
Sesampai di dalam kamar Nathan tidak melihat istrinya di atas ranjang dan dia melihat jendela menuju ke balkon terbuka lebar. Nathan pun berjalan ke arah jendela itu dan mengintip apa ada atau tidak istrinya di sana.
Nathan mendapati istrinya yang tengah duduk di atas kursi dengan kedua lutut yang memangku wajahnya. Nathan awalnya ingin mengejutkan istrinya tapi dia sedikit mendengar isakan dan isakan itu sangatlah kecil suaranya dan mungkin jika Nathan tidak mendekat tidak akan terdengar.
Nathan menatap istrinya yang tengah memejamkan mata itu dengan air mata yang terus menerus mengalir deras di wajah cantik istrinya itu.
"Hey" panggil Nathan yang sudah berada di depan Ara. Ara langsung membukakan matanya dan dengan segera menghapus air matanya.
"Ngapain kesini?" tanya Ara dengan wajah yang menunduk karna masih mencoba menghapus air matanya. Nathan langsung mendudukkan tubuhnya tetap di samping istrinya itu.
"Mata aku kemasukan debu" ucap Nathan dan membesarkan mata nya agar Ara meniup nya.
Ara tidak menjawab nya dan menatap mata suami nya dan meniup nya. "Huuuuhhhh" Ara meniup mata suami itu dengan wajah masih saja sedih.
__ADS_1
"Udah" ucap Ara dan menjauhkan tubuh nya dari suami nya tersebut.
"Aku gak mau nanya apa apa sama kamu, Nanti kalo aku nanya kamu kenapa kamu malah nangis, Aku juga gak tau cara meghibur kamu gimana" ucap Nathan dan menatap istri nya tersebut dengan senyum yang mengembang.
"Hikkksssss....hikssss" Ara langsung memangis di sela sela tatapan nya menatap suami nya. Senyum dari wajah Nathan ikut pudar saat melihat orang yang sangat ia cintai itu kembali menangis.
"Nangis aja, Kamu patut nangis kok" ucap Nathan dengan mengusap kepala istri nya.
"Kenapa mereka setega itu?" tanya Ara dengan senyum yang mengembang.
"Mereka kenapa bunuh mama sama papa? apa salah mama sama papa?" tanya Ara dengan air mata yang tergenang tapi dia sekuat tenaga menahannya.
Nathan langsung memeluk istrinya itu dan menenggelamkan kepalanya di dada bidangnya. "Hikkkksssss" Ara kembali terisak dan air mata yang ia tahan sedari tadi pun tumpah saat berada di dada bidang suaminya itu.
__ADS_1
Nathan mengelus ngelus kepala istrinya itu sambil menciumnya. "Mama sama papa salah apa sama mereka sampai sampai mereka ngebunuh orang tua gue hikkkkksssss...hikssss" Ara kembali menangis sejadi jadinya di dada bidang suaminya itu karna memang itu yang ia butuhkan sekarang yaitu orang yang bis mendengar semua keluhannya.
Nathan tidak menjawab nya dan mengusap kepala istri nya. Istri nya berhak menangis atas kejahatan yang di lakukan mertua nya. Istri nya berhak sedih dengan keadaan yang mengharuskan nya sedih.
"Hikkkssss...hiksss" Ara hanya menangis dan menangis saja di pelukan suaminya itu.
Nathan hanya bisa mengusap dan mencium kepala istrinya itu karna dia juga tidak tau apa yang bisa membuat istrinya berhenti menangis.
"Kenapa mereka sejahat itu?" tanya Ara dengan mendongakkan kepalanya menghadap suaminya itu dengan tangan yang masih menggenggam erat baju yang di kenakan suaminya itu.
"Aku juga gak tau...nanti kita cari tau dan minta keadilannya" jawab Nathan dan kembali memeluk erat istrinya itu.
"Lo mau tolong gue ngungkapin kebenarannya?" tanya Ara tanpa mendongakkan kepalanya menghadap suaminya itu karna memang dia sangat merasa nyaman akan pelukan hangat dari suaminya itu.
__ADS_1
"Iya" jawab Nathan. Ara kembali terisak dalam pelukan suaminya itu dan Nathan membiarkannya sampai akhirnya Arapun tertidur di pelukan Nathan.