
"Kau bagaimana ingin makan jika kau menyuapi Yuna?" tanya Nathan dengan menatap lekat istri nya itu.
"Nanti setelah selesai dia makan" jawab Ara akan pertanyaan sang suami itu. Nathan menatap lekat sang istri yang tengah menyuapi anak nya itu.
"Berarti setiap dia makan kau menunda makan mu?'' tanya Natha dengan menatap lekat wajah istri nya itu.
"Jika tidak seperti bagaimana lagi?" tanya balik Ara kepada sang suami tanpa menatap sang suami dan pokus menyuapi anak nya. Yuna beranjak dari tempat nya.
"Mau kemana?" tanya Ara kepada anak nya itu.
"Duduk di sini" jawab Yuna dan mendudukkan tubuh nya di atas ayunan bulat yang ada di dalam kamar itu dan menyalakan televisi persis sekali seperti Ara yang sangat suka melakukan hal seperti itu. Ara ikut beranjak dari sana dan mendudukkan tubuh nya di samping anak nya karna tubuh nya kecil muat masuk ke dalam sana.
"Makan lah lagi" ucap Ara dan kembali menyuapi anak nya itu, Yuna membuka mulut nya dan melahap makanan yang suapi oleh ibu nya itu dengan lahap tanpa menatap ibu nya dan pokus ke acara televisi yang sedang ia tonton saat ini.
"Susah sekali menjadi nya" guman Nathan saat sudah selesai makan dan menatap sang istri yang masih menyuapi anak mereka dan sama sekali belum menyentuh makanan.
"Sayang biarkan aku yang menyuapi Yuna, Kau makan lah nanti kau sakit" ucap Nathan yang sudah berada di hadapan istri nya itu. Ara tidak menjawab nya dan memberikan makanan tadi kepada sang suami, Nathan mengangkat tubuh anak nya itu karna tidak muat untuk nya duduk berdua bersebelahan dengan anak nya itu sedangkan Ara dia tengah melahap makanan nya.
Nathan begantian dengan sang istri untuk menyuapi anak nya dan sekarang giliran sang istri yang makan. "Bagaimana susah mu tanpa ku selama ini?" guman Nathan yang memikirkan apa saja yang di rasakan sang istri beberapa tahun ini mengurus Yuna sendiri sedangkan dia baru beberapa hari ini mengurus Yuna.
"Kak" panggil Ara akan suami nya.
"Iya sayang" jawab Nathan dan menoleh ke arah sang istri yang sudah selesai makan begitupun dengan Yuna yang juga sudah selesai makan.
__ADS_1
"Besok aku ingin kembali ke bandung" ucap Ara kepada sang suami.
"Untuk apa kembali ke bandung?" tanya Nathan dengan menatap lekat wajah istri nya itu.
"Aku merindukan nek Saidah dan juga kak Roky" jawab Ara akan pertanyaan sang suami.
"Yuna juga masih sekolah di sana bukankah Okta juga?" tanya Ara kepada sang suami.
"Hem, Tapi aku tidak tau apa orang tua Okta mengizinkan nya atau tidak" jawab Nathan yang kurang yakin akan Vino yang mengizinkan mereka membawa Okta ke bandung untuk melanjutkan sekolah.
"Dan mereka pasti sudah mendaftarkan Okta ke sekolah nya yang baru" sambung nya lagi yang yakin akan itu.
"Kau terlalu mudah menyimpulkan nya sendiri tanpa bertanya terlebih dahulu kepada orang nya" jawab Ara akan ucapan suami nya itu.
Nathan menoleh ke belakang dan melihat sang istri menundukkan kepala, Nathan langsung sadar akan apa yang ia ucapkan kepada istri nya itu. "Maaf aku tidak bermaksud...." ucap Nathan yang terpotong oleh Ara.
"Tidak apa, Itu memang pernah aku lakukan" potong Ara dengan melebarkan senyuman nya kepada sang suami.
"Hey kenapa kau sekarang mudah sekali memasukkan ucapan orang ke dalam hati hem? aku tidak tidak bermaksud mengatakan itu tadi" jelas Nathan dengan menatap lekat istri nya itu sedangkan Yuna tidak memperdulikan nya karna pokus akan film yang ia tonton.
"Iya aku tau jika kau tidak bermaksud mengatakan nya tapi itu memang kebenaran nya" jawab Ara dengan nada sedikit meninggi.
"Jika kau tau aku tidak bermaksud kenapa wajah mu langsung berubah saat aku mengatakan nya?" tanya Nathan dengan menatap lekat istri nya itu.
__ADS_1
"Pikir saja sendiri" ketus Ara dan beranjak berdiri dan mengambil piring yang ada di tangan sang suami dengan kasar dan meletakkan nya ke dalam nampan dan setelah itu langsung berlalu keluar dari kamar itu menuju ke lantai bawah untuk meletakkan piring kotor bekas nya, Suami nya dan juga anak nya makan tadi.
"Sudah tau dia salah masih saja bertanya kenapa kau hanya diam" ucap Ara yang meniru bicara sang suami tadi. Saat sampai di bawah, Ara tidak menemukan siapapun di bawah, Dia juga tidak memperdulikan nya dam setelah itu langsung meletakkan bekas makan nya tadi di tempat piring kotor dan itu banyak sekali piring kotor di sana, Setelah selesai memelatkkan piring tadi Ara kembali menuju ke atas tapi ada yang memanggil nya dan membuat nya mengurungkan niat nya untun naik ke atas.
"Ibu" teriak Okta dari bawah dan membuat Ara menoleh ke bawah dan melihat Okta berkunjung bersama kedua orang tua nya.
"Hey, Okta" sapa balik Ara, Okta langsung menaiki anak tangga dengan berlari.
"Hey hati hati nanti terjatuh" ucap Ressa istri Vino saat melihat Okta yang berlari.
"Auu" rengek Okta yang sudah terjatuh di hadapan Ara saat dia sampai di atas. Ara langsung menuju ke arah Okta dan Okta juga segera berdiri dan tersenyum menatap Ara.
"Kau tidak apa apa?" tanya Ara dengan melihat kaki Okta ada luka atau tidak.
"Aku tidak apa apa ibu" jawab Okta dengan senyum yang melebar menatap Ara dan itu menandakan jika dia tidak apa apa. Ara tidak memperdulikan nya dan menjongkokkan tubuh nya dan melihat kaki Okta ada lecet atau tidak dan untung nya tidak ada.
"Di mana Yuna bu?" tanya Okta kepada Ara yang menatap nya.
"Dia di atas, Mau ikut?" tanya Ara kepada Okta. Okta dengan segera menganggukkkan kepala nya dan ingin ikut bersama dengan Ara.
"Minta izin dengan mama papa mu dulu" ucap Ara kepada Okta dan langsung menggendong Okta.
"Ma, Pa, Aku ke atas bermain bersama Yuna" ucap Okta kepada Vino dan juga Ressa yang baru saja sampai di lantai dua.
__ADS_1
"Iya" jawab Ressa dengan senyum yang mengembang menatap anak nya itu.