
Yiwen menatap suasana di rumahnya yang begitu sangat lengket
dengannya. Ia tidak bisa jauh dari rumah itu. Hawa yang sangat sejuk membuat
hati merasa snagat tenang.
“Sudah aku mau mandi sekarang,” ucap Yiwen, melangkahkan
kakinya menuju ke kemar mandi.
“Tunggu!!” Lian yin, menarik tangan Yiwen, hingga masuk ke
dalam dekapannya.
“Kamu mau kemana?”
“Apa ka mu gak periksa telinga!!” jawab Yiwen datar. “Harusnya
kamu setiap hari itu, periksa telinga kamu. Aku sudah bilang tapi kamu gak
dengar, perlu aku baha ke THT” lanjut Yiwen kesal.
“Jangan cemberut teru, aku hanya ingin bermanja denganmu,
syang!!’ ucap Lian yin, mencubit dagu Yiwen, manja.
Yiwen menarik sudut bibirnya tipis, menarik tanganya, lalu melingkarkan
tangannya ke leher Lian yin, dengan tatapan manja dan menggoda. “Apa kamu mau
bermesraan di siang hari begini?”
“Apa boleh buat, aku ingin syang. Aku juga sudha siapka baju
khusus untuk kamu.” Ucap Lian yin.
Yiwen menautkan ke dua alisnya, “Baju apa?” tanya Yiwen.
“Kamu mandi dulu saja, setelah itu nanti malam kamu pakai,
atau kamu mau pakai itu setiap waktu, biar aku tambah tergoda.”
“Yiwen mencubit hidung Lian yin, dan beranjak berdiri.
“Baiklah!!”
“kamu juga cepat mandi nanti,” gumam Yiwen.
``````````
Di sisi lain Grace dan Changmin hanya berdua di kamarnya,
tanpa saling bicara lagi, dan hanya fokus dengan laptopnya masing-masing.
Kruukkkk...
Grace seketika kikuk, mendengara bunyi perutnya, ia mengusap
perutnya, yang terasa sangat lapar, sembari melirik ke arah Changmin, berharap
jika dia membawakan makanan untuk dirinya.
“Bilang saja kalau kamu lapar!” sindir Changmin, tanpa
mentap ke arah Grace.
Grace, menari sudut bibirnya, dan kembali lagi fokus dengan
laptopnya. Ia taidak mau berharap dapat makanan lagi, lagian ia tidak bisa
masak sendiri, mau turun juga malas, sambu tunggu pelayan datang, ia
melanjutkan tugasnya lagi.
Lebih baik, sekarang aku fokus saja, dari pada aku minta
padanya. Ngeselin, aku rasanya mau jentok kepalanya.
“Kalau lapar bilang, aku akan ambilkan maanan buat kamu! Tapi
kalau kamu gak mau ya, sudah. Aku juga gak akan ambilkan, lebih baik aku
istirahat seksarang, cepek!” celoteh Changmin, yang mulai menutup laptopnya,
dan beranjak menuju ke ranjang. Ia membarngkan tubuhnya, merentangkan ke dua
tanganya, merenggangkan otot yang terasa sangat kaku, lagian beberapa hari ini
Lian yin tidak tidur sama sekali, ia seharain terus bekekerja dan bekerja, tanpa
kenal lelah.
Grace menggerakkan kepelanya, mentap tajam Changmin, yang
seenaknya tidur di ranjangnya, ia bangkit dari duduknya, dengan langakh penuh
__ADS_1
dengan kekesalan, Grace, menarik kaki Changmin.
“Turun!! Jangan tidur di ranjang, aku!!” decak Grace kesal.
“Memangnya kenapa? Apa kamu mau tidur di samping aku?” goda
Changmin, membuka matanya, beranjak duduk mentap dekat wajah Grace di
hadapannya.
Ia mengulurkan telunjuk tanganya di kening Grace, dan
mendorongnya pelan. “Jangan terlalu sibuk, kamu juga harus butuh istiraha.
Lagian otak tidak bisa di paksa setiap hari bekerja, dia juga butuh istrahat
agar lebih tenang lagi, dalam berpikir.” Auca Changmin sok bijak.
“Baik, aku akan istirahat, jika kamu mau pergi dari sini. Bagaimana
aku bisa tidur jaika kamu masih ada d sini. Lagian aku juga gak mau ada orang
yang mengganggu aku tidur.”
“Kita hanya berdua di sini, kenapa gak tidur bersama saja,”
goda Changmin, mencubit pipi Grace.
Seketika Grace melotot tajam dengan tangan mengepal sudah
siap untu melemparkan amarah pada Changmin. “Shiitt., kamu !! baiklah, kalau
kamu mauntidur di sini, akau akan tidur di sofa, bye.” Decak kesal Grace, ia
mengambis bantal di ranjang dan segera menuju ke sofa, tanpa perdulikan
Changmin lagi.
Dia marah padaku,
padahal aku hanya bercanda, kenapa dia sealkau menagnggapnya aku serius. Emm.. biarkan saja, aku mau tidur.
Grace menatap tajam, Cangmin yang mulai berbaring lagi di
rnjangnya, tanpa rasa bersalah sudah mengambil tempat tidurnya. “Terserah!!”
teriak Grace kesal. Ia mulai membaringkan tubuhnya, perlahan mencoba untuk
menutup matanya.
``````
“Kenapa Yiwen lama sekali?” gerutu Lian yin, kesal, dari
tadi ia menunggu Yiwen, sudha hampir setenagha jam dia belum juga keluar dari
dalam kamar mandi.
Lian yin menghantakan kakinya kesal.
Brakk... Brakk...
“Yiwen, apa kamu tidur/” teriak Lian yin.
“Apa syang?”
“cepetan, aku mau ke kamar mandi sekarang?’
“Buka saja, memangnya kamu mau apa, kalau mandi nanti saja.”
“Aku mau baung ar kecil,” ucap Lian yin, yang lansgung
menbuka pintu kamar mandi , yang memang tidak di kunci oleh Yiwen.
“kenapa kamu gak bilang dari tadi, jika pintu kamar mandi
tidak di kunci?’
“Laian kamu juga gak tanya, kenapa juga aku harus bilang.”
Lian yin hanya diam, dan muai buang air kecil, Yiwen
meskipun bisa melihatnya, ia tidak tertarik melihatnya. Ia memejamkan matanya
lag, menyandarkan kepalanya di atas bathup, menikmati mandi air hangat
membuatnya sangat rileks.
“Eh,... dia tidur lagi, dia gak tertarik sama sekali
melihatku,” decak Lian yin dnegan mata tertuju ada tubuh di depannya.
“Yiwen, sekalian mandi bersama ya?” tanya Lian yin, yang
lansung melepas semua bajunya dan berendam bersaa yanpa persetujua dari Yiwen.
__ADS_1
“Tersera!! Tapi jangan gangu aku, aku mau tenang dulu.”
“Tapi aku gak mau,” Lian yin memegang ke dua dada Yiwen,
seketika membuat gadis itu membuka matanya terkejut, ia menarik tubuhnya ke
belakang, duduk tegap menatap Lian yin.
“Yin, jangans ekarang!!”
“Trrus kapan syang?” tanya Lian yin, yang mulai mengecup
bibir Yiwen dengan ganasnya, tanpa memberikan celah Yiwen untuk menolak, dan
berbidcara lagi.
Yiwen berusaha untuk emndorong tubuh Lian yin, namun Lian
yin semakin bertindak Liar, ia menciuimi leher Yiwen hingga turun ke bawah,
membuatnya tak bisa menahan gairahnya.
“Syang sudah.. emm..”
“Diam dan nikmati saja syang, lagian ini akan jadi
perpisahan sementara kita. Selama satu bulan ke depan kita gak bisa seperti ini
lagi syang.”
“tapi...”
Belum sempat mengucapkan penolakan, jemari tangan Lian yin,
seakan menerkam masuk dalam daerah intinya, membuatnya mengeliat menahan desahan yang ingin sekali keluar dari
bibinya.
“Syang... Pelan-pelan,” ucap Yiwen, memegang lengan Lian
yin. Menikmati permaina tangan Lian yin yang membautnay semaiin bergairah.
“Aku ingin membuat kamu ketagihan, jika kamu sudah ingin,
katakan aku akan angkat kamuke ranjang, kita main di atas ranjang syang.” Ucap Lian
yin.
Yiwen memeluk kepela Lian yin, mengacak-acak rambutnya. Lian
yin , menempelkan kepalanya adi dada Yiwen, dengan salah satu tanganya bermain.
“Jika kamu pergi, aku tidak mau jika ada seseorang ang
memegangkamu, kamu harus bisa melindungi diri kamu.”
“Iya pasti syang, sekarang aku mau keluar, sudah lama juga
beredam, sekarang aku gak ingin berendam lagi,” ucap Yiwen kesal.
“Baiklah, keluarlah, aku mau mandi.” Ucap Lian yin.
“Kamu mau makan apa?” tanya Yiwen, beranjak dari bathup,
menarik handuk di sampingnya, untuk membalut tubuhnya.
“Makan apa saja syang,” ucap Lian yin.
“Baiklah, kalau begitu.” Yiwen, menunjukkan badannya, mengecup
lembut kening Lian yin
“makasih, ya. Aku syang banget sama kamu syang.” Ucap Yiwen,
melangkahkan kakinya pergi meningglakan Lian yin sendiri.
Yiwen berggas memakai baju yang sudah ia siapkan
sebelumnya. Kemudian berjalan menuju ke dapur, ia terkejut saat melihat sebuah
surat tertulis menempel di meja dapur.
Yiwen menariknya, membaca isi surat itu.
“Maaf, aku tidak bisa membantu kamu sekarang, syangku. Aku
akan datang nanti malam. Jadi kalian berdua saja di dalam, aku tidak ingin
menganggu kalian dulu. Ayah masih banyak tugas yang harus aku lakukan.” Wo Jia.
Yiwen meletakkan kertas itu di meja, mentap ke depan. Dari tadi
ia tidak tahu jika ayahnya itu pulang.
“kenapa ayah selalu pulang di saat aku tidak ada di luar,
__ADS_1
apa ya memang tidak ingin aku tahu jika dia pulang.” Gerutu Yiwen. Ia menarik
napasnya panjang dan bergegas membuat roti panggang untuk Lian yin.