
Ara terlebih dahulu masuk ke dalam kamar dengan menghentakkan kakinya karna marah kepada Nathan yang tidak ada niat sedikit pun untuk menjelaskan sesuatu kepadanya.
Nathan tidak memperdulikan itu dan memilih untuk masuk ke dalam kamarnya dan merebahkan tubuhnya tanpa mengeluarkan kata kata apapun.
"Apa di hati kamu gak ada aku sedikit aja?" guman Nathan dalam kamarnya sambil menatap langit langit kamarnya itu dan akhirnya diapun langsung tertidur.
Di dalam kamar Ara dia sedang duduk di balkon dan ingin mengintip Nathan tapi tidak bisa karna balkon mereka terpisah. Ara mendudukkan tubuhnya di kursi balkon itu dan meletakkan kepalanya di atas tumpuan tangannya.
"Kenapa malah dia yang nyuekin gue? seharusnya gue yang nyuekin dia" ucap Ara kesal dan tertidur di balkon tanpa melepaskan apa yang melekat di tubuhnya itu kecuali tas yang di bawa oleh Nathan tadi.
*****
"Bagaimana?" tanya Teo kepada Qori.
"Sudah saya celakai dia bos" jawab Qori. Qori adalah orang suruhan Teo untuk menghabisi Ara karna dia takut jika Ara memintai haknya makanya dia melakukan itu.
"Apa dia selamat?" tanya Teo melalui panggil telpon.
"Saya belum tau pasti bos...tapi tadi saya sudah memukul kepalanya menggunakan kayu yang cukup besar sampai kayu itu patah" jelas Qori.
"Kamu pastikan dia ikut kedua orang tuanya" perintah Teo karna memang dulu Qori juga lah yang menyabotase mobil kedua orang tua Ara sampai mereka kecelakaan dan kehilangan nyawa.
"Baik bos" jawab Qori. Teo langsung mematikan panggilan itu.
__ADS_1
"Kau akan segera menyusul orang tua mu Ara riyanti" ucap Teo dengan senyum licik yng mengembang jelas.
*****
Hari sudah pagi dan Nathan langsung menuju ke balkon untuk menghirup udara pagi yang segar. Dia menggerak gerakkan tubuhnya ke samping kanan dan kiri dan waktu dia menghadap ke kanan dia langsung melihat istri mungilnya itu sedang tertidur di balkon apartemen itu.
"Dia tidur disini?" guman Nathan menatap istrinya itu dan mau membuka pintu yang membatasi balkon mereka itu tapi Ara terbangun dan dia langsung masuk ke dalam kamarnya kembali.
"Nathan?" ucap Ara bingung karna dia sempat melihat sekilas wajah suaminya itu.
"Mungkin kita emang gak jodoh ra" ucap Nathan dan langsung masuk ke dalam kamar mandi.
Ara masuk ke dalam kamarnya dan terlebih dahulu menyiapkan sarapan. Nathan nampak keluar dari kamarnya. Ara menatapnya dengan segera Nathan mengalihkan pandangannya dan ingin keluar.
"Aku masih banyak kerjaan" jawab Nathan tanpa menoleh ke arah istrinya itu dan langsung berlalu tanpa pamit.
"Kok dia sih yang marah sama gue....seharusnya gue yang marah sama dia" bentak Ara marah dan membanting celemek yang ia pakai itu dan masuk ke dalam kamarnya dan membersihkan diri setelah itu mengenakan baju dan langsung berangkat ke toko sendiri dengan berjalan kaki.
"Bagaimana keadaan Ara?" isi pesan Rizal yang di kirim kepada Nawi yang memang bekerja sebagai pengawal pribadi Ara dan dia juga sangat ahli dalam membela diri dan Ria menjadi asisten pribadi Ara.
"Nona baik baik saja tuan tapi tadi malam nona masuk rumah sakit karna ada orang yang memukul kepalanya dari belakang dan nona mengeluarkan banyak darah dan untungnya nona baik baik saja" jelas Nawi.
Mata Rizal membulat sempurna membaca pesan dari Nawi. "Pasti itu orang suruhan kak Teo" guman Rizal.
__ADS_1
"Kamu awasi terus dia jangan sampai dia kenapa kenapa" balas Rizal lagi.
"Baik tuan" balas Nawi dan kembali mengikuti Ara dari belakang.
"Aku akan selalu menjaga Ara kak" ucap Rizal.
Ara sudah sampai di toko bunga dan langsung mengenakan celemek dan meletakkan tas yang ia bawa ke tempat biasanya.
Hari ini banyak orang yang membeli di toko itu dan Ara melayaninya dengan baik dan dia juga tak nampak seperti orang kenapa napa dan dia juga tidak menunjukkan kesedihannya melainkan dia menunjukkan kebahagiaannya dan ntah apa yang dia bahagiakan padahal hari ini pikiran nya kacau mulai dari Nathan yang menghindarinya dan kepalanya yang masih sedikit sakit.
*****
Di perusahaan Nathan tidak konsentrasi bekerja karna fikirannya terus menerus kepada Ara yang tadi malam mengatakan bahwa dia tidak peduli terhadapnya.
"Apa gue harus lepasin dia?" guman Nathan dan menyenderkan tubuhnya di kursi.
Ckleekkk
Pintu ruangan Nathan terbuka dan terlihat Vino yang masuk ke dalamnya. "Ngapain kesini?" tanya Nathan datar.
"Lo kenapa murung banget?" tanya Vino. Nathan menegakkan tubuhnya dn menatap lekat ke arah Vino.
"Kenapa?" tanya Vino sedikit takut karna tatapan tajam Nathan kepadanya.
__ADS_1
"Menurut lo apa gue harus lepasin Ara?" tanya Nathan kepada Vino dengan wajah serius nya.