
Terlihat Nathan dengan wajah murung nya masuk ke dalam ruangan itu. "kakak dari mana aja?" ketus Andita karna masih emosi saat mendengar jika Nathan membentak Ara.
Nathan tidak menjawab perkataan Andita. "Apa aku harus nyerein kamu?" guman Nathan menatap lekat sang istri tanpa sadar wajah sembab istrinya itu.
"Emmmmm" Ara menggeliat dan langsung membuka matanya. Matanya pertama kali tertuju kepada Nathan yang sedang menatapnya.
"Kenapa ngeliatin aku gitu?" ketus Ara dan berusaha untuk duduk tapi sedikit kesusahan akibat badannya sedikit kaku. Nathan tidak membantunya dan itu membuat Ara heran.
"Kalian bisa keluar bentar?" tanya Nathan menatap Vino dan yang lainnya. Vino langsung mengajak semua orang di dalam sana keluar dan tinggallah Nathan dan Ara di dalam ruangan itu.
Nathan menatap sang istri yang juga menatap ke arahnya dengan tatapan bingung. "Huh" Nathan menarik nafasnya.
"Apa kita lebih baik pisah?" tanya Nathan kepada Ara. mata Ara membulat sempurna mendengar itu dan dia juga sedikit tidak mengerti.
"Ma...maksud kamu?" tanya Ara bingung dengan air mata yang ia tahan.
"Kalo emang kamu gak cinta sama aku lebih baik kita cerai aja" jawab Nathan menahan sesak di dadanya. Sakit sekali hatinya saat mengucapkan kata kata itu.
Ara belum menjawab dan masih mencerna perkataan sang suami yang menginginkan bercerai padahal dia sudah mencintai sang suami. "Gimana sama bunda?" tanya Ara menahan sesak di hatinya saat mendengar perkataan sang suami itu.
"Masalah bunda biar aku yang coba ngomong sama bunda....kalo kamu emang mau pisah" jawab Nathan. Ara hanya diam dan tak menjawab lagi perkataan sang suami. Dia menyenderkan tubuhnya di ranjang rumah sakit itu.
"Aku permisi" ucap Nathan yang juga menahan sesak di hatinya itu. Ara tidak menjawabnya dan menatap sang suami yang tengah berlalu.
Sakit,,,sedih,,,sesak semuanya jadi satu di hati Ara begitupun dengan Nathan. Nathan berbicara seperti itu karna dia mengira bahwa Ara belum mencintainya dan masih mencintai Dewa.
__ADS_1
Ara menengadah sambil menyender. "Ra" panggil Andita yang baru saja masuk.
"Keluar" ucap Ara tanpa menoleh ke arah mereka sambil memejamkan matanya dan tanpa sadar air katanya mengalir dan terlihat oleh Andita dan yang lain.
"Lo kenapa nangis? ada masalah sama kak Nathan?" tanya Andita.
"Keluar" ucap Ara datar dan menghapus air matanya tanpa menatap semua orang disana.
"Ra lo gak boleh gini....lo kalo ada masalah cerita sama kita" ucap Erina dan mencoba mendekati Ara dan Vino selalu menjaga sang istri.
"Kalian gak denger kata gue?" ketus Ara dengan air mata yang menetes deras di wajahnya sungguh hancur sekali hatinya saat mengingat Nathan yang minta cerai padahal dia sudah mencintai Nathan.
"Gue bilang keluar" bentak Ara dan langsung membanting apa yang ada di dekatnya.
Pranggg
"Keluar hikssssss....hikssss" ucap Ara dan langsung menyenderkan tubuhnya di ranjang itu dengan air mata yang tiada hentinya mengalir.
Andita mencoba mendekati Ara dengan perlahan dan mendudukkan tubuhnya tepat di depan Ara. "Lo ada masalah apa ra?" tanya Andita lembut. Ara menatap ke arah Andita dengan air mata yang terus terusan mengalir dengan deras.
"Hiksssss....hikssss" Ara langsung menangis dengan suara tinggi dan memeluk Andita. Andita membalas pelukannya dan mengusap lembut kepala Ara.
"Jangan nangis lagi....coba cerita sama kita kenapa?" tanya Andita lagi.
"Nathan mau cerai dari gue Hikssss.....Hikssss" jawab Ara dengan air mata yang mengalir deras di wajahnya.
__ADS_1
Hatinya sakit,,, hatinya hancur saat ini. Semua orang yang mendengar jawaban dari Ara tersentak kaget mendengarnya apa lagi Vino yang sangat tau jika Nathan mencintai Ara.
"Kenapa dia mau cerai sama lo?" tanya Andita yang ikut merasakan kesedihan Ara.
"Mungkin dia emang gak cinta sama gue dan cuma gue yang terlalu berharap sama dia" jawab Ara dengan isakan yang semakin menjadi jadi.
"Baru aja dia selesai nangis udah di buat nangis lagi" guman Vino menatap iba terhadap Ara.
"Gue mau pulang" ucap Ara yang berusaha menghentikan tangisnya dan melepaskan pelukannya dari Andita.
Andita menatap lekat ke arah sahabatnya yang sangat susah untuk jatuh cinta itu. Nampak wajah yang sembab hidung yang memerah akibat menangis. "Yaudah kita pulang" jawab Andita dengan senyum yang mengembang karna dia tidak mau menambah kesedihan sahabatnya itu.
"Gue mau tinggal di apartemen lama" jawab Ara. Andita mengangguk mengiyakannya dengan senyum yang mengembang.
Ara bersiap siap untuk pulang di bantu oleh Erina dan Andita sedangkan Vino sudah terlebih dahulu menuju ke parkir.
Setelah selesai. Ara,Erina dan Andita langsung menuju ke parkir. Ara dan Andita duduk di kursi belakang dan Erina dan Vino duduk di depan dengan Vino yang menyetir mobil itu.
Di dalam mobil itu hanya keheningan. Vino, Erina dan juga Andita hanya menatap Ara yang menatap jalanan yang mereka tempuh. dan akhirnya merekapun sampai di apartemen mereka.
Mereka memasuki lift dan lift itu membawa mereka ke lantai apartemen yang mereka tempati.
Ting
Lift itu berhenti. semua orang yang bertujuan ke lantai tersebut langsung turun. Ara dan yang lainnya menuju ke apartemen masing masing. "Sayang aku mohon maafin aku.....aku mau kita lanjutin hubungan kita" ucap Feli. Ara yng tadinya menundukkan pandang menatap ke arah Feli dan juga Nathan yang menatapnya. Ara langsung berlalu meninggalkan mereka dan masuk ke dalam apartemen miliknya tanpa memperdulikan orang lain dan Nathan yang sedari tadi menatapnya.
__ADS_1
Vino dan Erina yang beru saja ingin masuk itu sedari tadi menatap Nathan dan Ara yang hanya saling pandang tapi tidak saling sapa.