
"Nathan kenapa kamu bodoh banget sih? kamu ini memotivasi orang lain tapi kok kamu sebodoh ini?" ketus Ara dan mengangkat kepala sang suami supaya menatapnya.
"Aku emang bodoh....aku mohon maafin aku" ucap Nathan kembali memohon maaf kepada sang istri.
Ara memegang kepalanya karna sedikit merasa pusing. "Kenapa?" tanya Nathan menatap sang istri yang tengah memegang kepala. Nathan membimbing sang istri untuk duduk di kursi yang ada di sana.
"Aku lapar" jawab Ara karna memang sedari kemarin dia belum makan dan terakhir dia makan bubur itu pun bersama dengan sang suami.
"Ayo kita makan....kamu kuat jalan kan?" tanya Nathan menatap wajah sang istri yang nampak sedikit pucat itu. Ara mengangguk mengiyakannya Nathan membimbingnya untuk berdiri tapi tubuhnya terasa sangat lemah dan tak bertenaga.
"Kamu tunggu disini biar aku aja yang beli makanan buat kita" jawab Nathan dan langsung berlalu tanpa memerlukan jawaban dari sang istri.
Ara hanya menunggu sang suami di atas kursi itu sampai akhirnya sang suami datang dengan membawakan makanan untuknya. "Ini" ucap Nathan sambil membuka kotak makanan itu dengan sedikit ngos ngosan.
"Kamu lari?" tanya Ara menatap lekat sang suami dengan keringat yang ada di dahinya.
"Kalo gak lari nanti kamu lama nunggu aku" jawab Nathan. Ara tidak menjawabnya dan mengambil makanan yang di berikan oleh sang suami dan menyantapnya dengan sangat lahap karna kelaparan.
"Kamu tadi pagi ada makan?" tanya Nathan menatap sang istri yang nampak sangat lapar. Ara menggelengkan kepalanya dengan mulut yang penuh oleh makanan.
"Kenapa gak makan?" tanya Nathan sambil menyibak rambut sang istri yang menutupi wajah cantik itu.
"Gapapa" jawab Ara. Nathan hanya melebarkan senyumannya saat melihat sang istri makan dengan sangat lahap.
"Kamu kenapa gak makan?" tanya Ara karna Nathan tidak ikut makan.
__ADS_1
"Abisin aja....aku belum laper" jawab Nathan dengan senyum yang melebar.
"Ini makan" ucap Nathan menyodorkan sumpit yang ada spagetinya kepada Nathan. Nathan menerimanya dan melahapnya karna saat ini ia hanya ingin menuruti kemauan istrinya dan membuat istrinya itu bahagia.
"Pinter" ucap Ara sambil mengusap lembut kepala Nathan seperti anak kecil saat Nathan menerima makanan yang ia suapi itu. Nathan hanya menanggapinya dengan senyuman saat melihat sang istri bahagia karna kebahagiaannya adalah kebahagian dari istrinya.
"Kamu pulang ke apartemen kita ya" ucap Nathan yang mencoba membujuk sang istri.
"Kamu janji gak bakal mudah kemakan sama omongan orang lain?" tanya Ara menghentikan makannya. Nathan mengangguk mengiyakannya dengan senyum yang mengembang karna memang Nathan tidak lah mudah untuk percaya dengan omongan orang lain tapi kenapa kemarin dia terlalu termakan oleh omongan Destina?.
"Yaudah ayo kita pulang" ajak Ara.
"Abisin dulu makanannya" jawab Nathan.
"Oiya lupa" jawab Ara dan kembali melahap makanan itu sampai habis.
Nathan berdiri dan mengikuti sang istri. Ara nampak berjalan sambil meloncat loncat seperti anak kecil karna hatinya merasa sangat bahagia hari ini karna dia sudah berbaikan dengan laki laki yang sudah ia cintai itu.
Nathan hanya melihatnya dan menggeleng gelengkan kepalanya saat melihat tingkah sang istri yang kadang seperti anak kecil dan kadang seperti orang dewasa itu.
"Kenapa berenti?" tanya Nathan melihat sang istri menghentikan langkahnya. Ara tidak menjawab dan hanya menatap lekat ke arahnya dan membuat dirinya bingung.
"Ada apa?" tanya Nathan melihat Ara menatapnya. Ara menggelengkan kepalanya dan menundukkan kepalanya. Nathan menatap lekat sang istri pasti ada yang ingin di bicarakan pikir Nathan.
"Ayo" ajak Nathan dan menggenggam tangan sang istri dan mengajaknya berjalan. Ara tidak menolah itu dan malahan dia menerimanya.
__ADS_1
"Nat" panggil Ara dalam perjalanan yang tidak terlalu cepat itu.
"Hmm" jawab Nathan dan memperlambat lagi langkah kakinya dan menatap sang istri.
"Emmmm.....gapapa" jawab Ara dan kembali menundukkan kepalanya. Nathan bisa melihat wajah sang istri yang seperti ingin mengatakan sesuatu itu tapi dia memilih untuk tidak menanyakannya.
Beberapa menit kemudian merekapun sampai di apartemen dan langsung naik lift dan menuju ke apartemen Nathan. "Nathan" panggil Feli saat melihat Nathan dan Ara keluar dari dalam lift karna memang dia sedari tadi menunggu Nathan.
"Mau apa kamu?" tanya Nathan datar karna dia tidak mau sang istri salah paham lagi.
"Siapa dia?" tanya Feli kepada Nathan dan menatap tak suka akan tangan mereka yng menggenggam.
"Dia istriku" jawab Nathan. Ara hanya menatap Feli dengan tatapan tak suka.
"Anda siapa?" tanya Ara datar.
"Saya pacarnya Nathan dan anda telah mengambil Nathan dari saya" jawab Feli dan menunjuk ke arah Ara. Ara sangat membenci jika ada orang yang menunjuk nunjuk seperti itu kepadanya.
Ara menepis kasar tangan Feli. "Berani kau menepis tangan ku" ketus Feli dan ingin menampar Ara tapi dengan segera Ara menangkis tangan itu. Ara mendorong Feli sampai sampai Feli terjatuh.
"Auuu" rengek Feli.
"Berani banget kamu nyentuh istri aku" bentak Nathan menahan amarahnya.
"Kenapa kamu ngebelain dia? jelas jelas dia yang dorong amu" ketus Feli tak terima.
__ADS_1
"Kamu yang duluan cari masalah dengan aku....aku ingetin sama kami jangan berani berani kamu ganggu hidup aku lagi. Mengerti?" jelas Ara berbisik kepada Feli sedangkan Nathan hanya menatapnya karna itu kemauan dari sang istri.