Terjebak Cinta Dunia Mafia (Dalam Tahap Revisi Nama)

Terjebak Cinta Dunia Mafia (Dalam Tahap Revisi Nama)
Manja


__ADS_3

Sepertinya Lian yin merasa sendiri, di balik wajahnya yang ceria dan tegas, tetapi dia sepertinya, saat merasa sendiri, bahkan raut wajahnya terlihat sangat kesepian. Seperti orang yang merindukan kasih sayang dari seseorang.


"Syang kamu gak masuk ke dalam" Yiwen berjalan menghampiri Lian yin yang duduk sendiri di pinggir pantai melihat pemandangan bintang di malam hari, dan desiran ombak menerpa ujung kakinya.


"Iya bentar lagi" ucap Lian Yin.


"Emngnya kamu lagi mikirin apa?" tanya Yiwen duduk si samping lian yin. 


"Lihatlah bintang di sana"


Yiwen menyandarkan kepalanya di pundak Lian yin. Menatap bintang yang bertaburan di langit. Namun ada yang sendiri tanpa ada teman di kelilingnya.


"Apa itu yang kamu tunjuk" ucap Yiwen.


"Iya yang sendiri itu, aku ingin hidup seperti itu tanpa beban pikiran sama sekali. Dan aku ingin hidup bebas tanpa musuh dan pergi ke suatu tempat untuk kita berdua tinggal. Dan lepas dari dunia mafia yang kejam dan penuh penderitaan ini. Karena aku gak mau anak kita nanti akan jadi imbasnya karena terlalu banyak musuh yang mengintaiku serta mengancam keselamatan anak kita nantinya" ucap Lian yin.


"Emangnya kita mau punya anak" tanya Yiwen menatap wajah Lian yin.


"Emang kamu gak mau punya anak?" tanya Lian yin.


"Mau sih, tapi gak sekarang tunggu sampai ingatan aku pulih. Karena aku masih banyak hal yang perlu aku ingat." ucap Yiwen menyandarkan kebali kepalanya di bahu Lian yin.


"Kenapa? emangnya kamu gak percaya denganku, apa menurut kamu aku sama dengan lee yang memanfaatkanmu dan menyakitmu. Aku hanya ingin kamu di sisiku, dan hidup bahagia bersama anak-naka kita nantinya.


Yiwen terdiam, ia bingung harus berkata apa lagi, padahal ia hanya ingin mengucapkan sesuatu yang penting padanya tapi tidak dulu. Yiwen merasa dirinya adalah orang yang menyimpan banyak rahasia di masa lampau. Namun belum bisa membongkarnya. dans ekarang ia hilang ingatan, membuat dia merasa kesulitan untuk mencari tahu semuanya. Dan hanya ingat sedikut tentang bentuk rumahnya yang selalu hadir di mimpinya.


"Kamu nanti juga akan tahu jawabannya" ucapnya singkat.


"Iya sudah, di mana Ley sekarang?" tanya Lian yin pada Yiwen.


"Ley di dalam sibuk dengan ponselnya" ucap Yiwen, merengkuh tangan kiri Lian yin erat.


"Apa yang dia lakukan, tumben banget sih dia sibuk mainan ponselnya" gumam Lian yin penasaran.


"Entahlah, mungkin dia lagi jatuh cinta" sambung Yiwen.


"Mungkin, Kamu kemana lagi setelah ini. Mau jalan-jalan keluar atau bermalam di pantai ini duduk menikmati desiran ombak ringan yang sudah membasai kaki mereka.


"Jalan-jalan, sekalian tu ajak Lay biar dia bisa merasakan udara luar. Kasihan juga dia entar." ucap Yiwen.


"Baiklah, tapi bagaimana dengan kamu. kalau aku lebih berbicara dengan Ley dari pada kamu." tanya Lian yin.


"Ya aku pergi, cari ketenangan sendiri" ucap Yiwen singkat.

__ADS_1


"Kenapa kamu jadi ngambek gitu, aku mau memberimu sesuatu" ucap Lian yin.


"Sesuatu apa, sebuah kejutan spesial kah, atau apa ini, ayo cepat penasaran banget nih aku." gumam Yiwen, sudah tak sabar menantikan apa yang ia Lian yin berikan.


"Kamu tutup mata dulu" ucap Lian yin.


"Baiklah, tapi cepetan, ya" ucap Yiwen.


"Baiklah" Lian Yin segera mengeluarkan sebuah kotak kecil.


"Apa ini" tanya Yiwen penasaran, ia segera meraih kotak itu.


"Buka saja" ucap Lian yin.


Yiwen terlihat sangat antusias dan mulai membuka kotak kecil itu. Sebuah Kalung yang begitu indah. Matanya langsung berbinar menatap kalung cantik itu.


"Ini untukku?" tanya Yiwen memastikan.


"Iya memang untuk siapa lagi kalau bukan untuk kamu" ucap Lian yin. "Sini aku pakaikan" ucap Lian yin meraih kalung itu di tangan Yiwen.


Ia segera memakaikan kaluang itu melingkar di leher Yiwen, "Cocok gak untukku!" tanya Yiwen memegangi kalung itu.


"Kamu cantik," ucap Yiwen.


"Jangan bohong jujur saja napa"


"Kamu jangan tinggalkan aku lagi" ucap Lian yin memeluk tubuh mungil Yiwen.


Yiwen hanya diam, rasa ragu dan curiga berubah jadi rasa nyaman berada dalam dekapan hangat Lian yin.


"Yin.." panggil Yiwen lembut, melepaskan peluakan Lian yin dari tubuhnya.


"Iya, ada apa? apa ada sesuatu yang menganggu pikiranmu" tanya Lian yin.


"Kamu mau gak cerita padaku apa yang kamu rasakan sekarang. Entah kenapa aku merasa kamu sepalu kesepian, di balik tagasnya keputusanmu dalam bertindak. Kamu menyembunyikan wajah kesepian itu" tanya Yiwen.


"Ternyata kamu tahu juga,aku merasa hidup aku selalu sendiri, saat kedua orang tuaku tidak. Dan termasuk dengan kakek aku, kakek aku meninggal di saat aku lagi butuh kasih sayang dia. Setelah orang tuaku meninggal hanya kakek yang merawat aku, tapi hanya beberapa hari setelah orang tuaku. kakek aku juga meninggal. Aku bahkan tidak tahu mereka meninggal kenapa. Doktet tak menjelaskan pada ku. Dulu aku masih di pengasingan dan aku tidak tahu gimana krinologinya." ucap Lian yin.


"Apa perlu aku bantu" ucap Yiwen.


"Emangnya kamu bisa?" tanya Lian yin penuh keraguan di benaknya. Bukannya ia tak percaya dengan Yiwen, tapi ia belum yakin dia bisa melakukannya, karena itu kejadian sangat lama hampir 15 tahun yang lalu. Apa bisa di ungkap lagi.


"Kamu yakin, kejadian itu sudah puluhan tahun, apa kamu bisa menemukan buktinya. Lagian semua pasti hilang tanpa bekas."

__ADS_1


"Aku yakin bisa, tidak ada hal yang tidak mungakin. Meski puluhan tahun ratusan tahun pasti akan meninggalkan bekas di sana. Jika memang itu pembunuhan, si pembunuh itu pasti tidak akan jauh dari keluarga kamu. Besok saat kita pulang, tunjukan rumah kamu, aku akan memeriksanya." ucap Yiwen.


"Baiklah, besok setelah sampai di kita utara, aku akan membawamu ke rumahku, Rumah itu sekarnag jarang banget di huni. Ya yang tinggal di sina hanya Ley dan Lie Wei dan di situ tempat penjara bawah tanahku."


"Baiklah, oya soal kalung ini makasih, ya" ucap Yiwen mengecup lembut pipi Lian yin, dengan sneyum bahagianya.


"Iya sama-sama."


"Ayo masuk sudah malam, apa kamu gak tidur" tanya Lian yin.


"Gendong aku," ucap Yiwen manja.


"Baiklah," Lian yin duduk jongkok membelakangi Yiwen. "Ayo naik," ucap Lian yin.


Yiwen meloncat naik merengkuh leher Lian yin. "Jangan mengeluh kalau badan aku berat" ucap Yiwen.


"Kamu hanya segini bagi aku sangat gampang sekali angkat beban kamu" ucap Lian yin, segera beranjak berdiri, meski terlihat agak kesusahan.


"Tu kan berat" goda Yiwen.


"Karena kamu udah bikin aku naik tangga gandong kamu nanti, aku mau. Minta sesuatu padamu?" ucap Lian yin.


"Minta apa?" Yiwen mengerutkan keningnya.


"Kamu juga pasti akan tahu" tanya Lian yin.


"Apaan sih bikin penasaran saja" tanya Yiwen.


"Kamu nanti juga tahu,yang penting kamu nurut dan bilang iya" goda Lian yin .


"Eh.. yin, aku tidur di mana?" tanya Ley beranjak dari sofa.


"Kamu tidur sebelah ruang tamu ada kamar khusus untuk tamu" ucap Lian yin.


"Baiklah, Eh.. tapi apa ada kamar mandi dalam" tanya Ley, membuat Lian yin menghentikan langkahnya lagi.


"Ada coba lihat sendiri saja" ucap Lian yin kesal.


Yiwen memegang kepala Lian yin nengacak-acak rambutmya hingga berantakan.


"Ayo jalan" ucap Yiwen.


"Iya sayang ini aku jalan, tapi kamu saat naik tangga terasa berat ya." gumam Lian yin.

__ADS_1


"Kan aku sudha bilang, jika aku utu berat" gumam Yiwen.


"Tapi gak apa-apa asal kamu senang apapun aku lakukan" gumam Lian yin, membuat pipi Yiwen merah merona tersipu dengan ucapan Lian yin.


__ADS_2