Ara Dan Nathan

Ara Dan Nathan
Empat tahun kepergian Dewa


__ADS_3

Ara termenung dan menatap layar ponselnya itu karna ada ornag yang naik ke atas panggung itu untuk menggantikannya.


"Siapa itu?" tanya Ara karna memang Erina tidak mengalihkan kamera itu ke belakang kembali.


Erina dan Andita langsung melihat ke atas panggung untuk melihat siapa yang menggantikan Ara. Mata mereka membulat sempurna saat melihat siapa yang menggantikan Ara begitupun dengan semua orang.


"Kak Nathan gantiin lo ra" ucap Andita yang masih termenung dan menatap Nathan yang mengambil nilainya.


"Apa? Nathan?" teriak Ara sedikit tak percaya dan itu membuat kedua temannya langsung menyadarinya dan menatapnya.


"Iya Nathan si donatur" jawab Andita lagi.


"Lo gak lagi boong kan?" tanya Ara yang tidak percaya.


"Ini lo liat" perintah Erina dan langsung menzoom kamera itu dan nampak jelas wajah Nathan yang sedang menggantikan Ara di atas panggung.


"Kenapa dia yang gantiin gue" guman Ara menatap lekat layar ponselnya itu.


Nathan sudah mengambil hadiah dah juga nilai milik Ara diapun langsung berdiri di samping kedua orang yang namanya tadi juga di panggil.


"Kenapa si donatur yang gantiin Ara?"


"Ada hubungan apa mereka?"


"Emangnya Ara kemana sampai si donatur itu yang gantiin dia"


"Wah ganteng banget"


"Suami gue itu"


Begitulah suara suara orang yang berbicara mengenai Nathan dan masih banyak lagi yang lainnya.


Setelah selesai Nathan dan yang lainpun langsung turun dari panggung dan menuju ke tempat duduk nereka masing masing. Ara masih tak bergeming dia masih menatap Nathan yang berjalan di balik layar ponsel itu.


"Kenapa dia gantiin gue?" guman Ara yang masih bingung.


"Kamu kenapa gantiin Ara nak?" tanya Dania kepada Nathan.


"Kan gak ada yang gantiin dia makanya Nathan aja yang gantiin dia" jawab Nathan sambil melebarkan senyumannya.

__ADS_1


"Kasih ponselnya kedia" perintah Ara. Erina langsung mengganti kamera belakang menjadi kamera depan.


"Ini pak" ucap Erina sambil menyodorkan ponsel miliknya kepada Nathan.


"Untuk apa?" tanya Nathan heran.


"Ara mau ngomong sama bapak" jawab Erina. Nathan yang mendengar nama Ara sangat senang dan akhirnya dia langsung mengambil ponsel milik Erina itu dan menatap lekat wajah wanita yanga da di balik layar ponsel itu.


"Lo ngapain gantiin gue?" tanya Ara dengan mata yang berbinar akibat menahan tangisnya.


"Kenapa gak boleh?" tanya Nathan masih menatap lekat wajah itu.


"Gue nanya lo kenapa lo nanya balik" ketus Ara kepada Nathan dan itu membuat air mata Ara tak tertahan lagi dan langsung tumpah di hadapan Nathan.


Nathan bisa melihat itu dia juga ikut sedih melihat Ara sedih. "Hey jangan nangis...ini coba liat nilai kamu bagus semua" ucap Nathan yang mencoba membujuk Ara.


"Siapa yang nangis" bantah Ara dan sesegera mungkin menghapus air matanya.


"Kalo gak nangis apa?" tanya Nathan dengan nada meledek.


"Disini udah malem kan gue jadi ngantuk" jawab Ara berbohong padahal memang ia dia tadi menangis.


"Ohh" jawab Nathan sambil mengangguk mengerti.


"Pertanyaan apa?" tanya Nathan sengaja mungkin karna ingin melepas rindunya terhadap wanita itu makanya dia ingin berlama lama mengobrol agar bisa menatap wajah cantik itu.


"Lo ngapain gantiin gue" ucap Ara kesal karna sudah tiga kali mengulangi pertanyaan yang sama.


"Kan aku udah jawab tadi" jawab Nathan.


"Mana gak ada lo jawab tadi" ucap Ara ambil mengerucutkan bibirnya. Senyum Nathan nampak mengembang saat melihat wanita itu mengerucutkan bibirnya dan itu seperti anak kecil.


poni Ara di gulung menggunakan gulungan rambut dan rambut panjangnya itu tergerai maka dari itu semuanya mengenalnya jika dia menggunakan poninya saat vidio call dengan Erina dan Andita pasti kedua sahabatnya bingung karna memang mereka berdua belum tau jika Ara mengganti rambutnya.


"Jangan cemberut lagi coba liat ini ada siapa di samping aku" ucap Nathan dan langsung menghadapkan kamera itu kepada Roni dan Dania sedangkan David dia masih ada urusan.


"Kak Ara" sapa Roni saat melihat Ara.


"Roni" teriak Ara yang sangat senang.

__ADS_1


"Kakak apa kabar?" tanya Roni.


"Alhamdulillah kakak baik baik aja kok" jawab Ara sambil melebarkan senyumannya. Nathan sangat bahagia melihat senyum yang mengembang di wajah wanita itu tapi tiba tiba panggilan itu terputus.


"Kak kok mati?" tanya Roni kepada Nathan.


"Yah mati" ucap Nathan.


"Kenapa kak?" tanya Erina kepada Nathan.


"Ini panggilannya mati" jawab Nathan.


"Ini ponsel Ara lowbat mungkin makanya mati" jawab Erina dan langsung mengambil alih ponselnya yang ada di tangan Nathan itu.


***"


"Astaga kok mati sih" ucap Ara dan memukul mukul pelan ponselnya supaya hidup kembali tapi usahanya nihil ponselnya tetap tidak menyala.


"Huh" Ara mendengus kasar dan langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur itu karna dia sudah berada di dalam apartemen.


"Apa dia pengganti kak Dewa?" guman Ara bingung saat mengingat ingat Nathan yang selalu menolongnya persis seperti kak Dewa.


Senyum di wajah cantik Ara mengembang saat dia mengingat nilainya yang paling tinggi di antara yang lainnya. Dan senyum itu juga seketika pudar saat dia mengingat jika tidak ada keluarga yang menggantikannya satupun.


Hikssss....hikssss


Tangisan Ara pecah saat mengingat kembali tidak ada satu orangpun keluarganya yang menggantikannya. "Semenjak kepergian kak Dewa udah gak ada lagi yang sayang sama gue...bahkan ambil nilai gue aja gak ada" ucap Ara yang kembali terisak akan tangisnya sampai sampai dia tertidur akibat sudah lumayan lama menangis.


Tiga tahun lebih sudah Ara hidup di amerika dan dia juga di temani oleh kedua sahabatnya itu yang juga ikut tinggal di apartemennya. Dan sudah empat tahun kepergian Dewa tapi Ara masih bekum bisa menghapus nama itu di dalam hatinya dan malahan dia semakin mencintai pria itu.


Setiap tahunnya Ara pulang ke indonesia untuk menemui makam Dewa dan kedua orang tuanya dan makam ketiga orang yang ia cintai itu meninggal saat tepat hari ulang tahunnya makanya dia bisa sekali saja untuk menjenguk ketiga makam orang yang ia cintai itu.


Dan hari ini adalah hari di mana empat tahun kepergian Dewa dan sembilan belas tahun kepergian kedua orang tuanya tapi Ara tidak bisa pulang karna sebentar lagi dia akan melaksanakan ujiannya padahal dia ingin sekali pulang tapi Rizal dan juga Kya melarangnya karna sebentar lagi dia ingin ujian.


"Ra" panggil Andita kepada Ara yang sedang baring dengan kaki yang di senderkan di dinding apartemen itu.


"Hmmm" jawab Ara.


"Keluar ayo" ajak Andita.

__ADS_1


"Enggak" jawab Ara singkat dan memilih untuk memejamkan matanya.


"Ayo lah ra kita ngilangin sedih di luar" ajak Andita ambil menarik tangan Ara. karna memang sudah beberapa hari ini Ara terlihat murung dan sedih.


__ADS_2