
"Aku juga gak mau kalau kalau kamu bertengkar dengan Lian yin nantinya. Kalian harus bicara baik-baik ya. Semoga saja Lian yin bisa berubah pikiran, memang aku gak bisa berhubungan dengan hal teknologi IT, aku hanya paham soal senjata" ucap Mei, merendahkan dirinya. Dia memang ahli dalam berbagai bidang tapi yang paling ia tidak tahu sama sekali yaitu bidang IT.
Yiwen menepuk pundak Mei. Mencoba menyakinkan dirinya. Dan menguatkan hatinya sekarang.
"Semoga saja ya aku berharap Lian yin mau nurut apa yang aku katakan. Sekarang kamu jangan nangis terus. Kalau kamu nangis, aku juga yang bingung. Sekarang lebih baik kita tenangin diri dulu di sini bersama taman ini. Lebih nyaman pikiran kita di sini" ucap Yiwen, merasakan bau wangi bunga yang menyeruak masuk dalam penciumannya.
"Iya lebih nyaman di sini. Biarkan mereka sesuka mereka. Nanti kalau sidah bosan pasti akan mencari kita" ucap Mei.
"Iya, kita lihat saja nanti" ucap Yiwen. "Para laki-laki itu pasti bingung jika kita menghilang" lanjutnya.
"Saat ini Grace mungkin bisa enak, banyak yang perduli dengannya. Tapi aku juga gak bisa nyalahin dia, karena memang dialah yang menyelamatkan Lian yin. Dia rela menukar nyawanya sendiri demi orang lain yang ia suka. Dam aku juga sempat marah dengan lian yin. Tapi apa gunanya aku marah, aku gak bisa jaga Lian yin. Saat itu yang bekorban demi dia hanyalah Grace. " ucap Yiwen, menundukkan kepalanya, ia merasa sangat sedih saat menhingat kejadian itu. Saat di mana ia tidak bisa apa-apa dan hanya bisa berlari dari kenyataan. Ia tidak bisa terima jika wanita Lain yang menyelamatkan suaminya.
"Yiwen, tapi meski dia menyelamatkan suami kamu, tapi suami kamu sangat syang sama kamu, dia gak pernah melirik wanita lian selain kamu. Gak seperti Changmin yang memang selalu tak bisa lepas dari wanita." Gumam Mei, mencoba menahan kesedihan hatinya.
"Iya, mungkin saat ini perasaan kita sama. Kita sama-sama pwrnah cemburu pada wanita yang sama. Dan kita pernah salah paham dengan wanita yang sama" gumam Yiwen, mengkat kepalanya, menoleh ke arah Mei. "Dan sekarang yangbada dalam kegundahan hati kamu hanyalah, sebuah cemnuru yang semestinya gak perlu. Dan jika kalian sudah salingbsalah paham, gak bisa ngertiin perasaan masing-masing. Maka hubungan kalian sama saja gak ada gunanya" gumam Yiwen.
"Cinta belum ada ikatan itu ibarat pasir, kita menggenggam erat pasir itu perlahan juga akn jatuh, hanya menyisakan tumpukan kecil pasir di tengah telapak tangan kita. Dan cinta jika terus di kekang juga akan menjadi sebuah sisa kenangan yang entah bisa terlupaka atau tidak" gumam Mei.
"Sekarang kamu sudah paham, jadi aku gak perlu jelaskan lagi. Kamu harus selalu dukung Changmin, apapun yang terjadi kamu harus bertahan. Jangan mudah menyerah. Jangan seperti pasir." Gumam Yiwen.
"Iya, aku sekarang paham, makasih Yiwen kamu sellau ada buat aku. Di saat seperti ini saja Changmin tidak mengejarku. Tapi akunyakin dia pasti juga khawatir dengan aku. Aku yakin jika dia masih ada cinta dalam hatinya untukku" gumam Mei, pernuh percaya diri.
"Iya, kamu harus pertahanin dia jangan sampai lepas" ucap Yiwen, memeluk tubuh Mei erat, mencoba menguatkan hati Mei yang rapuh.
~
Lian yin yang selesai berbincang dengan Lay di ruang tamu. Ia pwnasaran dengan kondisi Grcae saat ini. Dengan terpaksa saat Yiwen tidak ada ia pergi bertemu dengan Grace, dia juga bilang jika ingin bicara sesuatu dengannya.
Di temani Lay, ia berjalan menuju ke kamar Grace.
Ia berjalan masuk ke dalam ruangan kamar Grace yang dulumya bekas kamar Yiwen pertama kali masuk ke rumah itu. Ia sekaligus menjenguk dia, dan berbicara tentang suatu hal penting dengannya.
"Yin" ucap Changmin, yang terkejut saat Lian yin dan Lay tiba-tiba datang.
Changmin masih sibuk menyuapi Grace. "Aku udah kenyang" ucap Grace pada Changmin.
"Kamu minum ibat dulu" gumam Changmin yang segera mengambilkan obat Grace.
"Grace aku ingin bicara sama kamu" ucap Lian yin yang berdiri di samping ranjang Grace.
__ADS_1
"Bicaralah, kamu mau bicara apa?" Tanya Grace yang baru meneguk obatnya.
"Apa kamu mau kerja sama dengan aku?" Tanya Lian yin.
"Aku mau, tapi aku hanya bisa bwrbaring selama beberapa bulan ini" gumam Grace.
"Itu gak masalah" ucap Lian yin. "Grace kalian bertiga akan kerja sama, tapi aku harap jika kamu tidak terlalu kuat untik berdiri. Kamu tetap tidur saja di ranjang. Jangan bergerak" lanjut Lian yin.
"Baiklah, semua akan berjalan dengan sempurna nantinya" gumam Grace. "Oya, di mana istri kamu? Apa Mei masih sedih. Ini semua salah aku, aku di sini pengganggu hubungan kalian." Ucap grace menundukkan kepalanya, ia teringat saat Mei menangis dan pergi dari kamarnya.
"Kamu gak ganggu hubungan siapapun, kita di sini kerja sama berdua. Tidak ada yang saling ganggu di sini" ucap Changmin memegang pundak Grace.
"Benar apa yang di katakan Changmin, jadi kanu jangan pernah berpikiran seperti itu" ucap Lian yin.
"Iya, tapi mereka, mereka pasti sedih Yin. Sama seperti Yiwen yang pernah salah paham dengan aku dulu" ucap Grace.
"Aku yakin mereka marah tidak akan lama. Kita gak ada perasaan sama sekali, hanya murni kerja sama. Hanya mereka saja yang terlalu cemburu." Gumam Lian yin.
"Tapi apakah kamu yakin?" Tanya Grace yang masih tak percaya.
"Aku yakin Grace, nanti mereka juga datang sendiri ke sini" gumam Lian yin.
"Iya dia hanya cemburu sementara, tidak memikirkan apa kedepannya. Tapi hanya memikirkan perasaannya." Saut Lay.
"Baiklah, aku percaya dengan kalian. Tapi yang aku bingung sekarang, kenapa kamu mau kerja sama dengan aku. Dan kenapa kamu percaya dengan aku begitu mudah. Apa kalian gak takut jika aku mata-mata yang di suruh ayah aku. Atau aku akan mencelakai kalian" ucap Grace, mencoba untuk duduk bersandar di ranjangnya. Dengan sigap Changmin membantunya untuk duduk. Sejak tadi ia hanya bisa berbaring, karena rasa nyeri perutnya yang tiba-tiba menjalar ke tubuhnya. Untungbsaja dengan sigap Changmin segera menyuapinya dan mengambilkan obat untuknya.
"Aku sudah tahu kamu, kalau kamu ingin membunuhku. Maka gak mungkin kamu rela menembakkan diri kamu sendiri untuk menyelamatkanku. Padahal kamu sendiri tahu peluru apa yang di gunakan penembak jitu itu. Itu sangat berbahaya. Dan kamu rela melindungi aku dan Yiwen di depam ayah kamu sendiri. Dan kamu juga mau mengungkapkan semua kebusikan Lyli dan ayah kamu. Bahkan kamu juga berani menentang ayah kamu" Gumam Lian yin.
"Kalau masalah itu, mata-mata juga bisa menyamar untuk bisa melindungi kalian. Dan bahkan dia juga sangat ahli dalam bidang berakting seperti itu. Makanya kalian harus lebih hati-hati. Siapa saja bisa jadi mata-mata, karena memang manis di mulut tapi lain di hati." Ucap Grace, Lay dan Lian yin saling memandang, ia tahu jika Mei mata-mata.
"Benar apa kata kamu, memang orang seperti itu harus di waspadai. " ucap Lian yin.
"Ya sudah kalau begiyu kamu iatirhata dulu saja, aku mau bicara dengan Changmin dan Lay nanti mereka yang akan menjaga kamu" ucap Lian yin.
"Baiklah, tapi boleh minta tolong ambilkan ponsel aku" ucap Grace. Dengan segera Lay yang mengambilkan ponselnya di meja.
"Ini, kamu sekarang jaga diri kamu sebentar" gumam Lay. "Ayo yin kita keluar" lanjutnya, ia masih tetap sama jutek dan dingin.
Mereka segera keluar dan menuju ke ruangan kerja Lian yin. Duduk di sofa dengan pandangan saling menatap serius.
__ADS_1
"Apa yang ingin kalian bicarakan?" Tanya Changmin.
"Gimana kalau kalian ikut aku, aku ingin kalian juga pergi ke suatu tempat. Dan Grace juga di rawat di sana. Kamu Changmin jaga rumah ini, aku mau nantinya kamu kalau lagi butuh Grace kamu ke sana, tapi jangan ajak Mei" ucap Lia yin.
"Baiklah. Tapi kenapa harus pindah, apa gak lebih baik di sini. Semua akan jalan di sini. Dan kalau aku ke rumah Yiwen." Ucap Changmin. "Gimana kalau Mei yang ikut kalian." Lanjutnya
"Jangan! Dia di sini saja" ucap Lian yin.
Changmin hanya diam, ia gak munhkin meninggalkan Mei sendiri di sini. Tapi apa yang di katakan Lian yin tak bisa ia tolak.
"Kenapa kamu diam?" Tanya Lay pada Changmin yang tiba-tiba menunduk diam.
"Aku tahu kamu gak mungkin meninggalkan Grace di sini. Lebih baik aku akan pikirkan cara lain" gumam Lian yin, yang paham dengan apa yang di pikiran Changmin saat ini.
"Iya, makasih Yin. Kamu tahu Mei seperti apa, dia gampang sekali cemburu" gumam Changmin.
"Baiklah, bisa di pikirkan ulang" ucap Lian yin.
Mereka belom selesai berdebat dengat apa yang tak seharusnya di perdebatkan. Bahkan semuanya berkalan dengan sempurna jika Changmin tetap di rumah. Dan Lay yang bingung mau bicara apa ia hanya bisa diam, melihat pembicaraan mereka.
"Apa ada yang perlu di biacarakan dengan Yiwen" ucap Lian yin, bertanya pada Changmin dan Lay di depanya.
"Aku harap begitu, karena itu rumahnya juga. Gak mau jika Yiwen salah paham dengan Grace nantinya." Ucap Lay.
Lian yin hanya diam. Mata Lian yin tertuju pada jam dinding di depannya. Sudah menunjukan pukul 9 pagi. Dan hari ini ia juga ada janji dengan ayah Yiwen. Sepertinya ia jarus segera kembali.
"Besok saja aku akan kesini lagi. Sekarang aku ada urusan" ucap Lian yin buru-buru.
"Urusan apa, apa itu lebih penting dari pada ini" tanya Chanhmin.
"Maaf aku sekarang belum bisa cerita, Ini juga lebih penting dan sangat penting kalau tidak, aku bisa di pecat jadi menantu nanti" ucap Lian yin. "Aku pergi dulu.. bye.. " teriak Lian yin yang segera keluar dari kamarnya.
Lay dan Changmin hanya diam saling memandang satu sama lain. Ia baru kali ini melihat sifat konyol Lian yin.
Lian yin kembali, dan membuka kembali pintu ruang kerjanya "Aku lupa, nanti kalian berdua tetap rawat Grace, dan bicarakan tugas lewat ponsel saja" gumam Lian Yin yang langsung menutup kembali pintunya.
Ia berlari mrnuruni anak tangga mencari Yiwen yang entah pergi kemana. "Bi di mama Yiwen?" Tanya Lian yin.
"Non Yiwen di luar Tuan, dia masih di duduk di taman" ucap pembantunya.
__ADS_1
"Ya sudah bi makasih" ucap Lian yin yang lansung pergi menuju ke taman. Ia tidak mau jika telat sampai ke rumah, ayah Yiwen akan menghukumnya. Atau bisa jadi di pecat jadi menantu. Pikiran itu kini selalu membayangi Lian yin.
"Ahh.. tidak. Tidak aku pasti sampai di sana tepat waktu" gerutu Lian yin.