
"Yaudah ayo kita mandi" ajak Ara kepada Rafael dan langsung berdiri dengan menggendong Rafael.
Ara langsung masuk ke dalam kamar mandinya tanpa menutup layar jendela kamarnya itu. Dia membawa baju handuk untuknya sedangkan untuk Rafael handuk kecil miliknya.
"Udah selese mandinya" ucap Ara sambil menggendong Rafael dan Nathan masih ada di tempat tadi karna memang dia ingin mengawasi Ara.
"Wangi sabun Onty" ucap Rafael mencium bau tubuhnya.
"Yaiyalah endors itu" ucap Ara sambil terkekeh. Nathan ikut senang melihat Ara tertawa bebas seperti itu dan diapun langsung kembali ke rumahnya untuk bersiap siap mengawasi ujian di SMK.
Ara sudah mengenakan pakaian sekolahnya dan langsung mengantarkan Rafael yang sudah mengenakan pakaian kepada ibunya.
"Bibi Ara mau ke sekolah" ucap Ara sambil memberikan Rafael kepada Kya.
"Makan dulu" jawab Kya.
"Oiya Ara lupa" ucap Ara dan langsung mendudukkan tubuhnya di kursi dan setelah itu dia melahap makanan yang sudah disiapkan oleh Kya untuknya. Begitupun dengan Rafael dan Rizal.
Setelah sarapan pagi Ara langsung berpamitan kepada bibi dan pamannya itu. "Ara berangkat" teriak Ara dari luar gerbang.
"Kebiasaan banget sih pamit ratusan kali" teriak Rizal karna memang seperti itulah Ara.
Ara hanya terkekeh dan setelah itu dia berjalan melewati rumah rumah yang ada di komplek itu sampai akhirnya dia sampai di jalan raya.
"Gue ke makam apa langsung ke sekolah ya?" guman Ara bingung.
"Ke sekolah aja abis ujian baru gue ke makam" ucap Ara sambil melebarkan senyumannya dan langsung berangkat ke sekolah dengan berjalan kaki.
Sesampainya di sekolah Ara langsung mencari cari namanya dan melihat lihat di mana letak ruangannya. "Kok gue sendiri sih...Andita sama Erina aja satu lokal" teriak Ara karna dirinya terletak di ruangan A sedangkan Erina dan juga Andita di ruangan C.
"Ayyssss" umpat Ara kesal dan langsung mendudukkan tubuhnya di depan ruangannya.
"Eh lo kenapa?" tanya Arfel yang baru saja sampai dan melihat Ara duduk sambil mengerucutkan bibirnya.
"Itu masak gue sendiri di ruangan A sedangkan erina sama Andita di ruangan C" ketus Ara sambil menunjuk ke daftar dan letak kelas semua murid kelas 12.
"Haha untung gue masih seruangan sama Ilham Agus" ucap Arfel sambil tertawa mengejek Ara.
"Apaan sih lo udah sana pergi" ketus Ara kepada Arfel. Arfelpun meninggalkannya dan menuju ke kantin karna dia bekum sarapan.
"Woy" teriak Erina dan juga Andita bersamaa dan memegang bahu Ara.
__ADS_1
"Lo mau gue masuk rumah sakit hah?" ketus Ara yang merasa kaget.
"Maafin kita" ucap Erina.
"Lo sih ngapain ngelamun?" tanya Andita.
"Gue bete" jawab Ara.
"Bete kenapa?" tanya Andita.
"Liat daftar ruangan" ucap Ara. Andita dan Erina pun langsung melihat ke daftar ruangan itu.
"Kita satu lokal Dit" ucap Erina bahagia sambil memeluk Elin.
"Eh tapi kok lo di ruangan A sih ra?" tanya Andita heran.
"Gue juga tau kenapa masak gue sendirian di ruangan A" jawab Ara.
Kringggg...
Suara bel apel berbunyi. Ara dan kedua sahabatnya itu langsung menuju ke lapangan apel dan terlihat Nathan dan kedua asistennya berdiri di depan.
Bu adriana menyampaikan apa yang harus ia sampaikan di depan sedang kan Nathan Vino dan juga Viona berjalan jalan melihat anak murid kelas 12 itu dan membagikan kartu peserta ujian kepada masing masing.
"Panas ini" ketus Ara.
"Bangun ra orang mau bagi kartu peserta ujian" ucap Amel melihat Nathan dan kedua rekan kerjanya itu.
"Untung gue mau baris" jawab Ara tanpa menoleh ke arah Amel dan meletakkan wajahnya di kedua tangannya.
"Ara riyanti wijaya?" ucap Viona saat berada di dekat rombongan itu.
"Saya buk" jawab Ara tanpa berdiri dan masih berjongkok.
"Kenapa kamu duduk?" tanya Viona.
"Saya jongkok buk bukan duduk" jawab Ara santai dan mendongakkan kepalanya dan dia kaget melihat Nathan yang sudah berdiri tepat di dekatnya.
"Bangun" perintah Viona. Ara langsung berdiri karna memang dia selalu menurut.
"Mana kartu ujian saya buk?" tanya Ara sambil menengadahkan tangannya kepada Viona.
__ADS_1
"Kamu bisa sopan?" bentak Viona yang membuat semua mata tertuju kepadanya.
"Kok ibuk jadi marah marah sih?" tanya Ara santai.
"Kamu bisa sopan sama yang lebih tua dari kamu?" bentak Viona lagi. bu Adriana yang sedang berbicara di depan pun langsung berjalan menuju Ara dan juga Viona.
"Kurang sopan apa lagi ibu?" tanya Ara kepada Viona masih tetap santai.
"Cara bicara kamu" bentak Viona lagi.
"Buk kenapa? kenapa Ara?" tanya bu Adriana panik.
"Ini buk tadikan Ara jongkok abis itu ibu ini suruh Ara berdiri ya Ara berdiri abis itu Ara mau minta kartu peserta ujian tapi ibu ini malah marah marah sama Ara" jelas Ara kepada bu Adriana. bu Adriana selalu percaya kepada Ara jika sedang menjelaskan sesuatu karna memang Ara sangat lah jujur.
"Bu maafin murid saya kalo dia salah" ucap bu Adriana kepada Viona.
"Ibu kenapa minta maaf?" tanya Ara.
"Diam kamu" ketus Viona sambil menunjukkan jari telunjuknya kepada Ara.
"Anak anak kalian semua bisa masuk ke dalam kelas masing masing" ucap pak Adam karna melihat semua mata orang tertuju kepada Viona dan juga Ara.
Semua muridpun langsung masuk ke dalam lokal masing masing yang sudah di tentukan. "Jangan nunjuk nunjuk gitu saya gak suka" ucap Ara datar karna memang dia sangat tidak menyukai jika ada orang orang marah dan menunjuk seperti Viona itu kepadanya.
"Bilang apa kamu?" ketus Viona lagi.
"Mau saya ulang?" tanya Ara datar.
"Ulangi" perintah Viona.
"Jangan nunjuk nunjuk gitu saya GAK SUKA" ucap Ara sambil menegaskan kata tidak suka.
"Berani kamu sama saya?" bentak Viona.
"Emang pernah saya bilang kalo saya takut sama ibuk?" tanya Ara. Viona mulai emosi terhadap Ara.
"Kamu...." ucap Viona ingin menampar Ara tapi Nathan mencegahnya karna dia tau sebenarnya dan memang Viona lah yang salah sudah membentaknya.
"Udah udah Ara kamu masuk kelas" perintah bu Adriana kepada Ara. Ara langsung mengiyakan dan permisi dengan sopan kepada semua orang di sana.
"Dia gak pantas dapat biaya siswa pak buk liat aja kelakuannya kayak anak gak kedidik sama orang tuanya" ucap Viona. Ara yang mendengar perkataan Viona sedikit kesal dia menggepal kedua tangannya wajahnya terlihat memerah akibat tak suka jika orang tuanya di bawa bawa apa lagi dia sudah tau jika orang tuanya sudah meninggal.
__ADS_1
"Jangan bawa bawa orang tua saya...yang punya masalah dengan anda saya bukan orang tua saya" ucap Ara tanpa menoleh ke arah Viona dan yang lainnya.