
Ara tadi sudah memesankan ruangan VVIP untuk mereka dan Ara mengajak semua orang yang ia bawa kedalam sana. "Gimana?" tanya Ara dengan senyum yang mengembang saat masuk ke dalam ruangan VVIP untuknya dan yang lainnya makan malam bersama.
"Biasa aja" jawab Andita santai dan langsung duduk di kursi yang ada di dalam ruangan itu. Semua orang pun langsung ikut mendudukkan tubuh mereka di atas kursi dalam ruangan itu.
Nampak ada beberapa pelayan yang datang dengan membawakan makanan dan pelayan pelayan itu meletakkan makanan makanan itu di atas meja dan setelah itu mereka berlalu pergi keluar dari tempat itu.
"Wah enak ini" ucap Azlan.
"Lo gak pernah makan ini?" ejek Ara.
"Enak aja lo resto ini gue beli kalo gue mau" ketus Azlan.
"Masa" jawab Ara dengan wajah has orang mengejek Azlan. Azlan tidak menjawab karna dia tau Ara yang tidak mau mengalah dan dia mengetahui itu dari Nathan.
Mereka semua menyantap makanan itu dengan lahap dan di meja itu kadang ramai dan kadang hening. "Ra" panggil Andita yang melihat Ara makan lahap dan nampak bahagia.
"Hhhmmmm" jawab Ara menatap ke arah Andita dengan mulut penuhnya.
"Gue besok mau pulang sama mama sama papa" ucap Andita.
"Ngapain pulang?" tanya Ara dan kembali melahap makanan miliknya.
"Emmm...." ucap Andita sedikit ragu karna menurutnya dan Erina meminta izin dengan Ara lebih susah dari pada meminta izin dengan kedua orang tuanya.
"Kenapa lo gitu?" tanya Ara heran dan kembali melahap makanannya. Nathan hanya menatapnya karna dia sudah tau karna Azlan sudah memberitau kepadanya masalah pernikahannya dan juga Andita.
"Gue pulang mau nikah sama kak Azlan" jawab Andita.
__ADS_1
"Uhukkk....uhukkk" Ara terbatuk kaget mendengar penyataan dari sahabatnya itu. Nathan dengan segera mengambil air untuk sang istri.
"Hati hati" ucap Nathan dan membimbing sang istri untuk minum. Ara menerima minum itu dan setelah itu dia menatap lekat wajah Andita dan Azlan.
"Langsung nikah?" tanya Ara menatap kedua orang itu secara bergantian tapi di antara mereka tidak ada yang menjawab pertanyaannnya.
"Kalian pasti punya hubungan dulu kan?" tanya Ara menatap tajam Andita dan Azlan sedangkan kedua orang tua Andita hanya melihat apa yang di lakukan oleh Ara.
"Iya" jawab Azlan santai sedangkan Andita masih menundukkan kepalanya.
"Kenapa gue gak tau?" tanya Ara menatap Andita dan Azlan secara bergantian dengan tatapan tajamnya.
"Jawab gue...kalian kenapa selalu aja nyembunyiin hal penting gini dari gue" bentak Ara karna dia merasa sahabat sahabatnya itu sudah tidak mempercayainya lagi karna tidak memberitahu ataupun cerita dengannya di mulai dari Erina yang menikah dengan Vino mendadak dan sekarang Andita yang seperti itu. Andita belum juga menjawab karna dia tau Ara akan memarahinya dan kedua orang tua Andita sudah mengetahui betul Ara yang selalu mudah emosi itu.
"Huh" Ara mendengus panjang dan mencoba meredakan emosinya karna itu adalah ajaran Nathan yang memintanya untuk tidak mudah terbawa emosi.
"Ra" panggil Andita. Ara tidak menghentikan langkahnya dan langsung keluar. Sedih,,,,kecewa,,,sakit bercampur aduk di hatinya sekarang karna sang sahabat tidak mau memceritakan apapun kepadanya dan menyembunyikan masalah hubungan dengannya karna dia merasa Andita sudah tidak mempercayainya dan tidak menganggapnya lagi sebagai saudara.
"Om...tante Nathan pamit nyusul Ara" ucap Nathan dan bersalam kepada kedua orang tua Andita.
"Hati hati nak" ucap Liza. Nathan tidak menjawabnya dan langsung berlalu menyusul sang istri.
"Kan Ara marah" ucap Andita sedih.
"Kamu kenapa emangnya gak bilang sama dia?" tanya Erlan.
"Bukannya gak mau pa.....Andita cuma..." ucap Andita yang tidak mengetahui apa alasan dia tidak memberitahu Ara.
__ADS_1
"Cuma apa nak?" tanya Erlan.
"Cuma..." jawab Andita gagu.
"Cuma mau nyembunyiinya dari Ara?" tanya Liza karna dia juga pernah di posisi Ara dan itu menyakiti hatinya. Andita tidak menjawab dan hanya menundukkan kepalanya.
"Nak....Ara itu sayang sama kamu makanya dia bisa marah gitu....kenapa emangnya kamu nyembunyiinnya sama dia?" ucap Erlan.
"Maafin Andita pa" ucap Andita merasa bersalah telah menyembunyikan masalah hubungannya dengan Azlan kepada Ara.
"Gapapa lain kali jangan ngulanginnya lagi.....Ara aja selalu terbuka sama kalian masa kalian enggak" ucap Erlan. Andita hanya mengangguk mengiyakannya.
****
Ara berjalan lemah karna hatinya masih sakit karna sang sahabat sudah tidak mempercayainya lagi. "Kenapa mereka nyembunyiinnya sama gue?" ucap Ara.
Hujan langsung turun. Ara langsung berteduh di depan toko klontong yang sudah tertutup. Sedangkan Nathan dia sedari tadi mencari sang istri. "Dimana dia?" guman Nathan yang sedikit kesusahan melihat jalanan akibat hujan.
Ara kedinginan di depan toko itu. "Dingin banget lagi" ucap Ara.
"Mama sama papa apa kabar?" ucap Ara dengan senyum yang mengembang.
"Itu bukannya dia?" guman Nathan menatap seorang wanita yang sedang berjongkok dengan menengadah tangan seperti menangkap air hujan.
"Astaga gue lupa...bukannya Nathan tadi ikut makan malam dan disana ada mama sama papa" ucap Ara baru tersadar karna jika dia sudah emosi dan marah dia pasti tidak mengingat tempat dan waktu.
Sebuah mobil terparkir tepat di depan Ara dan keluarlah sang suami dengan membawakan payung. Ara tidak berdiri dan masih berjongkok dan menatap sang suami yang telah berada tepat di sampingnya.
__ADS_1
"Kau kenapa mudah banget emosi?" tanya Nathan yang ikut berjongkok di samping sang istri dan menatap lekat wajah yang tertutup rambut itu.