
Ara kembali menutup pintu kamar mandi itu dan melanjutkan mandinya yang tertunda oleh suaminya itu. sedangkan Nathan langsung keluar dan duduk di ruangan tv yang ada di dalam apartemen itu.
"Ra" teriak Andita dari luar apartemen. Nathn langsung berdiri dan membuka pintu itu.
"Ara mana kak?" tanya Andita yang ingin mengetuk pintu itu lagi tapi Nathan sudah membukanya.
"Dia masih mandi" jawab Nathan.
"Dia gak ke toko?" tanya Andita.
"Ia dia ketoko...tadi dia bilang kalo kmu nyari dia dia nyuruh aku bilang sama kamu kalo dia bareng aku ke toko" jelas Nathan.
"Yaudah kak nanti kalo Ara nyariin aku bilang aku udah berangkat ya kak see you kak" ucap Andita dan langsung berlalu dari apartemen Ara dan Nathan menuju ke apartemen Erina dan Vino.
Nathan kembali menutup pintu apartemen itu dan kembali duduk di atas kursi sofa yang ada di dalam apartemen itu. "Andita udah berangkat?" tanya Ara yang baru saja keluar dari dalam kamar dengan handuk yang masih melilit di kepalanya.
"Iya dia udah berangkat tadi" jawab Nathan menatap istrinya itu dengan lekat. Ara langsung mendudukkan tubuhnya di samping Nathan.
"Gak siap siap?" tanya Nathan yang malihat Ara menyalakan televisi.
"Sebenernya males banget" jawab Ara dan melepaskan banding dari kepalanya dengan kepala yang menunduk dan itu menampakkan leher putihnya yang membuat Nathan langsung melotot melihatnya.
Ara kembali menegakkan kepalanya dan melihat Nathan yang menatapnya dengan tatapan yang tak bisa di artikan. "Hey" ucap Ara sambil mengibaskan tangannya tapi itu tak membuat Nathan tersadar akan lamunannya.
Cup
Nathan langsung ******* bibir Ara. Ara tidak menolak itu karna memang dia juga sudah mulai candu akan bibir suaminya itu. Mereka berdua saling menikmati bibir satu sama lain dengan Ara yang memejamkan matanya dan memeluk tubuh Nathan dan Nathan memegang tengkuk kepala istrinya itu.
__ADS_1
Ciuman Nathan beralih ke leher putih istrinya itu. "Ini milikku" ucap Nathan menunjuk ke arah bekas ciumannya yang ada di leher jenjang istrinya itu.
Ara langsung tersadar dari kenikmatan itu dan langsung berlalu masuk ke dalam kamarnya karna dia sedikit malu terhadap Nathan. "Dia kenapa selalu bikin gue gak bisa ngontrol diri sekarang" guman Ara dan memukul pelan kepalanya.
"Ayo cepetan nanti kita telat" ucap Nathan yang menatap istrinya itu dari ambang pintu. Ara langsung menatapnya dan langsung mendudukkan tubuhnya di meja rias.
Ara menatap lehernya yang nampan merah akibat ulah suaminya itu. "Aaaa...Nathan" teriak Ara seperti anak kecil dengan memegang leher yang nampak merah itu.
Nathan yang mendengar teriakan dari istrinya itu dengan segera masuk ke dalam kamar istrinya itu. "Kenapa?" tanya Nathan hawatir saat sudah berdiri di samping istrinya itu.
"Liat ini" ucap Ara sambil memperlihatkan bekas kiss mark Nathan di lehernya. Nathan tersenyum melihat itu dan mencium kembali bekas itu.
"Ini tanda kalo kamu punya aku" ucap Nathan dengan wajah yang sangat dekat dengan wajah Ara dengan senyum yang mengembang bahagia.
"Trus gimana ini? gak mau hilang" rengek Ara. Nathan berjalan ke arah lemari pakaian istrinya itu dan mengambil baju rajut berwarna putih yang bisa menutup leher dan mantel berwarna hitam juga.
"Panas pakai ini" bantah Ara.
"Yaudah pakai itu aja kalo kamu mau orang liat bekas itu.....lagi pula cuaca beberapa minggu ini kan dingin bukan panas" ucap Nathan sambil menunjuk ke bekas ciuman itu lagi dan ingin berlalu meletakkan baju yang ia ambil itu kembali ke dalam lemari tapi Ara mencegahnya.
"Iya iya aku pake" ketus Ara dan mengambil alih baju itu dan langsung masuk ke dalam ruang ganti.
Ara sudah selesai mengganti pakaiannya dengan baju yang di ambilkan oleh Nathan tadi dan rok pendek yang tidak terlalu terlihat karna di tutupi mantel karna mantel yang ia gunakan itu cukup panjang dan langsung keluar dia juga sudah mengenakan sepatu ketsnya yang berwarna putih dan tinggal berangkat saja.
"Kenapa dia cantik banget?" guman Nathan kagum akan kecantikan dan keanggunan istrinya itu.
"Ayo berangkat" ajak Ara saat melihat Nathan hanya menatapnya. Nathan langsung tersadar dan mengikuti istrinya itu dari belakang.
__ADS_1
Ara masuk ke dalam mobil begitupun dengan Nathan sedang kan Alfin tadi sudah berangkat mengantar istrinya dan juga berangkat bersama dengan Andita ke toko bunga karna dia juga mengikuti Nathan.
"Kamu jangan terlalu dekat dengan cowo lain" ucap Nathan memecahkan keheningan di dalam mobil itu.
"Emang nya aku deket dengan siapa?" tanya Ara bingung.
"Aku juga gak tau...tapi aku cuma mau bilang kamu jangan terlalu dekat dengan cowo lain" jelas Nathan kembali karna dia sangat merasa cemburu jika istrinya itu dekat dengan pria lain.
"Kamu juga jangan terlalu dekat dengan cewe lain" ucap Ara yang tak mau kalah di tambah lagi bau parfum wanita yang tadi malam ia cium pada baju suaminya teringat.
"Aku gak pernah dekat dengan cewe lain kecuali kamu" jawab Nathan dan langsung menghentikan mobilnya karna memang mereka sudah sampai.
"Bau parfum siapa di baju kamu tadi malam kalo emang kamu gak dekat sama cewe lain huh?" ketus Ara yang sudah terbakar emosi dan langsung keluar dari dalam mobil suaminya itu dan membanting keras pintu mobil itu.
Nathan bingung akan perkataan istrinya itu dan dia berusaha mengingat inga apa yang terjadi tadi malam tapi tetap saja dia masih belum ingat dan akhirnya dia memilih untuk turun dari mobil dan langsung masuk ke dalan toko bunga yang lumayan besar itu.
pak Tristan langsung menyuruh siswa siswi itu untuk berkumpul karna pak Tristan juga ada di sana dan Nathan juga sudah datang. Semua siswa siswi yang meneliti di sana berkumpul dan Ara paling belakang karna masih tak mau menatap suaminya dan dia masih emosi dan marah terhadap suaminya itu.
"Eh lo kenapa?" tanya Andita melihat Ara yang murung dan seperti menahan amarah.
"Gapapa" jawab Ara datar. Nathan menyampaikan apa yang perlu ia sampaikan dan matanya sesekali menatap sang istri yang nampak masih marah dengannya dan tidak mau menatapnya itu.
"Pak kok lama banget ngomongnya?" tanya Ara karna memang dia sangat malas mendengar apapun sekarang.
"Ara" ucap pak Tristan karna dia bekum tahu apa hubungan Ara dan Nathan begitupun teman teman Ara tapi tidak dengan Andita.
"Tidak apa apa pak...ini memang salah saya yang berbicara lumayan lama" ucap Nathan sambil melebarkan senyumannya karna memang dia berbicara sudah hampir satu jam.
__ADS_1