
"Akan fikri usahakan mi supaya seminggu setelah itu kita nikah" jawab fikri sedikit malu malu.
"Sayang kamu pulang aja...aku mau istirahat" ucap sheyla keada fikri.
"Yaudah mami papi fikri pamit pulang" pamit fikri sambil mencium punggung tangan kedua orang tua sheyla. Setelah itu fikri langsung keluar rumah dan masuk ke dalam mobilnya tanpa di antar oleh sheyla.
Fikri langsung melajukan mobilnya keluar dari daerah rumah sheyla.
Sheyla langsung masuk ke dalam kamarnya. Dia membanting keras pintu kamar adiknya itu karna mungkin dia kesal akan papinya yang selalu membandingkan dirinya dan juga ara samai akhirnya ara keluar dari rumah.
"Sheyla" bentak teo yang mendengar sheyla membanting keras pintu kamarnya itu tapi sheyla tidak menjawab maupun menghentikan langkahnya yang masuk ke dalam kamar. Mungkin tidak terdengar oleh nya karna kamarnya itu sedikit kedap suara.
Sheyla merebahkan tubuhnya di kasur dalam kamarnya sambil memejamkan matanya. Setelah itu dia ingat akan perkataan fikri yang mengatakan bahwa besok malam atau lusa dia ingin membawa orang tuanya menemui orang tua sheyla dan sheyla ingin semua keluarganya hadir termasuk ara.
Dia mengambil ponsel miliknya dan berniat ingin menghubungi ara. Dia mencari cari nomor ara dan akhirnya ia menemukan nomor ara.
Menghubungkan.....
Sheyla menelpon ara.
Drittt.....Drittt....
Suara ponsel yang ada di dalam saku celana ara berbunyi dan itu membuatnya mengambil ponsel miliknya itu.
"Sheyla?" ucap ara bingung tanpa mengangkat telpon dari sheyla.
"Siapa?" tanya nathan yang melihat ara tidak mengangkat telpon yang sedari tadi berbunyi.
"Sheyla" jawab ara.
"Kenapa gak di angkat?" tanya nathan lagi.
"Palingan dia suruh gw pulang" jawab ara dan ingin kembali memasukkan ponsel miliknya itu ke dalam saku celananya tapi nathan menghentikannya.
"Angkat aja dulu.....mana tau penting" ucap nathan. Ara yang mendengar perkataan nathan langsung mengangkat telpon dari sheyla yang belum dia angkat itu.
"Kenapa?" tanya ara datar saat telpon dari sheyla sudah dia angkat.
"Lo besok malam pulang ya" ucap sheyla.
"Gak" jawab ara singkat.
"Gw mohon.....kata fikri kalo gak besok malam lusa orang tuanya mau ke rumah dan gw mau lo ada di acara pertunangan gw" jelas sheyla.
"Gak" jawab ara singkat.
__ADS_1
"Ra gw mohon" ucap sheyla dengan nada melasnya.
"Gw udah bilang gak sheyla" ucap ara datar dengan menahan tangisnya.
"Gw mohon ra....acaranya bakal di adain gw mau lo ada" ucap sheyla lagi karna memang dia mengadakan pesta untuk acara pertunangannya itu.
"Kan gw udah bilang gw gak bakal dateng....gw sibuk" ucap ara yang berusaha menahan tangisnya.
"Gw mohon...lo dateng ya?" bujuk sheyla lagi. Dan arapun langsung mematikan telpon yang masih terhubung itu sebelah pihak.
"Huh" ara mendengus kasar dan langsung menundukkan kepalanya lagi.
"Kenapa?" tanya nathan.
"Gapapa" jawab ara datar.
"Kamu kenapa sedih banget kayaknya?" tanya nathan kepada ara.
"Siapa yang sedih....Dih sotoy banget" ketus ara sambil menatap ke arah nathan. Nathan tidak menjawab perkataan ara dan memilih melihat ke langit.
"Coba kamu perhatiin bintangnya" perintah nathan dan ara langsung menatap ke arah langit yang banyak sekali bintang.
"Kenapa?" tanya ara sambil mengalihkan pandangnya kepada nathan yang membuat nathan menghadap ke arah ara. Nathan tersenyum dan kembali menatap bintang bintang di langit.
"Maksudnya?" tanya ara yang tidak mengerti akan apa yang di katakan nathan. Nathan menghadap ke arahnya dan memegang tangan ara sambil meletakkan tangan ara di dada ara.
"Dewa selalu di hati kamu....Dia selalu ada kok sama kamu" ucap nathan sambil menatap lekat wajah ara sambil melebarkan senyumnya.
Arapun ikut menatap nathan dengan tatapan penuh arti. Dia ingin bahagia karna masih ada yang bisa menyemangatinya tapi satu sisi hatinya juga sedih saat nathan menyebut nama dewa. Ara berusaha menahan tangisnya sedari tadi di hadapan nathan dan tanpa dia sadari air matanya terjatuh sendiri saat dia menatap lekat nathan yang sedang tersenyum kepadanya.
Ara sesegera mungkin melepaskan tangannya dari dadanya begitupun dengan nathan. Ara menghapus air matanya yang sempat tumpah di depan nathan menggunakan tangannya.
"Kamu gak usah sedih.....waktu kamu masih panjang....kamu gak boleh terus terusan sedih kayak gini, Dengan kamu yang kayak gini bisa ngebuat Dewa sedih dan kamu nanti juga bakal kehilangan banyak hal dengan kamu terus sedih, Gak usah sedih lagi ya" ucap nathan tanpa menatap ke arah ara.
Ara menatap lekat nathan yang tidak menatapnya dia sedikit merasa ada kemiripan antara dewa karna dulu dewa juga pernah mengatakan hal yang sama seperti nathan yaitu dewa selalu di hatinya. Ara tidak menjawab perkataan nathan dia masih menatap lekat wajah nathan dari samping.
"Kenapa kata katanya sama kayak kata kata kak dewa" guman ara.
"Yaudah aku pulang dulu....kalo aku gak sibuk aku bakal sering sering kesini" ucap nathan sambil berdiri dan diikuti oleh ara yang tidak menjawab perkataan apa apa.
Nathan berjalan menuju mobilnya yang letaknya tidak terlalu jauh dari duduknya dan juga ara.
"Hati hati" teriak ara yang melihat nathan ingin masuk ke dalam mobilnya. Nathan melebarkan senyumnya dan melihat ke arah ara.
Nathan langsung masuk ke dalam mobilnya dan langsung meninggalkan panti itu. Sedangkan ara masih menatap mobil nathan yang sudah menghilang dari daerah panti.
__ADS_1
"Ra" panggil barqi yang sedari tadi menatap ara dan nathan dari dekat pintu panti.
"Hmm" jawab ara dan langsung menoleh ke arah barqi. Barqi langsung menghampiri ara.
"Ngapain?" tanya barqi kepada ara.
"Gak ada" jawab ara singkat.
"Dia pacar lo?" tanya barqi kepada ara.
"Siapa?" tanya ara bingung.
"Nathan" jawab barqi karna memang ingatannya memang sangat bagus.
"Dih papaan sih bilang nathan pacar gw" ketus ara karna memang dia tidak menyukai nathan dan yang lebih tepatnya lagi dia belum menyukai nathan.
"Tapi lo nurut banget kayaknya sama dia" ucap barqi lagi. Ara bingung akan apa yang di katakan oleh Barqi.
"Mana mungkin gw nurut ama dia....dah ah gw mau istirahat" bantah ara dan langsung meninggalkan Barqi yang masih mematung di depan panti.
Ara menghentikan langkahnya saat dia ingat jika panti memerlukan satpam karna memang panti itu tidak memiliki satpam dari dulu. "Qi" panggil ara yang membuat Barqi menoleh ke arahnya.
"Kenapa?" tanya barqi.
"Lo mau kerja?" tanya ara kepada Barqi.
"Ya maulah" jawab barqi dengan nada meninggi.
"Jangan teriak gw gak budek" jawab ara ketus.
"Lo sih nanya hal yang udah tau jawabannya" ketus barqi.
"Lo mau gak jadi satpam disini?" tanya ara tanpa menjawab perkataan Barqi yang tadi.
"Ya mau lah" jawab barqi.
"Tapi gw gak bisa bayar kalian lebih dari 2jt" ucap ara.
"2jt itu udah banyak buat gw" jawab barqi.
"Beneran ini qi...gw sriusan" ucap ara memastikan.
"Mau lo gak bayar pun gw juga mau jagain panti" jawab barqi kepada ara.
"Ntar gak gw bayar beneran baru tau rasa lo.....udah ah gw capek" ucap ara dan berlalu pergi naik ke kamar atas yang telah di tetapkan sebagai kamarnya.
__ADS_1