
"Gw kan mau ke taman rumah sakit bukan kemana mana" ucap ara dan langsung berdiri dan berjalan ke arah Erina dan Andita dengan membawa boneknya. Ara meletakkan boneknya ke atas ranjangnya setelah itu ara melihat ke arah kedua sahabatnya tersebut dan ingin mengajak Andita dan Erin untuk keluar.
"Ayo" ajak ara kepada Erina dan juga Andita.
"Tunggu bentar" ucap Andita dan ingin berlalu pergi tapi di tahan oleh ara.
"Mau kemana?" tanya ara kepada Andita.
"Mau ngambil kursi roda" jawab Andita.
"Buat apa?" tanya ara lagi.
"Buat lo lah.....gak mungkin buat gw" jawab Andita sedikit kesal karna ara sedari tadi bertanya tanpa henti.
"Yang patah tuh tangan gw bukan kaki gw bego" jawab ara ketus kepada Andita.
"Kan kalo pasien harus pake kursi roda" ucap Andita lagi.
"Udah gak usah jalan aja" ucap ara.
"Yaudah ayo" ajak Erina kepada Andita dan juga ara.
Nita dan bi nur baru saja selesai membereskan bekas makanan mereka. bi nur dan nita yang melihat ara Andita dan juga Erina ingin meninggalkan ruangan tersebut langsung memanggil.
"Ara, Andita, Erina kalian mau kemana?" tanya nita kepada mereka bertiga. Mereka bertiga langsung menoleh ke arah nita dan bi nur.
"Iya non mau kemana?" tanya bi nur lagi karna tadi pertanyaan nita belum di jawab oleh mereka bertiga.
"Kita mau ke luar bun..bi" jawab ara.
"Keluar kemana?" tanya nita lagi.
__ADS_1
"Mau jalan jalan aja di taman bun" jawab Andita sambil melebarkan senyumannya.
"Iya bun...bi kita mau keluar sebentar" jawab ara sambil melebarkan senyumannya.
"Yaudah jangan lama lama ya non" ucap bi nur.
"Siap" jawab ara sambil memberi hormat kepada bi nur tapi menggunakan tangan kiri sambil melebarkan senyumannya. Bi nur dan nita pun menanggapinya dengan tawa.
Ara Erina dan juga Andita berjalan menuju ke taman rumah sakit tersebut. setibanya di taman mereka langsung duduk di kursi taman yang terletak di bawah pohon yang teduh dan terlihat sejuk karna terlindung oleh matahari sore.
Mereka duduk dengan posisi ara di tengah Erina di samping kanan ara dan elin di samping kiri ara. Ara menyenderkan tubuhnya di kursi taman yang terbuat dari besi tersebut dengan memejamkan matanya. Sedangkan Erina dan memainkan ponselnya.
Seketika air mata ara terjatuh sendiri tapi Andita dan Erina belum menyadari itu. Ara mendengus panjang dan mengusap air mata yang terjatuh dengan sendirinya. "Huhhhh" dengusan ara terdengar oleh Erina dan Andita. mereka yang tahu jika ara mendengus panjang pasti ara sedang sedih langsung melihat ke arah ara yang mengusap air mata yang tersisa di pipinya. Erina dan Andita saling menatap karna mereka berdua ragu harus menanyakannya atau tidak.
"Ra" panggil Erina yang memberanikan diri untuk menanyakan masalah ara.
"Hemmm" Jawab ara tapi pandangannya ke sembarang arah.
"Lo kenapa?" tanya Erina lagi sedangkan Andita hanya menatap kedua sahabatnya tersebut. Ara tidak menjawab pertanyaan Erina.
"Ara" panggil Erina lagi dengan nada lembut.
Hikkkkssss......Hikssss...
Ara seketika langsung menangis karna dia mengingat apa yang di alami olehnya tadi. Erina dan Andita menatap bingung karna mereka berdua tidak tahu ingin berkata apa dan memberi nasehat apa karna mereka berdua juga belum tau apa penyebab ara menangis.
"Ra....lo kalo ada masalah cerita sama kita" ucap Erina sambil memeluk ara.
"Lo cerita aja sama kita.....kalo kita bisa bantu ya kita bantu" ucap Erina lagi.
"Gw kecewa sama mami" ucap ara sambil menangis di pelukan Andita sedangkan Erina tidak memeluknya karna dia takut pelukannya menyakiti tangan ara.
__ADS_1
"Kenapa emangnya mami?" tanya Andita.
"Mami tadi bilang sama gw......kalo gw mau di jodohin" ucap ara terhenti akibat isakannya. "Kan gw baru aja kehilangan kak dewa orang yang gw sayang.....trus mereka enak banget dateng dateng langsung ngomongin perjodohan" sambungnya yang masih terisak di pelukan Andita dan membuat baju yang Andita kenakan sedikit basah akibat air matanya.
"Emang mami mau jodohin lo sama siapa?" tanya Andita. belum ara menjawab pertanyaan Andita tiba tiba ada orang yang menyapa mereka.
"Hay" panggil arfel sambil melebarkan senyumannya. ara yang mendengar suara arfel dengan cepat dia menghapus bekas air mata di pipinya tersebut. arfel adalah teman ara sekaligus tetangga ara. arfel dan ara satu komplek makanya mereka berteman dekat. dan arfel memiliki perasaan terhadap ara tapi ara tidak mengetahui itu. arfel juga berteman dengan Andita dan juga Erina karna arfel bersekolah di sekolah yang sama dengan mereka.
Arfel pribadi yang baik dan suka menolong orang. dia juga tampan dan banyak anak anak perempuan di sekolah mereka yang suka kepadanya tapi dia hanya menyukai ara yabg mungkin tidak pernah menyukainya. Arfel juga memiliki 2 teman sama seperti ara tapi kedua temannya tersebut tidak ikut untuk menjenguk ara.
"Arfel" sapa Andita dan Erina bersamaan tapi tidak dengan ara yang masih menghapus bekas air matanya.
"Kalian ngapain di sini?" tanya arfel
"Kita cuma nyari angin aja kok" jawab Erina dengan senyuman. Arfel yang sedari tadi melihat ara yang masih menundukkan kepala sambil mengusap usap matanya langsung menyapa ara.
"Ra" panggil arfel.
"hemmm" jawab ara yang langsung mengangkat kepalanya dan tersenyum melihat arfel.
"Lo abis nangis?" tanya arfel kepada ara karna dia melihat mata ara sedikit bengkak dan hidungnya merah.
"Ha...eng.....enggak kok....gw gak nangis" jawab ara terbata bata karna dia tidak ingin jika ada satu orang pun yang mengetahui jika dia menangis.
"Tapi kok mata lo bengkak sama hidung lo merah" ucapa arfel sambil menatap lekat wajah ara.
"Enggak" jawab ara sedikit membentak tapi tidak membuat arfel tersinggung. Erina dan Andita yang mengetahui jika ara tidak mau ada orang yang mengetahui jika dia menangis pun langsung mengalihkan topik pembicaraan.
"Apa tuh fel?" tanya Andita sambil melirik ke paper bag yang di bawa oleh arfel.
"Ooh iya....ini kue....mama yang bikin buat kalian" ucap arfel sambil menyodorkan paper bag yang berisi kue tersebut kepada Andita.
__ADS_1
Andita ara dan Erina memang dekat dengan keluarga arfel karna mereka sering main ke rumah arfel karna di suruh oleh ornag tua arfel. kerna menurut orang tua arfel ara Andita dan juga Erina adalah anaknya sendiri. orang tua merek ajuga berteman dekat sama seperti mereka.
"Makasih" ucap Andita dan menerima paper bag yang di ulurkan oleh arfel.