
Wanita itu sangat licik, dia melakukan segala hal untuk rencana busuknya. Yiwen berjalan keluar tanpa menunggu Yhing yin yang masih berdiri terdiam di belakangnya. Entah apa rencana dia selanjutnya, bahkan Yiwen tak pernah merasa takut sama sekali dengan semua rencana dan ancamanya. Yang ia pikirkan adalah gimana cara dia untuk pulih.
Yiwen tetpikir jika Yhing yin pasti punya penawar untuk mengembalikan ingatanya lagi. Karena dialah otak di balik semuanya. Sebelum keluar dengan Lee. Dia melihat Lee bertemu dengan Yhing yin.
"Aku harus tanyakan semuanya pada Yhing yin, aku akan pancing dia untuk berbicara." ucap Yiwen dalam hatinya, menarik bibirnya sedikit dan melangkahkan kakinya semakin cepat.
Tap.. Tap.. Langkah kaki Ywien beriringan dengan pelayan yang berjalan di depannya dengan langkah terburu-buru.
Bruukkkkk..
"Maaf non aku gak sengaja." ucap pelayan yang tak sengaja menabrak bahunya..
"Iya gak apa-apa, lain kali kalau jalan hati-hati" ucap Yiwen. Ia melanjutkan langkahnya, menuju ke halaman rumah Chengyi. di sebuah taman yang nampak sangat luas.
---00---
Di balik ruang kerja Chengyi. Di ruangan yang sangat tertutup Dan bahkan suara mereka berbincang di dalam tidak akan bisa di dengar oleh orang yang melintas atau memang sengaja menguping dari balik pintu tertutup itu. Ruangan yang memang dindesain khusus oleh Chengyi sendiri.
Lian yin masih duduk santai tanpa rasa canggung terhadap musuhnya sendiri yang kini berada tepat di depannya. Kalau bukan keinginan dari rencana Yiwen, lian yin tak mungkin mau melakukan semuanya.
"Cepat katakan apa yang ingin kamu bicarakan"ucap Chengyi sinis, bersandar pada meja kerjanya dengan tangan memegang beberpaa dokumen, dan jemari membuka tiap lembar dokumen itu. tanpa menatap Lian yin.
"Duduklah."pinta Lian yin.
"Gak usah banyak basa-basi. Aku tidak punya waktu banyak untuk kamu. Masih banyak hal yang lebih penting dari pada harus bicara denganmu, karena terlalu membuang-buang waktuku. Pekerjaanku masih banyak. Sekarang cepat bicara, jangan mempersingkat waktuku."ucap Chengyi tatapannya sangat tajam. Setiap melihat Lian yin, ia sangat kesal. Seolah memberi kemarahan karena kehilangan Yiwen terbayang lagi dalam otaknya. Apalagi saat tahu jika Yiwen sudah menikah dengannya. Harapan dia untuk memiliki Yiwen punah. Semuanya penantianya selama ini tak ada hasil sama sekali.
Lian yin beranjak berdiri melangkahkan kakinya mendekati Chengyi, lalu menyentuh pundaknya.
"Baik, aku kesini hanya untuk bilang sesuatu padamu jika, orang yang berada di sisimu ada salah satu dari mereka yang berkhianat. Dia membocorkan segala sesuatu tentang kamu pada orang lain. Aku tidak bermaksud apa-apa atau berencana lain untuk mengusai semua milikmu ini. Aku kesini hanya untuk memberitahukan semua ini padamu. Kalau kamu tidak percaya dengan kata-kataku, maka cari tahulah sendiri dengan keahlianmu dalam.mendeteksi musuh."Ucap Lian yin tersenyum tipis. "Dia ada di dekatmu. Dan tinggal menunggu kehancuranmu" Bisik Lian yin dengan senyum semringainya.
"Kamu mencoba mengancamku lagi, aku tidak perduli dengan itu semua. Di sini tidak ada yang seperti kamu bicarakan."ucap Chengyi penuh percaya diri.
"kalau kamu tidak percaya tidak masalah bagiku . Tapi berhati-hatilah dengan orang terdekatmu. Jangan mudah percaya dengan dia, teman bisa jadi musuh. Bahkan musuh bisa jadi teman."ucap Lian yin, membalikkan badannya, kembali duduk di sofa.
"Bukannya aku ikut campur dengan semua urusan kamu, tapi aku ingin menawarkan sebuah kerja sama. Aku hanya menawarkan satu kali tapi jika kamu tidak mau aku tidak masalah juga. Lagian gak ada ruginya denganku"ucap Lian yin menyilangkan kakinya, dengan duduk bersandar merentangkan tangan kanannya ke atas sofa.
__ADS_1
Luhan yang dari tadi hanya diam, ia duduk di depan Lian yin. Dengan santainya menyandarkan tangan kanannya ke atas sofa. Ia mulai tertarik dengan tawaran Lian yin. "Apa keuntungaku kerja sama dengamu?" tanya Chengyi.
"Banyak sekali keuntungannya, kamu bisa tahu siapa musuh kamu sebenarnya. Tapi kalau denganku, jelas kamu menganggapku musuh, karena aku mendapatkan apa yang belum pernah kamu dapatkan"ucap Lian yin duduk dengan badan sedikit menunduk.
"Jangan bahas soal itu, jika kamu ingin pulang dengan selamat, kalau kamu masih bahas soal Yiwen. Mungkin kamu akan levih menyesal nantinya"Ucap Chengyi mengancam.
Ia teringat sesuatu, harus menghargai tamunya dengan menyediakan minum. Ia segera beranjak berdiri, melangkahkan kakinya menuju ke kulkas yang ada khusus di ruangan kerjanya. Berisikan banyak minuman mulai dari minuman berkelas seperti Wine dan berbagai macam merk lainnya, hingga minuman ringan tersedia semuanya.
"Kamu mau minum apa?" tanya Chengyi
"Air putih." ucap Lian yin.
Chengyi mengambil satu botol kecil air mineral melemparkan tepat ke tangkapan tangan Lian yin.
"Sebenarnya apa rencana kamu?" tanya Chengyi.
"Kita pancing orang itu, tapi kamu pura-pura saja tidak menerima tawaranya untuk kerja sama. Aku mau kamu pancing dia, Apa kamu tahu dia yang menyebabkan Yiwen jadi sakit sampau sekarang"ucap Lian Yin.
"Apa katamu? Yiwen sakit apa? kenapa bisa dia sakit?"tanya Chengyi duduk kembali di tempatnya.
"Baiklah, tapi aku membantumu bukan karena ingin kerja sama denganmu. Aku lakukan hanya untuk Yiwen" ucap Chengyi, dan mulai meneguk minumannya.
"Baiklah, terserah kamu. Aku memberimu kesempatan berbicara dengan Yiwen di luar. Kamu akan tahu sendiri gimana keadaanya sekarang. Dan tanyakan apa rencana selanjutnya padanya."ucap Lian yin.
Lama berbincang mengenai rencana selanjutnya, meski mereka tidak akur hanya karena perasaannya pada Yiwen Luhan tak bisa menolak apa kata Lian yin. Dia ingin melihat Yiwen hidup bahagia meski tidak bersamanya sekarang.
Merasa puas dengan perencanaan rencana yang snagat matang bersama lian yin. Luhan keluar dari ruang kerjanya mencari Yiwen. Ia mencari di setiap penjuru ruangan ia tidak menemujan Yiwen di rumahnya. luhan memutuskan untuk keluar menuju halaman rumahnya.
Ia berjalan menelusuri halaman rumahnya.
Chengyi melihat sekilas wajah Yiwen di taman.
"Yiwen!!" panggil Changyi berlari mendekati Yiwen yang duduk sendiri di taman.
"Siapa kamu di mana Lian yin?" tanya Yiwen, beranjak berdiri dan nampak berhati-hati dengan Chengyi.
__ADS_1
"Kamu lupa denganku, aku luhan" ucap Luhan berdiri mendekati Yiwen.
"Jangan mendekatiku, aku bilang di mana Lian yin."ucap Yiwen berjalan mundur ke belakang. Ia tak mau ada seorang menyentuhnya. Apalagi sekarang dia sudah menikah dengan Lian yin.
"Jadi ini yang di bilang Lian yin, Yiwen hilang ingatan dan penyebabnya adalah seorang yang ingin menghancurkanku juga. Aku harus cari tahu apa motif dia merencanakan ini semua"ucap Chengyi dalam hatinya. Ia tak hentinya memandang Yiwen yang duduk was-was dengan memandang takut ke arah Chengyi.
"Bukannya kamu tadi sudah bertemu aku Di ruang kerjaku, apa kamu lupa lagi dengan wajahku"tanya Chengyi menggeser duduknya mendekati Yiwen.
"Aku bilang jangan dekat-dekat denganku"bentak Yiwen keras.
"Aku tidak akan menyakitmu, aku Chengyi baru saja kita bertemu tadi kamu sudah lupa"ucap Chengyi mencoba menenangkan Yiwen.
Chengyi terdiam melihat sekilas di balik punggungnya ada alat pengontrol otaknya. Agar dia menuruti apa perintah dari orang yang menjalankannya. Jadi Yiwen seakan menjadi sebuah boneka untuk permainanya.
Merasa terancam Yiwen beranjak berdiri.
"Tunggu, jangan pergi"ucap Chengyi memegang pergelangan tangan Yiwen.
Ia mengambil alat pengontrol otak berbentuk kotak kecil menempel di tengkuk Yiwen.
"Apa yang kamu lakukan?" tanya Yiwen.
"Ini ada seseorang yang memberimu ini." ucap Chengyi memberi tahu kotak kecil itu pada Yiwen.
"Ini pengontrol otak, jadi kamu akan di jalankan seperti robot. Dan ingatanmu beberapa jam sebelumnya juga akan hilang. Jadi kamu juga akan merasa lupa dengan semua orang di sekitarmu yang baru saja kamu temui. Tapi jika ini lepas dari tubuhmu maka semua ingatanmu sebelumnyaa kembali lagi." ucap Chengyi menjelaskan, seakan dia tahubsemua tentang alat itu. Tidak ada hal alat canggih yang tidak ia tahu. Karena baginya itu adalah koleksi yang harus di miliki juga untuk pertahannya dari musuh.
Yiwen terdiam menatap bingung ke arah Chengyi.
"Bagaimana kamu tahu semunya. Ini siapa yang menaruh di belakang leherku."ucap Yiwen meraih sebuah alat itu di tangan Chengyin.
"Itu tidak penting sekarang, aku ingin tanya padamu. Apa kamu masih ingat denganku?" tanya Chengyin.
"Kenapa kamu tanya itu, bukannya kamu Chengyin musuh Lian yin kan. Lian yin sudah cerita semuanya tentang kamu"ucap Yiwen.
"Kenapa hanya itu yang ia ingat, kenapa dia tidak mengingat siapa aku sebenarnya. Aku yang pernah mengisi hatinya. Tapi sekarang dia lupa. Lupa segalanya tentang aku dan menikah dengan orang lain, yang ia cintai"batin Chengyi, terdiam dengan tangan masih memegang tangan Yiwen.
__ADS_1