Terjebak Cinta Dunia Mafia (Dalam Tahap Revisi Nama)

Terjebak Cinta Dunia Mafia (Dalam Tahap Revisi Nama)
Episode 263


__ADS_3

Yiwen menatap suasana di rumahnya yang begitu sangat lengket


dengannya. Ia tidak bisa jauh dari rumah itu. Hawa yang sangat sejuk membuat


hati merasa snagat tenang.


“Sudah aku mau mandi sekarang,” ucap Yiwen, melangkahkan


kakinya menuju ke kemar mandi.


“Tunggu!!” Lian yin, menarik tangan Yiwen, hingga masuk ke


dalam dekapannya.


“Kamu mau kemana?”


“Apa ka mu gak periksa telinga!!” jawab Yiwen datar. “Harusnya


kamu setiap hari itu, periksa telinga kamu. Aku sudah bilang tapi kamu gak


dengar, perlu aku baha ke THT” lanjut Yiwen kesal.


“Jangan cemberut teru, aku hanya ingin bermanja denganmu,


syang!!’ ucap Lian yin, mencubit dagu Yiwen, manja.


Yiwen menarik sudut bibirnya tipis, menarik tanganya, lalu melingkarkan


tangannya ke leher Lian yin, dengan tatapan manja dan menggoda. “Apa kamu mau


bermesraan di siang hari begini?”


“Apa boleh buat, aku ingin syang. Aku juga sudha siapka baju


khusus untuk kamu.” Ucap Lian yin.


Yiwen menautkan ke dua alisnya, “Baju apa?” tanya Yiwen.


“Kamu mandi dulu saja, setelah itu nanti malam kamu pakai,


atau kamu mau pakai itu setiap waktu, biar aku tambah tergoda.”


“Yiwen mencubit hidung Lian yin, dan beranjak berdiri.


“Baiklah!!”


“kamu juga cepat mandi nanti,” gumam Yiwen.


``````````


Di sisi lain Grace dan Changmin hanya berdua di kamarnya,


tanpa saling bicara lagi, dan hanya fokus dengan laptopnya masing-masing.


Kruukkkk...


Grace seketika kikuk, mendengara bunyi perutnya, ia mengusap


perutnya, yang terasa sangat lapar, sembari melirik ke arah Changmin, berharap


jika dia membawakan makanan untuk dirinya.


“Bilang saja kalau kamu lapar!” sindir Changmin, tanpa


mentap ke arah Grace.


Grace, menari sudut bibirnya, dan kembali lagi fokus dengan


laptopnya. Ia taidak mau berharap dapat makanan lagi, lagian ia tidak bisa


masak sendiri, mau turun juga malas, sambu tunggu pelayan datang, ia


melanjutkan tugasnya lagi.


Lebih baik, sekarang aku fokus saja, dari pada aku minta


padanya. Ngeselin, aku rasanya mau jentok kepalanya.


“Kalau lapar bilang, aku akan ambilkan maanan buat kamu! Tapi


kalau kamu gak mau ya, sudah. Aku juga gak akan ambilkan, lebih baik aku


istirahat seksarang, cepek!” celoteh Changmin, yang mulai menutup laptopnya,


dan beranjak menuju ke ranjang. Ia membarngkan tubuhnya, merentangkan ke dua


tanganya, merenggangkan otot yang terasa sangat kaku, lagian beberapa hari ini


Lian yin tidak tidur sama sekali, ia seharain terus bekekerja dan bekerja, tanpa


kenal lelah.


Grace menggerakkan kepelanya, mentap tajam Changmin, yang


seenaknya tidur di ranjangnya, ia bangkit dari duduknya, dengan langakh penuh

__ADS_1


dengan kekesalan, Grace, menarik kaki Changmin.


“Turun!! Jangan tidur di ranjang, aku!!” decak Grace kesal.


“Memangnya kenapa? Apa kamu mau tidur di samping aku?” goda


Changmin, membuka matanya, beranjak duduk mentap dekat wajah Grace di


hadapannya.


Ia mengulurkan telunjuk tanganya di kening Grace, dan


mendorongnya pelan. “Jangan terlalu sibuk, kamu juga harus butuh istiraha.


Lagian otak tidak bisa di paksa setiap hari bekerja, dia juga butuh istrahat


agar lebih tenang lagi, dalam berpikir.” Auca Changmin sok bijak.


“Baik, aku akan istirahat, jika kamu mau pergi dari sini. Bagaimana


aku bisa tidur jaika kamu masih ada d sini. Lagian aku juga gak mau ada orang


yang mengganggu aku tidur.”


“Kita hanya berdua di sini, kenapa gak tidur bersama saja,”


goda Changmin, mencubit pipi Grace.


Seketika Grace melotot tajam dengan tangan mengepal sudah


siap untu melemparkan amarah pada Changmin. “Shiitt., kamu !! baiklah, kalau


kamu mauntidur di sini, akau akan tidur di sofa, bye.” Decak kesal Grace, ia


mengambis bantal di ranjang dan segera menuju ke sofa, tanpa perdulikan


Changmin lagi.


Dia marah padaku,


padahal aku hanya bercanda, kenapa dia sealkau menagnggapnya aku serius.  Emm.. biarkan saja, aku mau tidur.


Grace menatap tajam, Cangmin yang mulai berbaring lagi di


rnjangnya, tanpa rasa bersalah sudah mengambil tempat tidurnya. “Terserah!!”


teriak Grace kesal. Ia mulai membaringkan tubuhnya, perlahan mencoba untuk


menutup matanya.


``````


“Kenapa Yiwen lama sekali?” gerutu Lian yin, kesal, dari


tadi ia menunggu Yiwen, sudha hampir setenagha jam dia belum juga keluar dari


dalam kamar mandi.


Lian yin menghantakan kakinya kesal.


Brakk... Brakk...


“Yiwen, apa kamu tidur/” teriak Lian yin.


“Apa syang?”


“cepetan, aku mau ke kamar mandi sekarang?’


“Buka saja, memangnya kamu mau apa, kalau mandi nanti saja.”


“Aku mau baung ar kecil,” ucap Lian yin, yang lansgung


menbuka pintu kamar mandi , yang memang tidak di kunci oleh Yiwen.


“kenapa kamu gak bilang dari tadi, jika pintu kamar mandi


tidak di kunci?’


“Laian kamu juga gak tanya, kenapa juga aku harus bilang.”


Lian yin hanya diam, dan muai buang air kecil, Yiwen


meskipun bisa melihatnya, ia tidak tertarik melihatnya. Ia memejamkan matanya


lag, menyandarkan kepalanya di atas bathup, menikmati mandi air hangat


membuatnya sangat rileks.


“Eh,... dia tidur lagi, dia gak tertarik sama sekali


melihatku,” decak Lian yin dnegan mata tertuju ada tubuh di depannya.


“Yiwen, sekalian mandi bersama ya?” tanya Lian yin, yang


lansung melepas semua bajunya dan berendam bersaa yanpa persetujua dari Yiwen.

__ADS_1


“Tersera!! Tapi jangan gangu aku, aku mau tenang dulu.”


“Tapi aku gak mau,” Lian yin memegang ke dua dada Yiwen,


seketika membuat gadis itu membuka matanya terkejut, ia menarik tubuhnya ke


belakang, duduk tegap menatap Lian yin.


“Yin, jangans ekarang!!”


“Trrus kapan syang?” tanya Lian yin, yang mulai mengecup


bibir Yiwen dengan ganasnya, tanpa memberikan celah Yiwen untuk menolak, dan


berbidcara lagi.


Yiwen berusaha untuk emndorong tubuh Lian yin, namun Lian


yin semakin bertindak Liar, ia menciuimi leher Yiwen hingga turun ke bawah,


membuatnya tak bisa menahan gairahnya.


“Syang sudah.. emm..”


“Diam dan nikmati saja syang, lagian ini akan jadi


perpisahan sementara kita. Selama satu bulan ke depan kita gak bisa seperti ini


lagi syang.”


“tapi...”


Belum sempat mengucapkan penolakan, jemari tangan Lian yin,


seakan menerkam masuk dalam daerah intinya, membuatnya mengeliat menahan  desahan yang ingin sekali keluar dari


bibinya.


“Syang... Pelan-pelan,” ucap Yiwen, memegang lengan Lian


yin. Menikmati permaina tangan Lian yin yang membautnay semaiin bergairah.


“Aku ingin membuat kamu ketagihan, jika kamu sudah ingin,


katakan aku akan angkat kamuke ranjang, kita main di atas ranjang syang.” Ucap Lian


yin.


Yiwen memeluk kepela Lian yin, mengacak-acak rambutnya. Lian


yin , menempelkan kepalanya adi dada Yiwen, dengan salah satu tanganya bermain.


“Jika kamu pergi, aku tidak mau jika ada seseorang ang


memegangkamu, kamu harus bisa melindungi diri kamu.”


“Iya pasti syang, sekarang aku mau keluar, sudah lama juga


beredam, sekarang aku gak ingin berendam lagi,” ucap Yiwen kesal.


“Baiklah, keluarlah, aku mau mandi.” Ucap Lian yin.


“Kamu mau makan apa?” tanya Yiwen, beranjak dari bathup,


menarik handuk di sampingnya, untuk membalut tubuhnya.


“Makan apa saja syang,” ucap Lian yin.


“Baiklah, kalau begitu.” Yiwen, menunjukkan badannya, mengecup


lembut kening Lian yin


“makasih, ya. Aku syang banget sama kamu syang.” Ucap Yiwen,


melangkahkan kakinya pergi meningglakan Lian yin sendiri.


Yiwen berggas memakai baju yang sudah ia siapkan


sebelumnya. Kemudian berjalan menuju ke dapur, ia terkejut saat melihat sebuah


surat tertulis menempel di meja dapur.


Yiwen menariknya, membaca isi surat itu.


“Maaf, aku tidak bisa membantu kamu sekarang, syangku. Aku


akan datang nanti malam. Jadi kalian berdua saja di dalam, aku tidak ingin


menganggu kalian dulu. Ayah masih banyak tugas yang harus aku lakukan.” Wo Jia.


Yiwen meletakkan kertas itu di meja, mentap ke depan. Dari tadi


ia tidak tahu jika ayahnya itu pulang.


“kenapa ayah selalu pulang di saat aku tidak ada di luar,

__ADS_1


apa ya memang tidak ingin aku tahu jika dia pulang.” Gerutu Yiwen. Ia menarik


napasnya panjang dan bergegas membuat roti panggang untuk Lian yin.


__ADS_2