Ara Dan Nathan

Ara Dan Nathan
Gugup


__ADS_3

"Gw beneran gak mau kehilangan kenangan itu semua Dit Er....kalian tau kan Hikssss...Hikkkkssss" ucap ara dan kembali menangis di dalam pelukan Andita dan juga Erina.


"Yaudah jangan nangis kita cari sekarang aja" ajak Andita karna dia juga sudah malas jika belajar.


"Tapikan kita masih ada pelajaran dan sekarang belum jam pulang" jawab Erina.


"Gapapa kan mobil gw juga di luar pagar" ucap Andita kepada Erina.


"Yaudah ayo...jangan nangis lagi kita cari sekarang" ucap Andita sambil membimbing ara yang masih menangis untuk keluar.


"Kalian duluan aja" ucap Andita.


"Mau kemana?" tanya Erina.


"Mau ambil barang barang kita lah" jawab Andita dan langsung berlalu meninggalkan kedua sahabatnya itu untuk kembali ke kelas dan mengambil barang barangnya dan juga barang kedua sahabat nya itu.


Andita sudah selesai mengambil barangnya dan juga kedua temannya itu dan dia langsung menghampiri kedua sahabatnya yang menunggunya di dalam ruang UKS.


Saat sampai di luar ara dengan segera menghentikan tangisnya meskipun tidak ada siapapun di sana karna semua murid masih belajar. Di perjalanan menuju ke parkiran ara dan kedua sahabatnya bertemu dengan nathan dan juga vino viona.


"Kalian mau kemana?" tanya Vino kepada Erina sedangkan ara masih menundukkan kepalanya dan berusaha menyembunyikan tangisnya.


"Mau anter ara pulang" jawab Erina datar.


"Kamu nangis?" tanya nathan yang berusaha ingin melihat wajah ara tapi ara selalu saja menghidar.


"Siapa yang nangis" ketus ara kepada nathan.


"Coba angkat kepala kamu" perintah nathan tapi ara tidak menurutinya. Nathan sedikit geram dan akhirnya dia sendiri yang mengangkat wajah ara dengan tangannya.


"Tuh benerkan kamu nangis" ucap nathan yang tidak memperdulikan tempat maupun orang di sekitarnya.


"Siapa yang nangis" ketus ara sambil menepis tangan nathan yang berada di dagunya.

__ADS_1


"Itu wajah kamu sembab hidung kamu juga merah" jawab nathan yang masih menatap lekat ara yang menyembunyikan wajahnya di balik rambut panjangnya.


Viona sangat tak suka akan perlakuan nathan kepada ara tapi tidak dengan Vino yang sangat senang melihat itu ntah kenapa dia bisa sesenang itu. Ara berlalu sendiri dari kelima orang yang tidak berniat untuk pergi dari sana dia menuju ke gerbang dan ingin menuju ke mobil Andita tapi dia di cegat oleh pak bima.


"Mau kemana?" tanya pak bima kepada ara.


"Mau pulang" jawab ara datar tanpa menoleh ke arah pak bima. Sedangkan nathan dan yang lain masih mematung di lapangan dan mereka hanya menatap ara.


"Kenapa dia nangis?" tanya nathan kepada Erina dan Andita.


"Ponselnya ilang makanya dia nangis" jawab Andita datar.


Nathan ingat jika ponsel ara ada dengannya. "Kenapa sesedih itu?" tanya nathan kepada Erina dan juga Andita.


"Di dalam ponselnya itu dia bisa ngilangin kesedihannya pak jonathan" jawab Erina kesal karna sedari tadi nathan bertanya. Nathan tidak menjawab perkataan Erina dia langsung menyusul ara yang ada di dekat gerbang Vino dan viona pun mengikutinya begitupun dengan Andita dan juga Erina.


Sesampai di dekat gerbang nathan langsung menarik tangan ara dan itu membuat semua yang menatapnya kaget. "Lepasin gw" bentak ara kepada nathan. Nathan tidak memperdulikan ucapan ara dia terus saja menarik tangan ara dan menuju ke mobilnya yang terparkir di parkir guru sekolah itu.


Ara terus meminta di lepaskan tangannya tapi nathan tidak memperdulikan itu. Erina dan Andita pun terus mengikuti nathan dan juga ara begitupun dengan Vino dan juga viona.


"Ini punya kamu kan?" tanya nathan sambil menyodorkan tas milik Erina yang di gunakan oleh ara tadi malam. Ara yang tadi kesal dan tidak memperdulikan nathan langsung menatap ke tas yang di ulurkan oleh nathan.


Ara merasa sangat bahagia karna ponsel miliknya tidak hilang dia mengambil tas yang di ulurkan oleh nathan kepadanya dengan mata yang berbinar akibat bahagia. Dia membuka tas itu dan melihat semua isi tas itu masih utuh.


"Makasih" ucap ara dan langsung memeluk tubuh nathan dan itu membuat nathan kaget dan sedikit membungkukkan tubuhnya karna tinggi tubuh ara 160cm. Dia sedikit terkejut dengan ara yang tiba tiba memeluknya dan jantungnya juga berdetak kencang seperti ingin loncat.


Semua orang yang ada di sana juga ikut kaget melihat ara yang memeluk nathan secara tiba tiba dan nathan sepertinya sangat gugup akibat di peluk oleh ara. "Berarti itu tas dia?" guman viona sambil menatap tak suka ke pada ara yang sedang memeluk nathan.


"Ara?" guman Andita kaget karna setaunya seorang ara rianti tidak lah mudah memeluk pria lain.


"Makasih banget" ucap ara yang sudah melepaskan pelukannya dari tubuh nathan.


"Saa...sama sama" jawab nathan sangat gugup.

__ADS_1


Ara tidak menjawab apa apa lagi dia sangat bahagia saat ponselnya di temukan sedangkan nathan masih gugup akibat pelukan ara tadi ntah kenapa detak jantungnya berdetak lebih cepat.


Vino sedikit terkekeh melihat ekpresi wajah nathan yang tampak gugup dan sedikit memerah. "Nathan nathan" guman Vino sambil menggelengkan kepalanya.


"Eh lo kenapa main peluk peluk aja?" ketus Andita kepada ara.


"Hah?" tanya ara yang bingung.


"Udah ayo" ucap Erina yang menghentika Andita yang ingin menjawab perkataan ara.


"Sekali lagi makasih bangettttt" ucap ara sambil melebarkan senyumannya kepada nathan dan itu semakin membuat nathan gugup.


"Hehe" ucap nathan sambil melebarkan senyumannya seperti orang gugup. Ara tidak menjawab perkataan nathan maupun mengeluarkan kata kata dia langsung berlalu meninggalkan nathan alfin dan juga viona yang hanya menatap kepergian mereka.


"Hey" ucap Vino yang mengagetkan nathan.


"Apaan sih" bentak nathan sambil memukul pundak Vino.


"Lo beneran suka ya sama ara" ledek Vino.


"Apaan sih ayo kita pulang ke kantor" ajak nathan yang sudah masuk ke dalam mobil sedangkan viona bingung dan juga sedikit tak suka akn perkataan Vino yang mengatakan bahwa bosnya itu menyukai ara.


Di dekat pagar saat ara dan kedua sahabatnya itu ingin keluar bima melarangnya. "Kalian mau kemana?" tanya bima.


"Bapak gak liat kaki ara luka....kita mau anter dia pulang" jawab Andita. Bima melihat kaki ara yang sudah di perban.


"Kalian kenapa masuk?" bentak bima.


"Kita tadi kebelet makanya masuk pak" jawab Andita.


"Ini beneran neng ara sakit kan? bukan alasan kalian mau bolos?" tanya bima meyakinkan.


"Ya allah pak beneran coba bapak liat mata ara udah sembab akibat nangis dia kesakitan" ucap Andita berbohong padahal ara menangis karna kehilangan ponselnya. Bima menatap wajah ara yang memang nampak sembab.

__ADS_1


Bima tidak menjawab apa yang di katakan oleh Andita dia membuka kunci gerbang dan menyuruh ketiga orang itu keluar. Mereka bertigapun keluar dan saat bima membuka pintu gerbang untuk ara Andita dan juga Erina mobil yang di kendarai oleh sopir pribadi nathan juga ingin keluar dan bima pun membuka gerbang itu sampai ujung.


__ADS_2