
Nathan terlihat murung saat dia tak menemui pujaan hatinya itu di sekolah itu. Saat mereka ingin berjalan menuju ke tempat acara mobil lewat di depan mereka dan itu hampir saja menabrak Nathan dan juga Vino.
"Gue kayak gak asing sama nih mobil" ucap Vino melihat siapa yang keluar dari mobil itu.
Erina dan Andita un langsung keluar dari mobil itu. "Kan bener" jawab Vino sambil melebarkan senyumannya menatap Erina.
"Kenapa senyum senyum?" ketus Erina karna dia sadar jika Vino tersenyum melihatnya.
"Udah ayo kita ke tempat acara aja" ajak Andita sambil menarik tangan Erina. Erina hanya mengikuti temannya itu dan langsung duduk di tempat yang sudah di sediakan sambil menunggu kedua orang tua mereka yang akan datang.
Nathan dan Vino langsung berjalan menuju tempat yang sudah di sediakan husus untuk orang orang penting dan di sana juga nampak David dan Dania karna memang mereka selalu datang kesana saat Ara menjadi kekasih Dewa.
Mereka berdua juga membawa Rini dan juga Roni. "Bicik pakcik" ucap Nathan dan langsung menyalami kedua orang tua Dewa itu.
"Kamu juga dateng?" tanya David kepada Nathan. Nathan hanya mengangguk mengiyakannya.
"Roni?" ucap Nathan heran.
"Kakak" sapa balik Roni.
"Kalian udah saling kenal?" tanya Dania heran.
"Ini Rini kan bi?" tanya Nathan menatap Rini. Dania hanya mengangguk mengiyakannya.
"Kamu kenal sama mereka?" tanya David.
"Iya Nathan kenal" jawab Nathan dan mengambil Rini dari pelukan Dania dan setelah itu dia langsung memeluk Rini.
"Wah liat tuh pak ganteng gendong bayi kayak hot dady dia ya" ucap salah satu murid karna sudah lumayan banyak orang di sana dan murid perempuan yang mengaguminya tambah mengaguminya saat melihatnya menggendong Rini.
Nathan di puji oleh banyaknya murid perempuan itu berbagai macam pujian yang mereka berikan kepada Nathan.
__ADS_1
"Kenal dimana?" tanya David.
"Waktu itu Nathan sama Ara yang bawa mereka ke panti" jawab Nathan sambil menggendong Rini dan melihat kecantikan anak itu dan itu membuatnya semakin teringat akan Ara.
"Ooh kalian yang bawa mereka ke panti" ucap David.
"Oiya mereka kenapa sama kalian?" tanya Nathan heran.
"Mereka udah jadi anak bicik sama pakcik" jawab Dania.
"Gimana bisa bukannya Ara gak ngebolehin orang ngadopsi mereka?" tanya Nathan heran dan langsung mendudukkan tubuhnya di samping Dania sedangkan vino duduk di samping David sambil menatap Erina yang duduk di depannya.
"Awalnya Ara emang ngelarang tapi bicik sama pakcik ngeyakinin dia makanya dia mau" jelas Dania. Nathan hanya mengangguk mengiyakannya dan kembali mencium berkali kali wajah bakpau bayi yang sedang ia gendong itu.
Acara sudah di mulai dan semua orang juga sudah berkumpul banyak orang tua murid yang hadir tapi Nathan tidak melihat satupun orang yang mewakili Ara. "Telpon Ara" perintah Andita karna memang mereka sudah tau jika Ara berada di amerika dan mereka juga akan menyusul Ara saat sudah pengambilan nilai.
Erina langsung menghubungi nomor telpon Ara dan Ara langsung mengangkat telpon itu. Nampak wajah Ara di dalam layar ponsel itu dan sepertinya Ara sedang berada di balkon dan di amerika juga sedang malam jika di indonesia siang.
"Iya udah mulai" jawab Erina dan langsung mengalihkan ke kamera belakang. Ara menyaksikan semua yang di lakukan di sana melalui panggilan vidio dengan kedua sahabatnya itu.
Nathan tak sengaja melihat ke arah Erina dan juga Andita dan dia melihat jika mereka berdua sedang melakukan panggilan vidio dengan Ara.
"Bi biar Nathan duduk di tempat pak cik boleh?" tanya Nathan kepada Dania.
"Boleh" jawab Dania sambil melebarkan senyumannya. Nathanpun langsung berpindah duduk dan duduk di samping Roni. Dia menatap lekat wajah yang ada di layar ponsel milik Erina itu sedangkan Vino masih fokus ke acara itu.
"Silahkan pak David dan bu Adriana memberikan hadiah dan hasil nilai ini kepada semua murid" ucap pembawa acara itu karna memang sudah waktunya mengumumkan nilai. Pembawa acara itu tidak memanggil Nathan karna Nathan tidak mau naik ke atas panggung makanya menyuruh David dan Adriana yang memberikan nilai nilai itu.
"Jam berapa disana?" guman Nathan dan langsung mengecek ponsel miliknya untuk melihat jam berapa di amerika.
"Jam sepuluh malam dia belum juga tidur?" guman Nathan dan kembali menatap ke arah layar ponsel Erina.
__ADS_1
"Nilai tertinggi yang ketiga dalam ujian nasional dan mendapatkan biaya siswa jatuh kepada DEVANO PUTRA dengan nilai 76,85" teriak pembawa acara itu saat menyebut nama Devano siswa pria yang paling pintar.
Devano langsung naik ke atas panggung dan mengambil hadiahnya dan juga surat surat untuk ia tandatangani dan setelah itu dia di suruh menunggu di samping kiri pembawa acara.
"Nilai tertinggi yang kedua dan yang mendapatkan biaya siswa kedua adalah ANISA DEFRIANTI 82,10" ucap pembawa acara itu lagi. Nathan nampak sangat senang melihat wajah yang terlihat tersenyum di balik layar ponsel itu.
Nisa melakukan hal yang sama dengan Devano.
"Dan inilah yang kita tunggu tunggu murid dengan nilai tertinggi di ujian ini dan menadapat biaya siswa terakhir adalah.....ARA RIYANTI WIJAYA 93,55" teriak pembawa acara itu lagi.
Ara nampak sangat senang dan tertawa lepas saat namanya di sebit beserta nilainya sampai sampai dia meloncat kegirangan. Nathan ikut tersenyum saat melihat itu. Vino sadar jikan Nathan tersenyum menghadap ke Erina pun langsung ikut menoleh ke arah Erina.
"Pantesan" guman Vino.
"Sekali lagi saya panggil siswi yang bernama Ara riyanti" ucap pembawa acara itu yang membuat senyum Ara yang tadinya mengembang langsung memudar. Nathan langsung melihat ke depan dan benar saja tidak ada ornag yang mewakili Ara.
"Gak ada ya yang ngewakilin gue?" tanya Ara dengan mata yang sudah berair. Nathan sangat tak tega dan sangat tak suka melihat air mata yang jatuh di pipi wanita yang ia sayangi itu.
"Pasti ada kok" jawab Erina.
"Gak ada yang sayang sama gue cuma kak Dewa yang bisa ngertiin gue" ucap Ara sambil terisak tangis.
"Udah jangan nangis lagi pasti ada kok yang ngewakilin lo" ucap Erina yang mencoba membujuk Ara. Ara sangat sedih dan sakit hati karna tidak ada satupun orang yang mewakilinya untuk mengambilkan nilainya padahal nilainya yang paling tinggi.
"Hikkkssss... hikssss" tangis Ara semakin jelas di telinga Nathan.
"Udah jangan nangis lagi kita bangga sama lo soalnya lo bisa dapet nilai yang tertinggi" ucap Andita yang mencoba membujuk Ara.
Ara termenung dan menatap layar ponselnya itu karna ada ornag yang naik ke atas panggung itu untuk menggantikannya.
"Siapa itu?" tanya Ara karna memang Erina tidak mengalihkan kamera itu ke belakang kembali.
__ADS_1