
"Hey.. Berhenti kalian!!"
"Berhenti!!"
"Jangan berlari!!"
Lay, Tao dan Lyli berlari secepat mungkin menuju ke hutan dekat dnegan perbatasan. Mereka berlari secepat kilat pergi dari kelompok pembunuh bayaran yang saat ini mengincarnya, entah siapa yang menyuruh mereka. Tapi mereka benar-benar sangat ganas, Meski Lay bisa menghadapinya sendiri tapi ada yang lebih penting yaitu keselamatan calon istrinya, dia tidak mau Lyli kenaoa-napa. Dia berlari mencari tempat yang aman untuk Lyli bisa sembunyi, saat dia melawan para pembunuh itu.
"Kenapa kita verlari? Apa kamu tidak membawa senjata?" tanya Tao, menatap wajah Lay kesal.
"Aku bawa senjata, tapi senjata mereka lebih tajam. Lihat mereka pakai senjata apa, harusnya kamu lebih tau. Senjata itu bisa menembus tubuhmu, jadi jangan terlalu bodoh kamu melawan dia!!" ucap Lay yang tak kalah kesal.
"Udah kalian jangan pada berantem, sekarang lebih baik kita pergi dari sini. Jangan sampai mereka semuanya dengan mudahnya nangkap kita," ucap Lyli kesal, ia memegang lengan Lay, menariknya untuk segera pergi, an masuk ke dalam sebuah gua untuk bersembunyi sementara.
Dor... Dor... Dor..
Suara tembakan membuat mereka mengernyitkan tubuhnya, bagaimana bisa mereka menembak, siapa musuh mereka. Gumam Tao, mencoba untuk keluar mengintip dari balik sebuah goa yang sangat amat gelap, tidak ada satupun yang tahu di mana mereka sembunyi.
"Siapa," tanya Lay menepuk pundak Tao dari belakang, dan baru kalu ini dia benar-benar dewasa mampu saling bertanya meski entah hanya sehari atau tidak.
"Entahlah!! sepertinya kita harus keluar. Dan biarkan Lyli di sini. Lagian sepertinya di sini lebih aman baut dia!!" Mendengar ucapan Tao, Lay menoleh ke belakang menatap Lyli yang duduk bersandar di batu pinggiran goa.
"Lyli, kamu di sini dulu. Aku akan hadapi mereka." ucap Lay duduk di depan Lyli.
"Baiklah!! Kalian hati-hati, jangan sampai terluka. Aku tidak mau jika kalian sampai terluka." ucap Lyli mencoba tersenyum.
"Iya, pasti. Lagian aku sudah janji padamu akan menikahi kamu, dan itu sudah janji aku!!" ucap Lay, mengusap rambut Lyli. Lalu mengecup keningnya sangat lembut. Lay beranjak pergi meninggalkan Lyli, dan Tao sudah menyiapkan senjata untuknya.
"Pakailah ini!!" ucap Tao, melemparkan senjata tepat di tangkapan tangan Lay.
"Kenapa kalian di sini?" tanya seorang laki-laki asing yang membuat mereka seketika mengerutkan keningnya.
" Siapa kalian? Kenapa kalian di sini?" tanya Lay.
"Aku Lian yin! Kamu lupa denganku?" bisik Lian yin.
"Lian yin? Apa kamu pakai topeng?" tanya Lay lirih. Dan hanya di jawab dengan kedipan mata olehnya.
__ADS_1
"Di mana orang tadi?" tanya Yao heran, dia sudah tidak melihat lawannya sama sekali.
"Semua sudah aku bereskan. Lebih baik kita cepat pergi, ke tempat di mana harta karun itu berada." ucap Brayen.
"Aku hanya mendengar tembakan dua kali, dan bisa menghabiskan segitu banyak orang. Gimana caranya?" tanya Tao dan Lay kompak, mereka terheran-heran dengan apa yang terlihat di depannya.
"Kalian jangan terlalu bodoh begitu. Ini hanya sebuah teknik menembak. Aku juga tidak menghabiskan peluruku begitu saja. Lebih baik jika aku menyimpannya.
"Mereka sangat hebat, hanya dengan beberapa pukulan saja semua sudah terkepar , dan wanita di samping aku ini juga sangat luar biasa dalam mengalahkan para penjahat itu," sela Yin.
"Serbuk racun!!"
"Benar-benar sangat licuk!!" jawab Tao.
"Ini bukan licik, lagian dalam dunia kejam kami tidak ada kata ampun untuk para musuh!!"
"Kalian? Berasal dari dunia mafia X yang terkenal dengan kelicikannya dan tidak segan membunuh para musuhnya hanya hitungan detik."
"Kamu juga akan tahu sendiri," ucap Brayen dnegan wajah datarnya.
Yin menepuk pundak Lay dan Brayen bersamaan. "Sudah jangan pada bertanya lagi? sekarang kita pergi," ucap Yin.
"Dasar wanita, bisanya hanya sembunyi di balik pacarnya." sindir Reysa membuat Lyli menaikkan ke dua alisnya kompak.
"Apa yang kamu katakan?" tanya Lyli berjalan mendekati Reysa.
"Jadi wanita jangan hanya mengandalkan otak. Jika kamu mau masuk dalam dunia mafia, harus punya skill dan otak. Jangan hanya mengandalkan otak kamu, dan karena katakutan kamu hanya bersembunyi di balik goa itu. Kalau pacar kamu mati, gimana?" sindir Reysa tajam, dan langsung menusuk ke hati Lyli.
"Resya diamlah!!"
"Kenapa? Lagian benar? Agar dia tahu dalam dunia mafia harus punya skill," jelas Reysa tak mau kalah.
"Siapa kamu dan lagian apa kamu tahu tentang aku,"
"Sangat mudah menebak wanita lemah seperti kamu!!" jelas Reysa menarik bibirnya sinis. Entah ada angin apa Reysa memang tidak terlalu suka dengan seorang wanita yang hanya mengandalkan otaknya. dan sembunyi di balik teman-temannya, agar dia bisa bertahan.
"Gara-gara kamu juga Grace yang terluka harus melawan para musuh di rumah Lian yin. Dan juga ulah kamu yang lemah hampir saja membunuh orang yang paling kamu sayang, kan?" jelas Reysa tersenyum, menarik alisnya ke atas. Sebagai penghinaan untuknya. Dan Lyli hanya diam tertunduk dia menelan dalam-dalam apa yang di katakan wanita di depannya memang benar.
__ADS_1
Aku memang terlalu lemah, aku tidak bisa melindungi diri ku sendiri. Dan bahkan semua orang harus terluka karena aku. Semua salah aku, dan aku memang tidak berguna!!
"Sudahlah!! Bagi aku kamu sangat membantu. Jangan dengarkan apa yang mereka katakan!!" jelas Lay, menepuk pundak Lyli dan langsung di tepis olehnya.
"Kau tidak berguna Lay, kalian sekarang pergilah. Aku akan tetap di sini, aku akan tunjukan padamu dan semuanya jika aku sangat berguna. Dan aku bukan orang lemah "
"Resya diamlah!! Kenapa kamu menghina dia?"
"Aku gak menghina dia, tapi itu semua kenyataan. Dan kenyataan tidak dapat di pungkiri, kan?" jawab tegas Reysa.
"Sudahlah, lagian memang benar apa yang di katakan dia,"
"Tuh, kan. Dia saja sudah mengakuinya." saut Reysa.
"Tapi aku gak mau tinggalkan kamu di sini sendiri. aku ingin kamu ikut denganku, tau aku di sini dengan kamu,"
"Enggak Lay! Kamu pergi saja dnegan mereka. Yakinlah jika kita pasti bersama lagi. Dan kamu juga sudah janji akan menikahiku!!" jelas Lyli memegang ke dua tangan Lay.
"Ayo kita pergi!!" ucap Reysa.
"Kenapa kamu jadi bilang seperti itu pada sesama wanita?" tanya Brayen yang dari tadi diam, dia mulai membuka suaranya.
"Kenapa kamu simpati dengannya. Lagian tahu sendiri aku gak akan bilang seperti itu jika dia tidak keterlaluan." ucap Reysa gak mau kalah.
"Sudah ayo kita pergi. Dan kanu Yin, jangan jangan buat kakak kamu tak percaya lagi denganmu. Kita sekarang harus pergi, dan setelah itu kembali.
"Bukanya kita akan menunggu Grace dan Changmin."
"Tenang saja, aku akan menunggu mereka di depan." ucap Tao menyela pembicaraan mereka.
"Benar juga apa yang kamu bilang. Aku kita tolong kamu ke depan perbatasan. dan bawa mereka masuk, aku butuh bantuan Grace."
"Sudah kalian cepat pergi!!" ucap Tao. Dan Lyli segera menarik tangan Brayen dan Lian yin untuk segera pergi. Sedangkan Lay masih diam menatap usaha Lyli yang dari tadi hanya murung.
"Pergilah!!" ucap Lyli tegas.
"Tapi.."
__ADS_1
"Jangan khawatirkan aku, aku bisa jaga diri sendiri!!" jelas Lyli tanpa menatap ke arah Lay.
"Sudah ayo pergi!!" Reysa menarik tangan Lay, untuk segera pergi meninggalkan Lyli sendiri.