Terjebak Cinta Dunia Mafia (Dalam Tahap Revisi Nama)

Terjebak Cinta Dunia Mafia (Dalam Tahap Revisi Nama)
Amera adik Mei


__ADS_3

Boby laki-laki muda berumur 26 tahun, dia ikut dengan boss


nya sekarang.  Dia sebenarnya orang yang


sangat baik, dan tidak suka membunuh orang dengan tanganya. Tetapi, karena


faktor ekonomi yang membuat ia tersudutkan, dan terpaksa ikut dengan orang yang


sangat jahat, terkenal seluruh penjuru dunia. Namun, cara kerja mereka itu


sangat lihai, bukan bermain langsung, mereka membunuh orang itu secara


diam-diam. Dan Baru kali ini merkea mnyeranh terus terang pada musuhnya. Karena


bagi mereka semua di anggap sangat berbahaya. Dan bisa mengancam identitasnya, yang sebenarnya.


Mendengar cerita singkan dari Boby, Lay yang semula di dalam halicopter, ia bergegas turun. Dan ingin mendengar lebih jau lagi cerita


tentangnya dan siapa boss yang menjalaknan mereka semua.


“Aku bantu kamu memeriksa dia,” ucap Lay, pada Changmin.


“Baiklah,”


Changmin segera memeriksa sekujur tubuh Boby, ia memeriksa


secara detail dari ujung kakinya sampai ujung kepala. Merasa sudah aman, ia


melepaskan tanganya.


“Sepertinya memang tidak ada yang mencurigakan darimu,” ucap


Lay.


Sementara gadis itu sudah bisa berlabuh ke pinggir pantai. Ia


bergegas turun dan berlari mengha,piri yang lainya.


“Hai... hai...” gadis itu terus melambaikan tangan, membuat pandangan


Changmin dan yang lainya terarah padanya.


Sepertinya aku pernah melihat dia, tapi dimana ya.” Gumam Changmin


lirih, ia mencoba mengingat-ingat siapa yang gadis di depannya itu.


“Kenapa kamu gak membantuku tadi?” tanya gadis itu, dengan


napas yang masih setangah, ia menunduk memegang lengan Changmin. Mencoba mengatur napasnya sejenak.


Semua laki-laki di depannya, hanya diam. Seakan gadis itu membungkam mulut mereka.


“Siapa kamu?” tanya Lay, dengan wajah bingung.


“Aku Amerta,” ucap gadis itu, berdiri tegap dengan tangan menepuk-nepuk dadanya.


“Jangan ajak bicara aku dulu, biarkan aku menarik napas, kalian tahu dadaku sesaj habis lari.” Ucap Amerta terpatah-patah.


Mereka hanya diam memandang dengan mulut setengah terbuka. Melihat gadis aneh di depan mereka, lagian bagaimana bisa di tempat terpencil seperti itu ada gadis aneh dengan gaun feminim dan pakaianya tidak terlihat seperti


gadis biasanya.


“Sudah bisa napas belum,” tanya Changmin datar.


“Bentar, Om. Napasku masih di ujung tanduk,” ucap Amerta.


Ia menarik napasnya dalam-dalam, menahannya sejenak. Lalu mengeluakan

__ADS_1


secara perlahan. Dengan tangan menyentuh pundak Changmin, membuat laki-laki itu


mengerutkan keningnya. Menatap aneh pada gadis di depannya itu.


“Oya, aku ke sini hanya mau lihat kalian, apakah baik-baik


saja.” Ucap Amerta, yang sudha bisa mengatur napasnya kembali.


“Apa hubungannya denganmu. Kamu gadis kecil, jangan lama-lama di sini. Di sini itu bahaya. Lebih baik kamu sekarang pergi dan berlindung


di balik punggung papa kamu.” Ucap Lay, menyindir.


“Apa katamu, beraninya kamu bilang seperti itu padaku. Meski


aku gadis kecil aku sudah dewasa. Dan aku bisa melawan orang dewasa.” Ucap Amerta.


Dia pasti tidak mengenaliku. Aku pernah melihatnya di rumah Mei, dan saat ini pasti ia berpikir


jika aku adalah orang lain. Batin Changmin.


Changmin yang dari tadi diam, mengamati gadis di depannya itu, hingga ia mulai teringat siapa gadis itu. “Apa kamu adik Mei?” tanya Changmin,


membuat Lay, menoleh mentaap ke arah Changmin, dengan wajah terkejutnya. Mata melebar


tak menyangka.


“Apa yang kamu katakan? Dia adik Mei?” tanya Lay memastikan.


“Iya, aku adik Mei. Tapi... bentar bagaimana kamu bisa tahu, jika aku adik Mei. Apa kalian adalah teman kakak aku?” tanya Amerta, mendekatkan wajahnya ke arah Changmin, dengan kedipan mata centilnya, membuat laki-laki itu. Menarik kepalanya sedikit ke belakang.


“Jaukan wajah kamu dariku” ucap Changmin.


Lay dan Boby hanya tersenyum, melihat Changmin yang sepertinya masuk dalam godaan gadis kecil itu.


“Oke, oya. Kenalkan aku Amerta,” ucap Amerta mengulurkan


tanganya ke depan Changmin.


“Kalau dia gak usah di tanya aku kenal dia, dia Boby” potong Amerta cepat.


“Aku dan dia sudah kenal, dan dia adalah anak dari pengusaha


kaya itu, dan kakanya yang menikah dengan boss aku,” ucap Boby, mencoba


menjelaskan.


“Iya, betul itu,” ucap Amerta.


“Terus kenapa kamu ke sini, apa kamu yang menyuruh mereka semua menyerangku,” ucap Lay, dengan wajah yang mulai sangat kesal, marah jadi


satu.


“Ehh.. enggak, enggak, siapa yang menyuruh mereka. Lagian mereka bukan anak buah aku, gak mungkin aku bisa menyuruh mereka.” Ucap Amerta,


menguntupkan bibirnya kesal, dengan ke dua tangan melipat di dadanya. “Mereka gak akan bisa di perintah, jika bukan bossnya sendiri. Apa aku mau cari mati, berani memerintah mereka untuk menyerang kalian,” lanjut Amerta menjelaskan.


 “Terus kenapa, kamu ada di sini? Apa kamu juga punya tujuan sama denganya? Atau kamu ada niat lain, mau menjebakku, atau mau membuat rusuh di desa ini,” celoteh  Changmin, tiada hentinya, dengan langkah semakin maju ke depan, dan tatapan tajamnya, membuat Amerta, melangkahkan


kakinya semakin mundur ke belakang, takut!!


“Eh... aku.. aku..” ucap Amerta terpatah-patah, ia memutar matanya, berkelilinga mentap sekitar pantai. Matanya terehnti mendanga rumah


itu, dengan bibir tertarik sedikit membentuk senyuman tipis.


“Aku apa? Cepat jawab!!” bantak Changmin, membuat Amerta menciut seketika. Wajah Changmin saat marah membuat ia tidak bisa berkutik. Tatapanya, sangat menakutkan!!


“Aku mau pergi ke rumah itu,” ucap Amerta menunjuk ke arah rumah di depan pandangannya, sebuah rumah yang terlihat sangat usang, dan rumah

__ADS_1


itu baru saja Changmin keluar dari sana tadi.


Langkah Changmin semakin mendekat, “Jangan mendekat lagi,” Amerta semakin melangkah mundur dengan langkah perlahan.


“Apa yang kalian lakukan?”


Suara yang sanat familiar di telinga Changmin dan Lay itu. Seketika mereka tersentak menoleh kompak ke sumber suara.


“Lian yin!!” ucap Changmin dan Lay kompak.


“Udaj kalian kenapa di sini, cepat naik.” Ucap Lian yin,


menepuk pundak Changmin.


Pandangannya terhenti saat melihat gadis kecil di depannya, dengan panampilan bak seorang model dengan gaun pendek selutut miliknya. “Dia


siapa?” tanya Lian yin, mentap dari ujung kaki hingga kepalanya.


Yiwen yang melihat Lian yin bermain mata menatap waniat


lain, seektika ia mengerutkan bibirnya. Berjalan dengan langkah kesal, memukul


punggung Lian yin.


Plaaakkkk...


“Apa yang kamu lihat, sekarang ayo pergi,” ucap Yiwen. Menarik tangan Lian yin agar segera masuk ke dalam halicopter miliknya sebelum


mereka semua berhasil mengejarnya.


“Apa mereka mengejar kamu?” tanya Lay, menatap ke belakang, melihat beberapa orang mengejar Yiwen dan Lian yin.


“Iya,” ucap Yiwen datar.


“Karena mereka sudah sampai di sini. Maka kita akan


menghadapi mereka semua,” ucap Changmin. Menggerakakn keplanya, ke kiri dan


kanan, dengan tangan mengepal, ia sudah sudah bersiap untuk menyerang.


“Apa kamu yakin. Mereka sekarang tambah banyak lo,” ucap Yiwen, menatap ragu pada Changmin.


“Kenapa, memangnya jika mereka tambah banyak. Aku tidak perduli, semua bisa di hadapi dengan mudah.” Ucap Changmin, penuh percaya diri.


Lay diam-diam naik ke atas halicopter. Bersama dengan Yiwen dan Lian yin.


“SStttt.. kamu cepat naik,” desis Lay pada Boby.


Mereka berjalan mengendap-endap membiarkan Changmin yang masih berdiri sendiri penuh percaya diri.


“Lay, kamu bisa bantu aku dari jauh kan?” tanya Changmin,


tanpa mentap ke arah Lay.


Suara halicopter terdengar jelas di telinganya, membuat Changmin menatap ke atas, “Kalian mau kemana? Tunggu kau,” ucap Changmin,


mencoba untuk naik melompay, dengan tangan meraih tangan gadis kecil yang dari


tadi hanya diam menatapnya.


“Jangan diam, kamu ikut aku sekarang,” ucap Changmin. Yang sudah masuk ke dalam halicopter itu


mencoba menarik tangan Amera masuk ke dalam.


Semua mata tertuju padanya bingung. Entah apa yang di lakukan Changmin, kenapa membawa wanita itu masuk ke dalam. Pikir semuanya.


Kecuali Boby, yang memang sudah kenal lama denagnnya, ia tahu siapa Amerta dari ia pertama masuk ke dalam dunia mafia. Bahkan dia juga

__ADS_1


berteman dekat dengannya, tapi hari ini, ia tidak mau ikut campur soal dia.


Lagian kalau dia di tinggal di pulau itu, tidak ada yang akan membunuhnya.


__ADS_2