Ara.
"Bukan dari itu aja sih" jawab Nathan.
"Trus?" tanya Ara menatap lekat ke arahnya.
"Semenjak acara tunangan Sheyla waktu itu aku udah suruh anak buah aku nyarinya" jelas Nathan. Ara mengingat ingat waktu malam acara lamaran Sheyla.
"Lo juga ada di sana? bukannya lo di deket Sheyla?" tanya Ara bingung karna setaunya Nathan di dekat Sheyla dan yang lain.
"Rafael manggil aku makanya aku juga denger itu" jawab Nathan.
"Kenapa harus dia?" guman Ara.
"Bunda" ucap Ara menoleh ke arah Nita begitupun dengan Nathan.
"Ngapain disini?" tanya Nita.
"Disini seger bun" jawab Nathan sambil melebarkan senyumannya.
"Udah beneran boleh dokter kamu pulang?" tanya Nita.
"Iya bun dia udah di bolehin pulang tapi bintik merah di badannya masih ada...liat ini" ucap Ara sambil menyodorkan tangan Nathan kepada Nita.
Nathan tersentak kaget karna Ara memegangi tangannya dan jantungnya berdebar tak karuan. Nita terkekeh melihat ekspresi wajah Nathan yang nampak memerah itu.
"Bunda kenapa ketawa?" tanya Ar bingung.
"Gapapa nak" jawab Nita mengusap lembut kepala Ara.
"Bunda dari mana tadi?" tanya Nathan.
"Bunda tadi ada urusan" jawab Nita.
__ADS_1
"Urusan apa?" tanya Nathan.
"Ntar kamu juga bakal tau" jawab Nita sambil melebarkan senyumannya dan berlalu meninggalkan Nathan dan Ara berdua di taman belakang.
"Bunda kenapa?" guman Nathan heran menatap ibunya yang sudah berlalu itu.
"Besok kita ke makam ya" ajak Nathan kepada Ara.
"Lo belum sembuh" ketus Ara.
"Aku udah sembuh" jawab Nathan.
"Dih kok lo maksa banget sih?" tany ara kepada Nathan.
"Mau minta restu sama papa sama mama" jawab Nathan.
"Udah sana pergi" ketus Ara sambil mendorong tubuh Nathan.
"Ini kan rumah bunda aku" jawab Nathan.
"Yaudah biar gue aja yang pergi" ucap Ara dan langsung berdiri tapi tangannya di pegang oleh Nathan.
"Lepasin" ketus Ara.
"Kamu mau kemana?" tanya Nathan.
"Mau kemana gue bukan urusan lo" jawab Ara dan menepis kasar tangan Nathan dan langsung berlalu.
"Ara ara" ucap Nathan sambil menggelengkan kepalanya dengan senyum yang mengembang.
Ara masuk ke dalam kamar dan langsung menonton tv dan duduk di kursi gantung yang berbentuk bundar itu. "Bosen banget sumpah" ucap Ara saat menonton tv karna sangat membosankan.
Ara berjalan mencari ponselnya di dalam kamar itu dan akhirnya dia menemukan ponselnya yang terletak di samping ponsel Nathan mungkin Nathan yang meletakkannya di sana.
Ara kembali ke tempatnya tadi dan memainkan ponselnya dengan tv yang masih menyala. "Kak apa bisa mempromosikan produk kami?" isi pesan pertama kali yang di buka oleh Ara.
"Tentu saja bisa" balas Ara.
"Alamat biasa ya kak?" balas orang itu.
"Tidak saya sudah tidak tinggal di sana lagi" balas Ara.
"Kemana kurir kami haru mengantarkannya kak?" balas orang itu.
"Ke alamat ini kak" balas Ara dan mengirimkan alamat rumah Nathan karna dia tinggal di sana.
"Baik kak akan kami antar sekarang dan nomor rekening kakak masih yang lama?" balas orang itu lagi.
__ADS_1
"Iya kak masih yang lama" balas Ara. orang itu tidak lagi membalas pesannya dan uang 250jt sudah masuk ke dalam rekening pribadinya.
Senyum Ara mengembang melihat uang yang ada di dalam rekeningnya itu cukup banyak karna selama di amerika dia tidak pernah menggunakan uangnya untuk membeli apapun karna Rizal melarang jika tidak dia mengancam Ara.