
Sesampai di ruangan meating Nathan sangat terkejut melihat kliennya itu karna kliennya itu tidak lah asing baginya begitupun dengan Vino.
"Papi ara?" guman Nathan. Klien Nathan adalah Teo wijaya yang selalu dia temui saat menyakiti Ara.
"Selamat siang pak" sapa Vino karna Nathan hanya diam tak bergeming menatap Teo.
"Siang" ucap Teo dan berjabat tangan dengan Vino. Vino membalas jabatan tangan Teo. Teo ingin bersalaman dengan Nathan tapi Nathan masih melamun.
"Nat" panggil Vino sambil menyenggol sedikit bahunya. Nathan pun tersadar dari lamunannya dan menerima tangan Teo mereka berduapun bersalaman begitupun dengan Viona.
Setelah selesai bersalaman Nathan langsung berdiri di depan banyak orang di dalam ruangan meating. Dia memperkenalkan diri terlebih dahulu sebelum menjelaskan kerja sama apa yang akan mereka jalin nantinya.
Seteah selesai memperkenalkan diri Nathan menjelaskan kerja sama apa yang akan mereka kerjakan bersama dengan wijaya grup dia menjelaskan dengan seditle ditle nya tanpa ada yang terlewatkan.
"Sekian terima kasih" ucap Nathan yang sudah selesai melakukan presentasi di depan wijaya grup.
Semua orang di dalam ruangan itu bertepuk tangan bangga keada Nathan karna dia menjelaskannya sangat teliti dan juga jelas. Setelah itu Teo ingin berpamitan pulang kepada Nathan karna sudah selesai dan masalah kontrak kerja sama mereka akan di atur pertemua lain waktu.
Nathan Vino dan juga Viona tidak mengantarkan Teo sampai kebawah. Mereka berpisah di depan ruangan meating itu. Setelah Teo pergi dan Nathan juga tidak melihatnya lagi Nathan langsung masuk ke dalam ruangannya dan langsung mendudukkan tubuhnya di kursi sofa di ruangannya itu.
Nathan memijat mijat dahinya menggunakan jari jari tangan kanannya. Vino baru saja masuk melihat Nathan sedang memijat mijat kepalanya sedikit heran karna menurutnya pekerjaan mereka tadi tidak terlalu rumit.
"Nat" panggil Vino.
"Hmm" jawab Nathan yang masih memijat kepalanya dengan mata tertutup.
"Kenapa?" tanya Vino. Nathan tidak menjawab perkataan Vino.
"Eh kalo orang nanya tuh di jawab" bentak Vino.
"Gini...." ucapan Nathan terpotong oleh suara deringan ponsel miliknya yang menandakan bahwa ada yang menelpon.
"Bunda?" guman Nathan bingung dan langsung mengangkat telpon dari ibu nya itu.
"Halo kenapa bunda?" tanya Nathan.
"Kamu udah selesai kerja?" tanya Nita di sembarang telpon.
"Baru aja selesai bun" jawab Nathan malas.
"Yaudah langsung pulang aja" perintah Nita yang membuat Nathan bingung.
"Kenapa emangnya?" tanya Nathan.
"Kamu ada janji sama bunda" jawab Nita. Nathan bingung akan perkataan ibunya itu karna setaunya dia tidak mempunyai janji apa apa kepada ibunya.
"Janji apa bun?" tanya Nathan.
__ADS_1
"Makanya pulang" ketus Nita dan langsung mematikan ponsel sebelah pihak. Nathan kaget karna belum pernah ibunya mematikan ponsel sebelah pihak jika menelponnya.
"Kenapa?" tanya Vino yang melihat wajah Nathan sedikit aneh.
"Ini bunda nyuruh gue pulang katanya gue ada janji sama dia" jelas Nathan.
"Janji apa?" tanya Vino. Nathan hanya mengangkat kedua bahunya menandakan dia tidak mengetahui itu.
"Yaudah ayo kita pulang aja" ajak Nathan kepada Vino. Vino hanya mengikuti Nathan dari belakang.
Sesampainya di lobi kantor dia sudah di tunggu oleh sopir pribadinya krna dia tadi sudah mengirimi pak Abi pesan singkat yang mengatakan bahwa dirinya akan pulang ke rumah.
Nathan dan juga Vino langsung masuk ke dalam mobil itu begitupun dengan pak Abi. pak Abi melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju ke kediaman pernandess.
****
"Lo beneran gak mau ikut ra?" tanya Erina karna mereka sudah ingin pulang karna hari juga sudah mulai sore.
"Enggak" jawab Ara.
"Yaudah kita pulang....jaga diri baik baik baik" ucap Andita dan langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Ara hanya melambaikan tangan kepada mobil Vino dan kembali ke kamarnya.
Ara sudah sampai di kamarnya dia langsung menggantikan sendal nya dengan sneakers dan mengambil tas miliknya dan langsung keluar lagi untuk pergi ke rumah pamannya.
"Mau kemana nak?" tanya Fatimah saat melihat Ara yang sudah rapi.
"Mau kemana lagi lo?" tanya Barqi kepada Ara.
"Gue mau kerumah paman gue" jawab Ara sambil melebarkan senyumnya.
"Punya paman?" tanya Barqi karna memang dia tidak tau jika Ara mempunyai paman. Ara hanya mengangguk mengiyakan perkataan Barqi.
"Mau di anter?" tanya Barqi.
"Gausah gue mau jalan....titip panti" teriak Ara saat sudah lumayan jauh dari panti.
Ara berjalan kegirangan dengan sedikit meloncat loncat seperti anak kecil. Dia kadang juga bernyanyi dalam perjalanan.
"Berenti pak" perintah Nathan kepada pak Abi. pak Abi langsung menghentikan mobil itu. Nathan menatap lekat ke arah sebrang. Dia menatap ara yang sedang berjalan sambil meloncat loncat seperti anak kecil.
"Dia kayak gak punya masalah hidup aja" guman Nathan dengan senyum yang mengembang di wajahnya. Vino sadar akan itu dia juga ikut menatap Ara.
Nathan langsung turun dari mobilnya dan langsung menghampiri Ara sedangkan Vino dan pak Abi hanya melihat apa yang di lakukan oleh Nathan.
"Hey" panggil Nathan saat sudah berada di samping Ara.
"Hah" ucap Ara sedikit kaget.
__ADS_1
"Kenapa?" tanya Nathan.
"Lo yang kenapa tiba tiba nongol disini" kwtus Ara.
"Maap" jawab Nathan. Ara tida menjawab perkataan Nathan.
"Kamu mau kemana?" tanya Nathan.
"Kerumah paman" jawab Ara.
"Mau di anterin?" tanya Nathan.
"Gak usah...jalan lebih sehat" jawab Ara.
"Jalan lebih sehat atau jalan lebih hemat?" ledek Nathan yang membuat Ara menoleh ke arahnya.
"Kedua dua nya" ketus Ara. Nathan hanya terkekeh karna tebakannya itu benar.
"Lo ngapain kesini?" tanya Ara.
"Gak sengaja liat kamu makanya aku berenti" jawab Nathan.
"Ohh" jawab Ara datar.
"Ayo biar aku antar" ucap Nathan.
"Gak usah" ucap Ara.
Cting..
Suara notifikasi dari ponsel Ara yang membuatnya harus membuka ponselnya itu. Mata Ara membulat sempurna karna masuk endors dari salah satu produk yang lumayan terkenal dan lumayan mahal. Nathan menatap bingung ke arah ara.
"Kenapa?" tanya Nathan.
"Gue punya duit" jawab Ara kegirangan.
Nathan ikut bahagia melihat Ara bahagia. Orang yang mengendors Ara sudah mentransfer uang ke rekening Ara sebesar 1M dan itu membuatnya kembali kegirangan.
Setelah menerima uang yang di transfer Ara langsung mengirim alamat nya kepada orang itu. "Yaudah ayo aku antar" ucap Nathan lagi.
"Gak usah nat" jawab Ara lembut.
"Kenapa?" tanya Nathan lagi.
"Gue mau jalan kaki" jawab Ara.
Nathan tidak bisa memaksa Ara untuk mengikutinya. Diapun lengsung berpamitan kepada Ara dan langsung menuju ke mobilnya.
__ADS_1
Ara masih sngat kegirangan karna uang yang ia dapat itu lumayan besar jumlahnya. Dia kembali melanjutkan perjalanannya sampai akhirnya dia sampai dirumah kakeknya yang di tempati oleh pamannya.