
"Baiklah aku akan ikut bermain" ucap Okta dan ikut bersama Yuna dan Roky. Mereka pun berlalu dan masuk ke dalam kamar Roky yang memang banyak mainan mau itu mainan semasa kecil atau pun sekarang saat dia sudah besar dan masih menyukai mainan itu. Nyimas juga ikut dengan mereka karna dia tidak mau jauh dari Roky, Ara dan Nathan pun beranjak dari sana dan menuju ke atas.
Nathan masuk terlebih dahulu dari pada istri nya ke dalam kamar itu. "Di mana meletakkan ini?" tanya Nathan kepada sang istri.
"Letakkan saja di sana" jawab Ara akan pertanyaan sang suami, Nathan tidak menjawab nya dan meletakkan koper tadi di depan lemari yang ada di dalam kamar itu. Ara membaringkan tubuh karna lelah tapi tidak dengan Nathan yang menuju ke dekat jendela dan kamar itu tidak memiliki balkon.
"Pantas saja kau betah di sini" ucap Nathan saat melihat pemandangan danau di sana memang segar di tambah lagi banyak pepohonan di sana.
"Bukankah nikmat?" tanya Ara dengan memejamkan mata nya dan masih berada di atas ranjang.
"Hem, Pemandangan sangat bangus di sini makanya aku ingin membangun resort di sini" jawab Nathan akan pertanyaan sang istri.
Ara beranjak duduk dari baring nya tadi karna dia tidak tau jika resort yang tidak jauh dari tempat nya itu sang suami yang membangun nya. "Kau yang membangun resort di sana?" tanya Nathan kepada sang suami dengan menatap lekat wajah sang suami.
"Hem, Aku waktu itu juga sedikit mencurigai kau saat kau menggunakan masker mengambil Yuna dari ku" jelas Nathan dengan membalikkan tubuh nya menatap sang istri.
Ara kembali membaringkan tubuh lelah nya itu. "Hem itu memang aku" jawab Ara dan kembali memejamkan mata nya.
__ADS_1
"Kenapa kau malah bersembunyi waktu itu dan tidak mau bertemu dengan ku?" tanya Nathan dengan menatap lekat wajah sang istri.
"Karna waktu itu aku belum tau jika kau tidak menghamili Delina makanya aku memilih untuk tidak menampakkan diri" jawab Ara.
"Bukannya kau sudah tau jika bukan aku yang menghamili Delina?" tanya Nathan dengan menatap lekat wajah sang istri yang tengah terbaring itu.
"Hem" jawab Ara dan menggelengkan kepala nya.
"Jadi kau membalas pesan ku waktu itu?" tanya Nathan lagi dengan menatap lekat wajah sang istri.
"Hanya membaca nya sedikit" jawab Ara datar tanpa membuka mata nya dan lebih memilih untuk memejamkan mata nya.
"Aku kan tidak menyuruhmu mengirimkan pesan setiap menit, Setiap detik dan setiap jam kepada ku" jawab Ara akan ucapan sang suami.
"Jahat sekali kau" ketus Nathan, Ara tidak menjawab nya dan kembali memejamkan mata nya. Nathan melihat lihat ke sekeliling kamar yang di tempati sang istri itu dan melihat pakaian bayi dan mainan banyak di dalam sana tapi tidak terlalu banyak dan itu pun mainan milik Roky hampir rata rata.
"Pasti berat ya untuk mu mengurus dan membesarkan Yuna sendiri tanpa ku" ucap Nathan dengan nada sedih nya. Ara membuka mata nya saat mendengar ucapan sang suami dan melihat Nathan yang berjalan ke arah lemari di mana itu lemari memang di hususkan untuk poto Yuna seorang dari dia kecil hingga dia besar.
__ADS_1
"Seharus nya aku menemani mu dan kita membesarkan Yuna bersama, Tapi aku malah memilih mengurus Okta dari pada mengurus anak kita" ucap Nathan lagi yang merasa iri akan Roky yang bisa bersama Ara saat hamil dan bisa melihat Yuna sewaktu masih bayi.
"Aku minta maaf, Seharus nya aku lebih awal menemukan mu, Andai saja waktu bisa di putar aku ingin sekali menemani mu melahirkan, Mengurusmu saat hamil, Dan membesarkan Yuna bersama dari dia bayi" jelas Nathan dengan senyum menatap poto poto anak nya yang dari lahir hingga saat ini.
"Tapi itu tidak akan terjadi dan aku hanya bisa menyesali nya, Aku benar benar minta maaf" sambung nya lagi dengan wajah sedih nya. Sedangkan Ara dia hanya mendengar apa saja yang di ucapkan oleh suami nya itu.
"Pasti berat bukan untuk mu membesarkan Yuna sendiri dan hamil dalam keadaan seperti ini?" tanya Nathan kepada sang istri dan menatap sang istri, Ara belum menjawab nya dan masih diam.
"Di tambah lagi kau hamil muda pasti sangat sakit melahirkan bukan?" tanya Nathan lagi karna dia bisa mendengar jeritan Delina saat melahirkan waktu itu.
"Hey lelaki bodoh, Kenapa kau malah bersedih? apa kau tidak bahagia bertemu dengan ku dan anak mu? jika tidak pergi saja kau dari sini jangan menemui ku" ucap Ara yang tidak mau meneteskan air mata saat mendengar perkataan demi perkataan yang keluar dari mulut sang suami. Nathan berjalan mendekat ke arah sang istri dan mendudukkan tubuh nya di samping sang istri.
"Perut datar ini selalu muncuk saat bersama ku dan membesar saat tidak bersama ku" ucap Nathan dengan mengusap lembut perut sang istri dan hampir meneteskan air mata. Ara tidak tahan lagi menahan air mata nya dan air mata itupun langsung menetes tapi dia dengan segera menghapus air mata itu.
"Aku minta maaf, Seharus nya aku menemukan mu dan mengunci mu di dalam kamar waktu itu" ucap Nathan lagi dan mencium perut datar sang istri dengan mata yang terpejam hingga air mata nya ikut keluar. Ara juga ikut menangis menyesali keegoisan nya yang pergi dari rumah tanpa memikirkan anak nya sewaktu itu dan hanya mementingkan perasaan nya saja waktu itu.
"Sudah lah tidak usah menangis, Lebih baik kita menjalani hidup saat ini dan jangan menyesali perbuatan lalu, Kau sudah menemukan ku dan Yuna, Nanti allah akan memberikan kita keturunan lagi dan kau bisa menjaga ku saat aku hamil anak ketiga kita" jelas Ara dengan mengusap lembut kepala sang suami. Nathan belum menjawab dan masih menenggelamkan kepala nya di perut datar sang istri dengan isakan nya karna dia juga seidkit malu untuk menampakkan wajah kepada snagat istri karna dia menangis saat ini.
__ADS_1
Keesokan pagi nya.
Yuna dan Okta bersiap siap untuk pergi ke sekolah begitupun dengan Nathan yang juga bersiap ingin ke kantor. sedangkan Ara menunggu anak dan ayah itu siap karna mereka malah bermain di saat Nathan menyisir rambut mereka. "Berapa jam lagi kalian selesai hem?" tanya Ara dengan menatap lekat anak anak nya dan juga suami nya.