Ara Dan Nathan

Ara Dan Nathan
Wisuda


__ADS_3

Tiga bulan kemudian


Tibalah hari wisuda Ara dan Andita sedangkan Erina sudah wisuda bulan lalu karna dia mempercepatnya karna kehamilannya yang semakin membesar dan sudah masuk ke 5 bulan.


Sedangkan Ara dia belum juga hamil tapi di antaranya dan Nathan sehat sehat saja dan mungkin tuhan belum memberikan mereka keturunan tapi rumah tangga mereka semakin akur dan semakin romantis beberapa bulan ini.


"Sayang" panggil Nita kepada Ara dari balik ponsel yang di pegang oleh sang suami karna Nita tidak bisa datang karna harus menemani Andre dan Erina dia sudah mendarat ke indonesia setelah wisudanya.


"Iya bunda" jawab Ara dengan melebarkan senyumannya.


"Maafin bunda yang gak bisa dateng" ucap Nita sedih karna dia sudah berjanji ingin menghadiri acara wisuda Ara tapi dia mengingkari janjinya.


"Gapapa bunda....ayah lebih penting lagi pula kan ada Nathan yang nemenin Ara" jawab Ara dengan senyum yang mengembang.


"Ara ayo" ajak Andita karna memang mereka harus duduk di bawah di dekat para anggota wisuda lainnya.


"Yaudah bunda Ara pamit kebawah ya" ucap Ara dan langsung berlalu. Azlan yang menemani Andita pun langsung duduk di samping Nathan dan di dekat kedua orang tua Andita.


Acara sudah di mulai dan nampak dari raut wajah Ara yang tidak berbahagia karna tidak ada satupun keluarganya yang kesana keculi sang suami. Pembawa acara itu memanggil nama orang yang mendapat nilai tertinggi ketiga dan kedua. dan mereka adalah Jenny dengan peringkat ketiga dan Damian peringkat kedua.


"Ara riyanti wijaya dengan nilai tertinggi di antara teman temannya yakni 93,88" teriak pembawa acara itu. Semua orang di sana bertepuk tangan mendengar itu karna itu pertama kalinya ada orang yang mendapatkan nilai setinggi itu di kampus itu.

__ADS_1


Nita nampak bersorak bahagia melihat sang menantu lah dengan nilai terbaik. Nathan sangat bahagia dan bangga akan prestasi yang dimiliki oleh sang istri.


"Huh" Ara menarik nafas panjang dan melebarkan senyumannya dan langsung baik ke atas panggung. Dosen yang membimbingnya memberikan piala penghargaan kepadanya yang berwarna transparan. Ara menerimanya dengan senyum yang mengembang.


Pembawa cara itu memberikan mikropon kepada Ara. Ara menerimanya. "Saya sangat bahagia hari ini karna di hari spesial saya ada yang menemani saya yakni orang yang sangat saya cintai....saya bahagia bukan karna nilai saya tertinggi tapi saya bahagia karna ini pertama kalinya saat pengambilan nilai saya di temani oleh orang yang sangat saya cintai saya juga berterima kasih kepadanya karna telah ingin datang kesini dan menemani saya" ucap Ara panjang lebar tanpa sadar air matanya menetes dengan segera dia menghapusnya dan itu membuat semua ornag yang menghadiri acara itu ikut meneteskan air mata.


"Saya lemah,,saya bodoh karna saya sekarang meneteskan air mata di depan kalian dan saya bodoh karna sudah mencintai dan menyayangi dengan tulus orang yang sama sekali tidak pernah menyayangi saya" sambung Ara kembali dan mengingat ingat perlakuan Teo dan Windi kepadanya.


"Maafkan saya yang sudah curhat kepada kalian semua sekali lagi terima kasih" ucap Ara dan membungkukkan sedikit tubuhnya. Nathan yang tadinya meneteskan air mata akibat tersentuh akan ucapan istrinya kembali tertawa saat mendengar kata kata terakhir istri begitupun semua orang yang ikut tertawa dan bersorak bertepuk tangan untuk Ara.


Tidak lama acara berlangsung akhirnya acara itu selesai dan Ara langsung menghampiri sang suami. Ara langsung memeluk tubuh sang suami dengan sangat erat. "Aku mencintaimu" ucap Ara jujur dan meneteskan air mata di dada bidang suaminya itu.


"Hey kamu kenapa malah nangis? kamu gak liat ini istri kamu dapat nilai tertinggi dan kenapa kamu malah nangis pula?" ketus Ara dengan segera menghapus air matanya.


"Benaran? sini kasih suami kamuu ini liat" ucap Nathan dengan girang yang membuat sang istri terkekeh. Nathan melihat nilai sang istri dan nilai itu sangat memuaskan semuanya.


"Selamat lo nilai yang terbaik" ucap Azlan sambil bersalaman dengan Ara. Ara menerima salaman dari Azlan.


"Jelas lah nilai gue yang paling tinggi kan gue emang pinter" jawab Ara menyombongkan diri.


"Jangan sombong lo ntar balik bego ntar" jawab Azlan.

__ADS_1


"Siapa yang sombong? kenyataannya begitu" ucap Ara bergurau dan kembali terkekeh begitupun dengan Azlan dan Nathan.


"Nak" panggil Liza ibu Andita.


"Mama" ucap Ara dan langsung memeluk tubuh Liza. Liza menerima dan membalas pelukan dari Ara karna dia juga sudah tau semuanya dan semenjak itu pula dia tidak menyukai Teo dan Windi dan berusaha membantu Ara untuk mencari bukti tentang kecelakaan kedua orang tuanya.


"Selamat ya nak kamu nilai terbaik" ucap Erlan kepada Ara.


"Makasih papa" jawab Ara dengan senyum termanisnya.


"Jangan senyumin papa gitu dong nanti papa diabetes liat senyum kamu" ucap Erlan yang mencoba membuat Ara tersenyum.


"Biar aja Ara masih mau senyum" jawab Ara dan kembali melebarkan senyumannya. Semua orang di sana terkekeh melihat tingkah wanita yang sudah bersuami itu seperti anak kecil.


"Oiya nanti malam kita makan malam bersama ya di resto paling mahal di amerika Ara yang traktir" ajak Ara karna memang dia sudah lama tidak makan di luar.


"Punya duit lo buat traktir kita?" ledek Andita.


"Lo gak tau siapa gue? coba lo buka ig lo cari username ig gue" jawab Ara kesal. Semua orang terkekeh melihat Ara yang mudah emosi itu.


"Ayo kita poto dulu" ajak Azlan. Ara mengiyakannya dan memberikan kamera milik sang suami kepada orang dan menyuruh orang itu untuk memoto mereka.

__ADS_1


__ADS_2